Berita

Partai Amanat Nasional (PAN)/Net

Publika

PAN: Antara Partai Reformis Vs Partai Oligarki

KAMIS, 23 JANUARI 2020 | 03:27 WIB | OLEH: PANGI SYARWI CHANIAGO

GELARAN Kongres PAN yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat menjadi ujian konsistensi bagi partai dan seluruh kadernya. PAN sebagai anak kandung reformasi punya beban moral untuk terus memperjuangkan nilai dan etika serta agenda reformasi.

Elite partai terutama pendiri, dewan pembina dan mantan Ketua Umum PAN, Amien Rais menjadi figur sentral yang kini diuji untuk memastikan diri dan partainya untuk tidak terjebak ke dalam tradisi feodalisme dan menguatnya sistem oligarki kepartaian yang kini hampir melanda semua partai politik di Indonesia.

Oligarki dan feodalisme adalah benalu demokrasi yang seharusnya dibuang jauh dari tubuh partai politik, sehingga penguatan demokrasi di internal partai politik adalah sebuah keniscayaan. Amien Rais sebagai tokoh senior harus memastikan penguatan demokrasi di internal partai berjalan baik.


Salah satu kata kuncinya adalah memastikan regenerasi/suksesi kepemimpinan partai terus berjalan secara reguler, bukan saja memastikan partai berperan aktif melahirkan kader-kader terbaik, tetapi juga memastikan membuka jalan bagi kader terbaik untuk tampil memimpin/menakhodai kapal PAN tanpa ada hambatan dari para senior yang ingin mempertahankan status quo.

Namun kader PAN juga harus jeli membaca situasi dan dinamika politik terkini, sistem politik dan sistem pemilu telah menjadi pemicu menguatnya personalisasi di setiap level kepemimpinan politik, termasuk partai politik. Sehingga keberadaan tokoh/figur sentral dalam sebuah partai akan sangat memengaruhi performa partai politik.

Namun, sebagian partai justru salah mengartikannya dengan melanggengkan kepemimpinan seorang tokoh dan menghambat terjadinya regenerasi di internal partai.

PAN kini ada di persimpangan jalan, apakah tetap konsisten dengan nilai, agenda dan tradisi politik mazhab "partai reformis" atau ikut-ikutan terjangkit "virus oligarki" yang sama. Amien Rais adalah sosok yang punya beban moral dan tanggung jawab bagaimana memastikan PAN tetap pada trayek partai reformis.

Di sisi lain, kongres kali ini adalah pembuktian tesis apakah masih kuat pengaruh/cengkraman Amien Rais di partai berlambang matahari yang pernah didirikannya tersebut? Adanya upaya memperlemah "bergaining position" Amien Rais sebagai figur sentral dalam partai adalah kesalahan fatal, PAN tanpa Amien Rais akan kehilangan semangat juang dan disorientasi.

Upaya memosisikan diri berkonflik dengan Amien Rais oleh sebagian atau segelintir elite yang ingin berebut kursi ketua umum tentu sangat kontraproduktif dalam rangka upaya membesarkan partai. Maka jalan kompetisi yang demokratis tanpa saling meniadakan dan menyingkirkan adalah pilihan paling realistis.

Partai politik harusnya menjadi partai yang modern, tidak lagi bergantung pada satu tokoh sentral/figur, ketergantungan pada figur ini hampir semua merata terjadi di parpol kita. Namun sayang, lepas dari perangkap rezim otoriter Soeharto, partai bukannya beranjak menjadi moderen, malah menjadi elitis, dan figur sentris.

Partai beramai-ramai bergeser menjadi partai feodal dan relasi patron klien, menjadi elitis dan membangun DNA oligarki kepartaian.

Jualan partai pada pemilu bukan program atau ideologi partai, namun gula-gula, figur populis, uang dan politik identitas. Partai juga belum tumbuh menjadi partai modern berbasiskan nilai-nilai demokratis.

Oligarki mengancam, partai mulai berani punggungi demokrasi, elite partai mulai meneriakkan slogan-slogan antidemokrasi, menganggapnya sebagai sistem politik yang mahal, tidak efesien dan mengidap bahaya politik identitas, yang mereka kecam harusnya oligarkinya, bukan demokrasinya.

Partai hari ini tren menguat ke oligarki dan kartelisasi seperti PDIP, Nasdem, Gerindra, partai Demokrat dan sepertinya beberapa partai papan tengah juga akan ikut-ikutan. Hampir tidak terjadi pertukaran elite secara reguler, bahkan anaknya sudah disiapkan untuk mengantikannya, parpol dikelola tidak ubah seperti mengelola perusahaan keluarga.

Menurut Juan Linz (1996), sebuah ciri khas partai demokrasi prasyarat mutlaknya adalah melakukan pergantian kekuasaan elite secara teratur, berpindah tangan dan terjadi pembatasan kekuasaan pada struktur kepemimpinan partai politik, menyiapkan kader pemimpin pada masa yang akan datang.

Kegelisahan kita, fenomena ini hampir tidak terjadi dalam partai kita sekarang. Realitas politik tidak terjadi pertukaran elite secara reguler, partai dimenangkan oligarki dan diambil keuntungan oleh oligarki partai, diasuh oleh demokrasi.

Penulis adalah Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya