Berita

Ekonom Dradjad Wibowo/Net

Politik

Beda Dengan Singapura Dan Thailand, Indonesia Masih Punya Peluang Terbebas Dari Resesi

SABTU, 18 JULI 2020 | 03:42 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Sejumlah pakar ekonomi internasional memprediksi Indonesia bakal mengalami resesi di kuartal ketiga dalam hantaman pandemik Covid-19.

Begitu yang dikatakan pakar ekonomi senior, Dradjad H Wibowo ketika berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (17/7)

"Jadi, kalau melihat situasi itu, di kuartal ketiga memang risiko resesi bagi Indonesia itu semakin tinggi. Kesimpulannya seperti itu," kata Dradjad.


Menurutnya, mimpi buruk resesi bakal terjadi jika Indonesia tidak mampu mempertahankan konsumsi rumah tangga atau konsumsi domestiknya.

"Kuncinya kita harus pertahankan konsumsi rumah tangga. Kalau pemerintah tidak bisa menjaga konsumsi rumah tangga, ya peluangnya itu sudah sangat tinggi (terjadi resesi)," imbuhnya.

"Apakah kita bisa hindarkan? Sangat bisa. Beda dengan Singapura dan Thailand, mereka konsumsi rumah tangganya tidak sebesar Indonesia," ucapnya.

Oleh karena itu, Dradjad yakin bahwa Indonesia masih bisa bangkit bila pemerintah mampu menjaga konsumsi dalam negeri, bahkan bukan tidak mungkin akan tumbuh positif di kuartal ketiga.

"Jadi, saya sebenarnya masih meyakini kita masih bisa tumbuh positif di kuartal ketiga," tutupnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya