Berita

Asrama pekerja migran di Singapura/Net

Dunia

Asrama Jadi Sumber Infeksi Corona, Singapura Pindahkan Pekerja Migran Ke Hotel Terapung

SENIN, 13 APRIL 2020 | 16:48 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Singapura sedang mempersiapkan penginapan di atas kapal sebagai akomodasi bagi ratusan pekerja asing. Itu dilakukan seiring dengan meningkatnya jumlah infeksi di asrama-asrama pekerja migran.

Menurut pihak berwenang, pemerintah akan memindahkan beberapa penghuni asrama yang sehat ke lokasi lain, termasuk ke kamp militer, pusat pameran, blok perumahan umum yang kosong, hingga kapal atau yang disebut "hotel terapung".

Pasalnya, selama ini puluhan ribu pekerja migran, yang didominasi berasal dari Asia Selatan, tinggal di asrama-asrama pekerja yang sempir di Singapura. Itu juga yang menjadi faktor cepatnya penyebaran virus di asrama pekerja migran.


"Setiap fasilitas dapat menampung beberapa ratus penghuni dan dapat diatur secara tepat untuk mencapai jarak yang aman," kata Menteri Transportasi, Khaw Boon Wan pada Minggu (12/4) usai melakukan pengecekan kapal, seperti dimuat Reuters.

Nantinya, "hotel terapung" tersebut berlabuh di area terlarang di terminal belabuhan.

Menurut Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura, pihaknya juga telah bekerja sama dengan operator terminal PSA Singapura, unit pembangunan rig Keppel Corp, penyedia tongkang akomodasi terapung Bibby Maritime Ltd dan operator apartemen berlayanan The Ascott Ltd untuk membawa dan mengelola dua "hotel terapung".

Dalam unggahan Facebooknya, Khaw juga mengunggah foto-foto sebuah kabin dasar yang bersih dengan tiga tempat tidur yang ditutupi linen biru. Ia mengatakan bahwa penduduk akan dapat menggunakan dek selama satu jam setiap hari.

Makanan juga akan disiapkan di luar lokasi dan dikirimkan ke kabin untuk meminimalkan terjadinya pembauran. Sebuah fasilitas medis juga sedang didirikan di dekat "hotel terapung" tersebut.

Saat ini, Singapura melaporkan 233 kasus virus corona baru pada hari Minggu dengan total 2.532, delapan di antaranya telah meninggal.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya