Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

Arief Poyuono Cium Hal Tidak Beres Dari Penerbitan IPKA Kapal Kabel China

JUMAT, 24 JANUARI 2020 | 17:21 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Izin penggunaan kapal asing (IPKA) milik China berbendera Panama yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan diduga kuat tidak diketahui oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Begitu kata Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono menanggapi penerbitan IPKA kapal kabel CS Fuhai dan Bold Maverick.

Dia mencium ada hal tidak beres dari penerbitan IPKA oleh Ditjen Perhubungan Laut (Hubla) Kemenhub. Apalagi, Ditjen Hubla pernah beberapa kali tersangkut kasus di KPK.


“Nah KPK harus sering-sering sadap semua pejabat di Dirjen Hubla,” tegasnya kepada redaksi, Jumat (24/1).

Arief kemudian menyinggung mengenai asas cabotage, sebuah prinsip yang memberi hak eksklusif kegiatan angkutan barang dan orang dalam negeri oleh perusahaan angkutan laut nasional, dengan menggunakan bendera Merah Putih serta awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.

Arief mengatakan bahwa asas tersebut ternyata tidak berlaku bagi kapal-kapal dari negeri RRC. Maka dari itu, tidak heran jika kapal-kapal ikan dari RRC berani masuk ke area perairan laut Indonesia untuk nangkap ikan seenaknya.

“Dikawal sama kapal-kapal penjaga pantai RRC pula,” sindirnya.

Hal serupa terjadi di bidang penarikan kabel bawah laut milik perusahaan China CS FUHAI dan CS Bold Maverick, yang dengan sangat mudah mendapatkan IPKA untuk beroperasi di Indonesia.

“Izin itu dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dengan mengesampingkan azas cabotage yang sudah diterapkan di Indonesia,” duganya.

Dia mengurai bahwa ada keanehan di balik penerbitan IPKA CS FUHAI dan Bold Maverick. Pertama, PT. Bahari Eka Nusantara yang mendapatkan IPKA untuk CS FUHAI milik perusahaan RRC yang berbendera Panama, sebatas status agen pelayaran dan bukan peyelenggara usaha pemasangan kabel bawah laut.

Kedua, sesuai asas cabotage pengoperasian kapal pengelar kabel laut berbendera asing baru boleh mendapatkan IPKA jika di dalam negeri tidak ada usaha pelayaran nasional untuk mengelar kabel laut.

“Ini patut diduga ada suap di Direktorat Jenderal Perhubungan Laut,” ujar wakil ketua umum DPP Partai Gerindra itu.

Atas alasan itu, FSP BUMN Bersatu melayangkan somasi kepada Menteri Budi untuk mencabut IPKA. Kedua, akan mengugat ke PTUN untuk membatalkan IPKA CS FUHAI dan Bold Maverick.

“Ini melindungi usaha pelayaran nasional yang bergerak di bidang penggelaran kabel laut,” sambungnya.

Tidak hanya itu, Arief juga akan berkirim surat ke Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk tidak mengeluarkan security clearance bagi izin pelayaran kedua kapal tersebut di perairan Indonesia

“Sebab kalau nanti ada kegiatan yang merugikan daerah perairan Indonesia yang disalahkan ke Menhan lagi,” pungkasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya