Berita

Penyemprotan disinfektan/Net

Dunia

Jenderal Iran Sebut Ada Kemungkinan "Perang Biologis" Di Balik Pandemik Covid-19, Benarkah?

SENIN, 13 APRIL 2020 | 09:41 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Iran sedang berusaha untuk melihat adanya kemungkinan "perang biologis" di balik pandemik Covid-19 yang telah menginfeksi hampir semua negara di seluruh dunia.

Dikatakan oleh Kepala Departemen Kesehatan Jenderal Staf Angkatan Bersenjata, Brigadir Jenderal Hassan Araghizadeh, otoritas Iran sedang melakukan "studi komprehensif" atas kemungkinan adanya "perang biologis" di balik wabah virus corona baru.

"Setiap negara mencari masalah untuk melihat kemungkinan perang biologis di balik masalah ini," ujar Araghizadeh kepada Mehr News Agency pada Minggu (12/4).


"Pusat-pusat ilmiah Iran juga melakukan penelitian dalam hal ini, namun, keputusan yang pasti membutuhkan lebih banyak waktu dan usaha," lanjutnya seperti dimuat Sputnik.

Menurutnya, Angkatan Bersenjata Iran memiliki keterampilan dan peralatan yang cukup untuk mendeteksi setiap ancaman biologis dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam melawan "bioterorisme".

Araghizadeh menambahkan, Angkatan Bersenjata Iran saat ini juga mengambil bagian untuk memperlambat penyebaran virus melalui penyemprotan disinfektan di tempat-tempat umum seluruh negeri, serta mendedikaskan 70 persen kapasitas fasilitas medis militer untuk menerima pasien Covid-19.

"Kami juga berkomitmen untuk menyediakan sekitar 10.000 tempat tidur untuk pasien yang baru sembuh dari penyakit ini," tambahnya.

Iran sendiri adalah salah satu negara yang paling parah terdampak dan terburuk di Timur tengah.

Di tengah sanksi ekonomi yang dilayangkan terhadapnya, Iran bersusah payah berjuang untuk mengendalikan wabah.

Pada Minggu, otoritas kesehatan Iran mengonfirmasi adanya 117 kematian baru akibat Covid-19. Sehingga angka kematian di Iran saat ini menjadi 4.474.

Sementara itu, jumlah infeksi di Iran juga meningkat 1.675 kasus menjadi 71.686 kasus. Di mana sebanyak 34.465 orang dinyatakan telah pulih.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya