Berita

Demo warga pasca ledakan Beirut/Net

Dunia

Lebanon, Negara Dengan Warga Yang Bebas Berdemo

SABTU, 08 AGUSTUS 2020 | 08:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Massa berkumpul di depan gedung parlemen di kota Beirut sejak Kamis (6/8) malam. Hingga Jumat, demo terus berkobar. Mereka menyerukan agar pemerintahan Lebanon saat ini untuk mundur. Pemerintah dituding gagal, peristiwa ledakan dan krisis ekonomi Lebanon memperburuk situasi negara itu.

Aksi unjuk rasa itu juga dipicu oleh pengunduran diri duta besar Lebanon untuk Yordania yang menyalahkan pemerintah dengan mengatakan 'kelalaian total' oleh otoritas negara itu menandakan perlunya perubahan kepemimpinan.

Sepanjang jalan menuju gedung parlemen terlihat mengerikan, puing-puing dari ledakan yang hari Selasa lalu, masih mengotori seluruh area unjuk rasa, seperti dikutip dari AFP, Jumat (7/8).


Luka-luka dan air mata para korban masih begitu terasa, sama sekali belum pergi apalagi sembuh. Namun, puluhan aktivis anti pemerintah telah menggaungkan kemarahannya.

Duta Besar Indonesia untuk Libanon, Hajriyanto Y. Tohari mengatakan, demo di Lebanon itu selalu ada. Bahkan sudah jadi bagian dari keseharian warga Lebanon.

"Kebebasan berpolitik di Lebanon setara dengan di negara-negara Eropa," kata Hajriyanto dalam acara RMOL World View, Jumat (7/8) malam.

"Kebebasan berpendapat pun dijamin negara. Tidak ada pembatasan pada media massa dan demonstrasi. Mereka bisa berdemo kapan saja, bahkan malam hingga dini hari."  

Hajriyanto juga menyoroti demonstrasi yang terjadi pasca ledakan, di saat warga Beirut masih dalam suasana duka.

"Ya, begitu. Mereka bebas kapan saja mau demo. Yang menghentikan demo di sini hanya musim dingin. Tapi, begitu hangat lagi, mereka demo lagi,” kata Hajriyanto.

Aksi pasca ledakan itu terpaksa dibubarkan aparat karena kondisi sudah semakin mengkhawatirkan.  Para pengunjuk rasa telah menyulut api. Mereka merusak toko-toko dan melemparkan batu ke pasukan keamanan, yang kemudian menanggapinya dengan gas air mata.

Aktivis telah menyerukan demonstrasi anti-pemerintah besar-besaran pada hari Sabtu - sebuah acara yang mereka beri judul "gantung mereka di tiang gantungan."

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya