Berita

Ilustrasi Buzzer/Net

Publika

BuzzeRp Menambah Beban Krisis

SABTU, 06 JUNI 2020 | 21:58 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

PRESIDEN Amerika umumnya adalah The Greatest Man.

Ford, Kennedy, Nixon, Bush, Eisenhower, adalah  satria Perang Dunia.

Rosevelt presiden empat periode karena dipercaya rakyat.


Memulihkan Amerika dari Great Depresion yang melanda dunia, dan dengan kaki lumpuh melawan Nazi dan Jepang.

Pak Harto suka tidak suka ialah pemimpin ASEAN yang sejajar Lee Kwan Yeuw & Mahathir Mohamad.

Anak desa Kemusuk yang mau belajar, yang bagaikan Don Corleone dalam The Godfather, atau semacam Semar dalam pewayangan.

Soekarno ialah “raksasa besar” yang mempersatukan Indonesia. Yang hatinya buat rakyat. Sehingga  cintanya kepada wong cilik berbalas ungkapan:

“Pejah Gesang Nderek Bung Karno”.

Waktu Soekarno dijatuhkan, Panglima KKO Mayjen Hartono berkata:

“Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO; Putih kata Bung Karno, putih kata KKO”. 

Perang saudara  hampir meletus.

Namun Sukarno berkata:

“Relakan aku tenggelam, asal jangan bangsaku dirobek Nekolim dan kaki tangannya...”.

Para pemimpin amanah di belakangnya adalah rakyat.  Rela dan ikhlas melakukan apa saja untuk membela, bahkan bertaruh nyawa.

Tetapi pemimpin boneka di belakangnya adalah para buzzeRp. Para buzzeRP kerjanya menghancurkan demokrasi, perbedaan pandangan, logika dan dialektika pemikiran dengan fitnah, pembunuhan karakter, menyerang pribadi dengan kata-kata kotor dan keji. Melemparkan tuduhan anti toleransi dan anti Pancasila, sebagai pemutarbalik fakta.

Kini kita hidup dalam alam rezim digital artificial, dimana boneka dapat naik ke dalam kekuasaan dengan menggunakan buzzeRp.

Digital artificial berisi narasi sesat, yang menjadikan penguasa dzalim dan bodoh sebagai nabi.

Krisis hari ini hendak diselesaikan dengan cara-cara buzzeRp, sama artinya dengan menambah beban krisis.

Bukan malah menyelesaikan tapi menyesatkan, karena tugas buzzeRp menutupi realitas yang sebenarnya terjadi.

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya