Berita

Geert Wilders/Net

Jaya Suprana

Ngono Yo Ngono

MINGGU, 19 JANUARI 2020 | 20:38 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MENJELANG akhir tahun 2019, politisi sayap kanan Belanda Geert Wilders nekad menyelenggarakan sayembara menggambar karikatur Nabi Muhammad.

Karikatur

Kompetisi kontroversial itu telah direncanakan oleh Wilders lebih dari setahun lalu. Namun dia sempat membatalkannya karena khawatir akan keamanannya. Kontes itu sendiri hanya berlangsung selama beberapa jam. Wilders menutup lomba karikatur Nabi Muhammad pada Minggu 29 Desember 2019 dan segera mengumumkan karikatur yang dia sebut sebagai pemenang kontes melalui akun Twitternya. "Misi selesai. Akhir dari kontes," tulis Wilders, seperti dimuat Reuters.


Karikatur pemenang itu menggambarkan sosok seorang pria berjanggut dengan alis berkerut mengenakan sorban hitam dan kemeja hitam. Sebelumnya pada Agustus 2018, Wilders pernah membatalkan sayembara serupa setelah polisi Belanda menangkap seorang pria berusia 26 tahun yang mengancam akan membunuh sang pembenci Islam. Rencana Wilders sempat memicu demonstrasi besar-besaran di beberapa negara mayoritas Muslim semisal Pakistan.
"Kebebasan berbicara harus menang atas kekerasan dan fatwa Islam," sesumbar ketua partai oposisi terbesar di parlemen Belanda itu.

Kebebasan Berbicara

Sebagai sesama manusia, saya mengerti (bukan membenarkan!) alasan Geert Wilders menyelenggarakan sayembara menggambar karikatur Nabi Muhammad. Geert Wilders berpegang teguh pada hak asasi manusia tentang kebebasan berbicara. Namun sebenarnya dia harus sadar bahwa kebebasan berbicara bukan berarti kebebasan menghina.

Berdasar deklarasi PBB tentang hak asasi manusia, Geert Wilders memang berhak asasi menyelenggarakan sayembara karikatur Nabi Muhammad. Namun sebagai seorang umat Nasrani yang dididik Gus Dur untuk senantiasa berupaya menghormati umat beragama bukan Nasrani, saya yakin Geert Wilders memang tidak paham makna falsafah Jawa “ngono yo ngono ning ojo ngono”.

Maka sang ketua partai oposisi terbesar Belanda nekad menyelenggarakan sayembara karikatur Nabi Muhammad padahal sadar bahwa Islam tidak membenarkan penggambaran visual Nabi Muhammad. Bagi Geert Wilders, menyelenggarakan sayembara karikatur Nabi Muhammad SAW yang rawan melukai perasaan umat Islam jauh lebih penting ketimbang menghormati keyakinan umat beragama Islam.

Njarak

Mungkin Geert Wilders menganggap dirinya seorang pemberani yang membela hak asasi manusia untuk berpendapat. Namun  kurang adil dan kurang beradab apabila Geert Wilders hanya berani melakukan sesuatu yang melukai perasaan orang lain. Dampak buruk sayembara yang diselenggarakan Wilders rawan merambah ke luar Belanda. Bukan mustahil sampai ke Indonesia.

Entah  Wilders sadar atau tidak sadar bahwa dirinya melakukan perilaku yang dalam bahasa Jawa disebut  “njarak” alias provokasi masalah yang sebenarnya tidak perlu menjadi masalah. Jelas bahwa penyelenggaraan sayembara karikatur Nabi Muhammad bukan sesuatu yang mutlak hukumnya wajib tidak-bisa-tidak harus diselenggarakan.

Masih banyak tema sayembara lain-lainnya yang lebih aman resiko  misalnya sayembara karikatur Donald Trump atau diri Geert Wilders sendiri. Namun ketua partai oposisi terbesar Belanda ini takabur memanfaatkan hak asasi dirinya sendiri tanpa peduli resiko dampak buruk perilaku “ngono yo ngono ning yo ngono wae“ dengan nekad menyelenggarakan Sayembara karikatur Nabi Muhammad yang rawan melukai perasaan umat Islam. Maklum, Geert Wilders memang bukan orang Jawa

Penulis adalah Pendiri Perhimpunan Pencinta Humor Dan Pembelajar Kebudayaan Jawa 

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Safari Politik Jokowi Tak Pengaruhi Elektabilitas PDIP

Sabtu, 27 Juni 2026 | 00:14

Seruan Reformasi Jilid II Bukan Aspirasi Mahasiswa

Sabtu, 27 Juni 2026 | 00:00

Safari Politik Jokowi cuma Demi Gibran dan Kaesang

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:41

Empat Nyawa Sudah Cukup, Setop Latsarmil SPPI

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:23

Sarasehan KPPG: Keterwakilan Perempuan 30 Persen Bukan Sekadar Kuota

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:06

Edi Hasibuan: Masyarakat Mulai Merasakan Perubahan Polri

Jumat, 26 Juni 2026 | 23:03

Universitas Bakrie Tiga Besar dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:42

Pakai Dump Truk, Polisi Kawal Massa Pendukung MBG di Tuban

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:24

Jubir FAM UBK: Ada Aktor Intelektual Sengaja Rusak Citra Kampus dan Wapres

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:22

DPR Usul Kemenukbangga Jadi Penyalur BLT

Jumat, 26 Juni 2026 | 22:03

Selengkapnya