Berita

Prabowo Subianto dan Joko Widodo/Net

Politik

Catatan Akhir Tahun PWI: Pers Nasional Berhasil Menetralisir Epidemi Hoax Politik

SABTU, 28 DESEMBER 2019 | 09:52 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Masyarakat pers nasional dinilai berperan penting dalam proses pemilihan presiden dan pemilihan umum 2019 yang lalu.

Masyarakat pers nasional secara umum mampu menetralisir epidemi hoax politik yang melanda masyarakat.

Demikian antara lain dinyatakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam pernyataan akhir tahun yang diterima redaksi Sabtu pagi (28/12).


Dalam pernyataan yang ditandatangani Ketua Umum PWI Atal S. Depari dan Sekjen Mirza Zulhadi itu, PWI mengapresiasi sejumlah media arus utama online yang menyediakan rubrik khusus untuk mengecek apakah sebuah informasi itu bernilai hoax atau sesuai fakta.

“Selain itu, pers lebih fokus ke pemberitaan tentang visi misi dan program para kandidat, baik pasangan calon presiden dan calon wakil presiden maupun calon anggota legislatif,” tulis mereka.

PWI juga mengatakan, dengan beberapa catatan tentang kelemahan yang perlu diperbaiki, Pemilu 2019 telah berjalan lancar. Meski terjadi beberapa hambatan di sejumlah tempat, secara umum penyelenggaraan Pemilu Presiden (Pilpres) dan Pemilu Legislatif (Pileg) yang untuk pertama kali berlangsung secara serentak, berjalan sesuai jadwal.

“Kalangan dunia internasional pun mengakui keberhasilan Indonesia dalam melaksanakan pemilu secara serentak hanya dalam satu hari itu,” tulis PWI.

Angka partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 mencapai 81 persen atau sekitar 3,5 persen di atas target yang ditetapkan, yakni 77,5 persen.  Ini di atas partisipasi Pemilu 2014, dimana partisipasi pemilih 70 persen untuk Pilpres dan 75 persen untuk Pileg.

Tingginya tingkat partisipasi pemilih merupakan salah satu indikator Pemilu berjalan sukses dan proses demokrasi berjalan lancer.

Media Berpihak


Dalam pernyataan PWI juga disebutkan, meski  berjalan lancar, harus diakui rangkaian Pemilu 2019 juga meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah. Pemilih terbelah karena hanya dua pasang calon. Dan, ini sedikit banyak berdampak pula pada dunia pers.

“Independensi media banyak dipersoalkan publik. Beberapa media cenderung berpihak pada salah satu kandidat. Berita-berita atau informasi yang disuguhkan cenderung membangun citra positif kandidat tertentu dan cenderung merugikan atau membangun citra negatif candidat lainnya,” tulis PWI lagi.

Hoax Ratna Sarumpaet

Di samping itu, PWI menambahkan, profesionalisme pers juga mendapat perhatian serius. Beberapa media kurang hati-hati pada informasi yang berbau hoax.

“Bukannya menghindar, alih alih justru turut menyebarluaskannya. Termasuk media arus utama sering kali tidak melakukan tiga prinsip utama jurnalistik, klarifikasi, konfirmasi, dan verifikasi,” ujar dia.

Informasi yang bernada hoax langsung disiarkan di media berbasis jurnalistik secara ramai-ramai. Contohnya, sebut PWI, kasus Ratna Sarumpaet, belakangan diketahui adalah hoax.

Menghadapi tahun 2020 yang juga tahun politik, dimana ada setidaknya 270 pilkada di seluruh Indonesia, diharapkan kelemahan-kelemahan sebagaimana disebutkan di atas tidak terulang.

“Media tidak boleh partisan,” tegas PWI.

“Media juga jangan ikut menyebarkan hoax. Media harus kembali kepada jatidirinya dan tetap menjaga independensi news room dan bekerja secara profesional  dengan melakukan uji informasi melalui konfirmasi, klarifikasi, dan verifikasi,” sambung PWI.

Wartawan juga diingatkan untuk tidak menjadi tim sukses dalam pilkada atau bahkan terjun dalam politik praktis.

Hal ini akan sangat mengganggu independensi media dan kepercayaan publik. Pers lokal harus bisa menjaga indepedensi dan profesionalismenya dalam pilkada tahun 2020.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

4 Lapis Kegagalan PSSI dan Otoritas Liga

Jumat, 19 Juni 2026 | 02:18

Air Zamzam Jemaah Haji akan Didistribusikan di Tanah Air

Jumat, 19 Juni 2026 | 02:00

Gibran Prioritaskan Program MBG di Wilayah 3T

Jumat, 19 Juni 2026 | 01:21

Ceko Kontra Afsel Berbagi Skor 1-1

Jumat, 19 Juni 2026 | 01:19

Wamendes Dorong Intelektual Muda Mendukung Pembangunan Desa

Jumat, 19 Juni 2026 | 01:00

MBG Bermanfaat untuk Masa Depan Anak-anak

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:26

Bomba Sayang Bumi Bagikan Bibit Tanaman di Muara Enim

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:11

Rupiah Tak Bisa Kuat hanya dengan Kebijakan Moneter

Jumat, 19 Juni 2026 | 00:00

Warga Papua Surati Presiden Prabowo Minta Atensi Kasus Lahan Rp50 Miliar

Kamis, 18 Juni 2026 | 23:51

Kinerja Mendag Budi Santoso Harus Dievaluasi Demi Akselerasi Ekonomi

Kamis, 18 Juni 2026 | 23:37

Selengkapnya