Berita

Ilustrasi/Net

Jaya Suprana

Menerawang Matahari

SABTU, 22 FEBRUARI 2020 | 23:00 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAYA mengawali naskah Menerawang Bulan (... Februari 2020) dengan beberapa data tentang matahari.    

Namun akibat judulnya ”Menerawang Bulan” maka di dalam naskah tersebut kemudian saya fokus pada topik bahasan naskah tersebut, yaitu bulan.

Dapat dimengerti bahwa sikap saya terkesan tidak adil terhadap matahari. Maka sahabat saya yang sarjana astronomi serta ilmuwan pertahanan merangkap jurnalis senior, Dr Ninok Leksono menyampaikan tanggapan bijak sebagai berikut:


Matahari
Pagi Pak Jaya. Terima kasih untuk artikel Menerawang Bulan. Boleh jadi secara statistik Bulan lebih dipuja, karena aura kecantikan lebih melekat pada Bulan. Sementara Matahari, Sang Surya, sulit dikaitkan dengan ekspresi artistik karena naturnya yang panas, bahkan superpanas (suhu permukaan 5.000 derajat C, suhu inti 10.000.000 derajat C).

Tetapi metafor tentang kehidupan, kekuasaan, umumnya dikaitkan dengan Matahari. Mungkin Pak Jaya ingat lakon wayang Asta Brata, bahwa pemimpin selain lembut seperti Bulan, juga harus jadi penerang dan sumber energi sebagaimana Matahari.

Kalau BULAN HILANG/TIDAK ADA, KITA TIDAK APA-APA, TAPI KALAU MATAHARI TIDAK ADA, TAMAT ATAU TIDAK ADA KEHIDUPAN.

Jadi Matahari vital bagi kehidupan, dan Bulan sebagai hiasan. Matahari juga ada sebagai judul lagu hit Agnez Mo. WR Supratman juga mencipta lagu berjudul “Di Timur Matahari” sebagai salah satu lagu wajib nasional. Grup The Bee Gees punya satu hit berjudul "Sun in My Morning", dan lagu Neapolitan paling populer adalah "O sole mio" (Matahariku).

Setuju
Sepenuhnya saya setuju kepada informasi mengenai matahari oleh mahaguru alutista saya yang kebetulan sarjana astronom serta cendekiawan serbabisa tersebut!

Matahari memang jauh lebih vital ketimbang bulan bagi kehidupan di planet bumi ini. Demikian pula menurut Asta Abrata, pemimpin selain lembut seperti bulan juga harus jadi penerang dan sumber enerji sebagaimana matahari.

Pada awal naskah Menerawang Bulan, saya khusus berkisah tentang dewa matahari masyarakat Jepang, Inka, dan Mesir Kuno. Menurut saya, istilah matahari sebagai mata dari hari, juga jauh lebih realistis sekaligus puitis makna ketimbang bulan yang bukan mata dari apa pun.

Terima kasih atas penyadaran Mas Ninok, bahwa WR Supratman juga mencipta lagu "Di Timur Matahari" yang kini menjadi lagu wajib nasional. Mas Ninok benar dalam hal cukup banyak judul lagu terkait matahari.

Beberapa yang kebetulan saya ketahui misalnya: "Island in The Sun, House of The Rising Sun, You are My Sunshine, Set The Controls of The Heart of The Sun, Here Comes The Sun, Under the Sun, Worship The Sun, Sail To The Sun".

Projek elektro-pop Caribou garapan Dan Snaith mencipta lagu berjudul “Sun” dengan lirik Sun, Sun, Sun, Sun, Sun dan seterusnya dari awal sampai akhir lagu.

Saya yakin masih lebih banyak lagi lagu berjudul matahari yang sama sekali tidak saya ketahui. Terima kasih atas pencerahan tentang matahari, Mas Ninok!

Penulis adalah pembelajar peradaban dan kebudayaan di planet bumi serta benda-benda di angkasa luar.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

UPDATE

Tumbuhkan Mimpi Puluhan Anak Nelayan Cilincing Lewat Nobar Film

Senin, 14 September 2026 | 03:18

Sejumlah Alutsista TNI Gercep Sisir Korban KM Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 02:55

Kesehatan di Tepi Republik

Senin, 14 September 2026 | 02:29

Ekonomi Batam Tumbuh 7,28 Persen Bukti Kepercayaan Dunia Usaha Terus Menguat

Senin, 14 September 2026 | 01:54

Terpilih jadi Ketum HPK Kosgoro 1957, Eric Hermawan Langsung Tancap Gas Konsolidasi

Senin, 14 September 2026 | 01:24

Abu Vulkanik Berbahaya bagi Air dan Ikan, Begini Penjelasannya

Senin, 14 September 2026 | 00:55

KDM Dinilai Lebih Utamakan Pencitraan Ketimbang Solusi Defisit APBD Jabar

Senin, 14 September 2026 | 00:33

Menuju HUT ke-81, Panglima TNI Buka Rangkaian 72 Lomba Open Turnamen

Senin, 14 September 2026 | 00:11

SOKSI Siap Tempuh Jalur Hukum Gugat 'Bocor Alus Tempo'

Minggu, 13 September 2026 | 23:48

Asta Cita, Zakat, dan Jalan Baru Mengentaskan Kemiskinan

Minggu, 13 September 2026 | 23:24

Selengkapnya