Berita

Kamp Pengungsi di Idlib, Suriah/Net

Dunia

Virus Corona Bisa Mengancam 100.000 Nyawa Di Kamp Pengungsi Suriah

JUMAT, 17 APRIL 2020 | 07:09 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Ratusan ribu warga Suriah ini telah selamat dari perang saudara yang melenyapkan kehidupan mereka selama sembilan tahun.  Mereka juga telah berhasil melewati serangan senjata dan bom yang menakutkan setiap harinya.

Kini, ratusan ribu pengungsi Suiah itu harus menghadapi ancaman yang lebih besar lagi. Sebuah ancaman yang bahkan tidak terlihat oleh mata; virus corona!

Ada sekitar 3 juta orang yang kini tinggal di Provinsi Idlib barat laut Suriah yang kini berjuang untuk bertahan hidup. Tidak hanya bertahan dari kelaparan dan ketakutan, tetapi juga dari pandemik yang melanda hampir seluruh dunia.


Dokter-dokter di sana menyerukan kepada dunia agar membantu meningkatkan upaya pencegahan penyebaran virus corona di wilayah ini.  
Jika tidak ada penanganan, wabah di Idlib ini bisa saja membunuh 100.000 orang di wilayah itu.

Provinsi ini adalah daerah terakhir yang dikuasai pemberontak di Suriah, dan sejak Desember tahun lalu, serangan udara Suriah dan Rusia telah memaksa hampir 1 juta warga sipil melarikan diri ke perbatasan Turki.

Ribuan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka dan sekarang tinggal di tempat penampungan sementara di kamp-kamp yang penuh sesak, di mana tidak ada kesempatan untuk mengkarantina diri dari penularan virus.

Aparat kesehatan telah melakukan tes Covid-19 terhadap 166 orang di Idlib pada Rabu lalu. Juga melakukan beberapa tes di kamp-kamp lainnya yang ramai. Hingga kini belum ditemukan kasus positif. Namun, Dr. Ihsan Eidy, yang bekerja di sana, mengatakan, jika ada satu saja yang terpapar makan virus itu akan menyebar dengan cepat di antara populasi pengungsi yang padat.

"Jika Anda menyarankan seseorang yang terinfeksi untuk mengisolasi dirinya di sebuah ruangan dan [katakanlah] tidak berhubungan dengan anggota keluarga lainnya, bagaimana ia bisa melakukan ini jika ia tinggal di satu tenda dengan 10 anggota keluarga? Tidak mungkin, "kata Eidy, melansir CBS News, Kamis (16/4).

Departemen Kesehatan Suriah telah mengkonfirmasi adanya 30 kasus positif virus corona dan dua angka kematian, per Kamis (16/4).

Sulit untuk menjaga jarak sosial di kamp pengungsian, bahkan standar kebersihan paling dasar untuk mencegah penyebaran virus adalah suatu tantangan.

Kamp-kamp pengungsian tidak memiliki air yang mengalir. Warga mendapatkan air dari tangki bersama. Sabun, dan tentu saja desinfektan, adalah suatu kemewahan bagi para pengungsi yang hampir tidak bisa mendapatkan makanan yang cukup.

Kelompok-kelompok bantuan lokal di Idlib memusatkan upaya mereka untuk mencoba menangkal potensi wabah virus corona di kamp-kamp.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjanjikan ada menyiapkan banyak fasilitas kesehatan untuk kamp-kamp di Idlib, namun pada kenyataannya hanya beberapa saja.

Pejabat setempat mengatakan, komunitas internasional lambat merespons situasi ini. WHO sendiri baru mengirimkan 5.000 tes Covid-19 provinsi tersebut, dan petugas kesehatan masih menunggu peralatan pelindung diri seperti masker dan sarung tangan.

"Kami membutuhkan tindakan bukan kata-kata. Kami membutuhkan ventilator, kami membutuhkan pusat-pusat ini yang dijanjikan WHO; mereka berjanji 298 pusat untuk mengisolasi orang. Mereka juga menjanjikan tiga ICU," kata Eidy kepada CBS News.     

Dia mencatat bahwa pandemi Covid-19 adalah tantangan yang bahkan negara-negara paling maju di dunia belum tentu bisa mengatasinya. Ia sangat realistis tentang kemampuan Idlib.   

"Amerika Serikat, negara yang kuat dalam bidang kedokteran, sains, militer, dalam semua ini, ternyata juga dapat mengatasinya," katanya. "Yang bisa kita lakukan adalah mencoba mencegah infeksi ini dan menanganinya jika itu terjadi.”

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya