Berita

Zoom/Net

Dunia

Takut Pelanggan Kabur, Zoom Buru-buru Perketat Keamanan Privasinya

MINGGU, 12 APRIL 2020 | 06:20 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Beberapa waktu terakhir, aplikasi video konferensi Zoom tengah menjadi sorotan dengan segudang kontroversinya mengenai masalah keamanan dan privasi.

Mulai dari sekolah, perusahaan hingga negara membatasi dan melarang penggunaan Zoom yang sangat dibutuhkan sebagai alternatif komunikasi di tengah pandemik virus corona baru.

Larangan tersebut muncul setelah ada fenomena Zoombombing. Itu adalah ketika para pemakai berbondong-bondong menggunakan aplikasi tersebut sehingga memudahkan pembajakan dan serangan online, termasuk pelecehan para penggunanya.


Guna mengatasi hal tersebut, saat ini perusahaan milik Eric Yuan itu tengah berjuang untuk memperketat masalah keamanan dan privasi.

Rabu (8/4), Zoom mengumumkan pembentukan dewan tugas keamanan informasi dari perusahaan lain. Mereka juga merekrut Alex Stamos yang merupakan mantan kepala petugas keamanan Facebook sebagai penasihat dari luar.

"Kami fokus pada pelanggan perusahaan bisnis," kata Yuan seperti dimuat CNA.

“Namun, kita seharusnya memikirkan bagaimana jika beberapa pengguna akhirnya mulai menggunakan Zoom untuk acara-acara non-bisnis, mungkin untuk pertemuan keluarga, untuk pernikahan online. Risiko, penyalahgunaan, kami tidak pernah memikirkan hal itu," terangnya.

Yuan mengaku, Zoom tidak pernah merasa harus untuk memperketat masalah privasi jika tidak ada masalah seperti saat ini.

"Kupikir kita tidak akan pernah memikirkan hal ini," katanya.

Selain Zoombombing, persoalan privasi lainnya juga muncul menghantam Zoom.

Sebuah laporan pers mengungkapkan, Zoom membocorkan data pengguna ke Facebook dan memungkinkan pengguna tertentu secara diam-diam mengakses profil data LinkedIn dari pengguna lain.

Krisis akibat pandemik virus corona baru memang secara tiba-tiba mengubah haluan komunikasi dunia. Di mana Zoom mungkin belum memikirkan hal yang seharusnya terpikirkan.

Yuan juga mengatakan, pihaknya tidak pernah mengantisipasi pertumbuhan pengguna secara eksponensial seperti saat ini.

Tetapi, perusahaan yang berbasis di California itu telah berkomitmen untuk memperbaikinya. Kendati, jaksa agung di beberapa negara bagian tetap melakukan pemeriksaan atas masalah-masalah tersebut.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya