Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Rezim Digital Artificial, Kisah Kekuasaan Berselimut Buzzers Sampah…

MINGGU, 09 FEBRUARI 2020 | 12:10 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

PRESIDEN Amerika umumnya adalah The Greatest Man.

Ford, Kennedy, Nixon, Bush, Eisenhower, adalah para satria Perang Dunia Kedua.

Rosevelt presiden 4 periode karena dipercaya rakyat, dengan kemampuan memulihkan Amerika dari Great Depresion yang melanda dunia, dan dengan kaki lumpuh melawan Nazi & Jepang.


Pak Harto, suka tidak suka, ialah pemimpin Asean yang sejajar Lee Kwan Yeuw & Mahathir. Anak desa Kemusuk yang mau belajar, yang bagaikan Don Corleone dalam The Godfather atau semacam Semar dalam pewayangan.

Sukarno ialah “raksasa besar” yang mempersatukan Indonesia. Yang hatinya juga buat rakyat. Sehingga  cintanya kepada wong cilik berbalas ungkapan:  “Pejah Gesang Nderek Bung Karno”.

Waktu Sukarno dijatuhkan, Panglima KKO Mayjen Hartono berkata:

“Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO; Putih kata Bung Karno, putih kata KKO”.  Perang saudara  hampir meletus. Namun Sukarno berkata:

“Relakan aku tenggelam, asal jangan bangsaku dirobek Nekolim dan kakitangannya...”.

Gus Dur yang pluralis & egaliter memerintahkan menteri ekonominya seperti Dr Rizal Ramli untuk menyenangkan hati rakyat. Dengan beras murah, harga-harga terjangkau dan daya beli meningkat. Sehingga keduanya dikenal sebagai sosok pro rakyat.

Para pemimpin amanah di belakangnya adalah rakyat.  Yang rela & ikhlas melakukan apa saja untuk membela, bahkan bertaruh nyawa.

Tetapi pemimpin boneka di belakangnya adalah para buzzer yang menghancurkan demokrasi, perbedaan pandangan, logika, & dialektika pemikiran dengan fitnah, pembunuhan karakter, menyerang pribadi dengan kata-kata kotor & keji. Melemparkan tuduhan anti toleransi dan anti Panca Sila, sebagai pemutarbalik fakta.

Kini kita hidup dalam alam rezim digital artificial, dimana boneka dapat naik ke dalam kekuasaan dengan menggunakan buzzers bayaran.

Digital artificial berisi narasi sesat, yang menjadikan penguasa zalim dan bodoh sebagai nabi. Dimana menteri keuangan seperti Sri Mulyani ngelantur dan ngoceh tentang hal yang bukan urusannya dipelihara seperti jimat untuk mempercepat kehancuran bangsa.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Polda Riau Bongkar Penampungan Emas Ilegal

Selasa, 03 Februari 2026 | 16:17

Istana: Perbedaan Pandangan soal Board of Peace Muncul karena Informasi Belum Utuh

Selasa, 03 Februari 2026 | 16:12

Sekolah Garuda Dibuka di Empat Daerah, Bidik Talenta Unggul dari Luar Jawa

Selasa, 03 Februari 2026 | 16:05

Menag: Langkah Prabowo soal Board of Peace Ingatkan pada Perjanjian Hudaibiyah

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:39

Ini Respons Mendikti soal Guru Besar UIN Palopo Diduga Lecehkan Mahasiswi

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:35

Polri Berduka Cita Atas Meninggalnya Meri Hoegeng

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:13

Demokrat Belum Putuskan soal Dukungan ke Prabowo pada 2029

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:02

MUI Apresiasi Prabowo Buka Dialog Board of Peace dengan Tokoh Islam

Selasa, 03 Februari 2026 | 14:55

Jenazah Meri Hoegeng Dimakamkan di Bogor

Selasa, 03 Februari 2026 | 14:53

PPATK Ungkap Perputaran Uang Kejahatan Lingkungan Capai Rp1.700 Triliun

Selasa, 03 Februari 2026 | 14:46

Selengkapnya