Berita

alah satu jalan di Italia yang sepi setelah lockdown/Net

Dunia

COVID-19

Penelitian: Lockdown Stop Setelah Vaksin Virus Corona Ditemukan

SENIN, 13 APRIL 2020 | 23:30 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa lockdown atau penguncian nasional yang saat ini banyak dilakukan sejumlah negara dan wilayah di seluruh dunia untuk mengerem penularan virus corona atau Covid-19 tidak bisa dihentikan sampai vaksin virus corona ditemukan.

Penelitian itu dilakukan oleh sekelompok tim peneliti di Hong Kong. Hasil penelitian itu dimuat dalam jurnal medis The Lancet pekan kemarin.

Para peneliti mengingatkan, negara-negara yang ingin mencabut lockdown dan membiarkan warga kembali menjalankan kehidupan normal harus mempertahankan langkah-langkah pengendalian gerakan sampai vaksin virus corona ditemukan.


Kesimpulan tersebut dibuat setelah para peneliti tersebut mengatakan ada potensi gelombang kedua infeksi virus corona di China yang dapat meningkat secara eksponensial, jika pemerintah dan warga terlalu cepat puas dengan penanganan virus corona saat ini.

Penelitian itu sendiri dilakukan dengan menggunakan model yang didasarkan pada data reproduksi Covid-19 dari 10 provinsi di China dengan jumlah kasus terkonfirmasi tertinggi, serta risiko fatalitas kasus. Model yang dibuat didasarkan pada kasus tertingi 31 provinsi di negara tersebut untuk menentukan efek potensial langkah-langkah pencabutan sebagian status lockdown setelah gelombang pertama infeksi.

Di China sendiri, lockdown dan pembatasan ketat dalam kehidupan sehari-hari telah efektif dalam mengurangi jumlah infeksi virus corona.

Tetapi potensi gelombang kedua infeksi virus corona akan tiba ketika pemerintah China mulai mengangkat status lockdown secara bertahap.

"Sementara tindakan pengendalian ini tampaknya telah mengurangi jumlah infeksi ke tingkat yang sangat rendah, tanpa kekebalan terhadap Covid-19, kasus-kasus dapat dengan mudah muncul kembali. Karena bisnis, operasi pabrik, dan sekolah secara bertahap melanjutkan dan meningkatkan pencampuran sosial, khususnya mengingat meningkatnya risiko kasus impor dari luar negeri karena Covid-19 terus menyebar secara global," kata Profesor Joseph T Wu dari University of Hong Kong, yang ikut memimpin penelitian itu.

"Meskipun kebijakan kontrol seperti jarak fisik dan perubahan perilaku kemungkinan akan dipertahankan untuk beberapa waktu, secara proaktif menyeimbangkan antara melanjutkan kembali kegiatan ekonomi dan menjaga angka reproduksi (penularan virus corona) di bawah satu kemungkinan menjadi strategi terbaik sampai vaksin efektif tersedia secara luas," sambungnya.

Para peneliti mengatakan, temuan mereka sangat penting sebagai peringatan bagi negara-negara yang saat ini menjalankan tahap awal lockdown.

Di China sendiri, status lockdown diangkat secara bertahap di sejumlah wilayah sejak Februari lalu, termasuk di Hubei, wilayah yang paling parah dilanda wabah virus corona pada awal kemunculannya akhir tahun 2019 lalu.

Peneliti lain yang juga menjadi co-lead penulis dari penelitian tersebut, Dr Kathy Leung yang juga dari University of Hong Kong, mengatakan, potensi penularann virus corona masih sangat tinggi.

"Kami sangat menyadari bahwa ketika aktivitas ekonomi meningkat di seluruh China dalam beberapa minggu mendatang, infeksi lokal atau impor dapat menyebabkan kebangkitan transmisi," jelasnya.

Dalam penelitian yang sama, para peneliti mengungkapkan bahwa kapasitas perawatan kesehatan juga harus diprioritaskan oleh pemerintah setiap negara ketika melaksanakan intervensi.

"Sementara epidemi ini tumbuh secara eksponensial, sistem perawatan kesehatan akan menghadapi beban berat," kata anggota Komisi Kesehatan Kota Wuhan dalam menanggapi penelitian ini, Shunqing Xu dan Yuanyuan Li.

"Pemerintah harus bertindak dan bersiap segera untuk memastikan bahwa sistem perawatan kesehatan memiliki tenaga kerja, sumber daya, dan fasilitas yang memadai untuk meminimalkan risiko kematian Covid-19," tambahnya, seperti dimuat The Independent.

Meski begitu, pata peneliti yang menjalankan penelitian tersebut mengakui bahwa ada keterbatasan dalam penelitian mereka, termasuk perkiraan jumlah reproduksi berdasarkan jumlah kasus virus korona positif yang dilaporkan, dan bahwa waktu dan tanggal timbulnya gejala tidak tersedia untuk beberapa provinsi di China.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya