Berita

Ilustrasi anak yang sudah kecanduan gadget/Net

Nusantara

Kecanduan Gadget Akut, Banyak Anak Di Jawa Barat Dirawat Di RSJ

JUMAT, 11 OKTOBER 2019 | 08:50 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Memainkan gadget saat ini sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan siapa saja. Baik itu orang dewasa, maupun anak-anak. Tapi ketika penggunaan gadget sudah berlebihan, maka risiko masuk kategori orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) bukan hal yang mustahil.

Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat Cisarua, Elly Marliyani mengatakan, sekarang banyak anak-anak yang bebas bermain gadget. Awalnya, pemberian dilakukan agar anak bisa bermain tanpa mengganggu kegiatan orang tua. Sayangnya, penggunaan tersebut justru membuat anak menjadi kecanduan.

"Kalau gadget dipakai berlebihan dan menjadi ketergantungan bisa mengganggu jiwa anak tersebut," ucap Elly, di Gedung Sate Bandung, Kamis (10/10).


Menurutnya, selama ini ODGJ biasanya menyerang remaja dengan usia mulai 15 tahun ke atas. Namun, dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin pesat, banyak anak-anak dimasukkan ke rumah sakit jiwa (RSJ).

"Di RSJ Jawa Barat sendiri kami telah banyak menerima anak-anak yang sengaja dititipkan orang tuanya untuk direhabilitasi dan diberikan penanganan lebih lanjut. Anak-anak tersebut ada yang berusia lima, hingga delapan tahun," katanya, dikutip Kantor Berita RMOLJabar.

Sementara itu, Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa Dinkes Jabar, Arief Sutedjo mengatakan, anak-anak juga memiliki potensi tinggi menjadi sakit jiwa karena kondisi sosial yang berkembang di masyarakat. Untuk mengurangi dampak tersebut, orang tua dan guru memiliki peran penting membangun sikap anak.

"Misalnya guru BP (bimbingan sosial) harus bisa mengajarkan anak agar menghindari hal negatif yang bisa ada di sekolah. Mereka juga harus diajarkan bisa bergaul dengan lingkungan yang baik," ungkapnya.

Di sisi lain, Staf Khusus Gubernur Bidang Kesehatan, Siska Gerfianti mengatakan, pada 2030 persoalan kesehatan yang paling banyak menghantui masyarakat adalah penyakit tidak menular. Salah satu yang dikhawatirkan, kata dia, adalah meningkatnya penyakit depresi.

Persoalan depresi tersebut timbul karena tekanan sosial di berbagai hal, hingga penyebaran berita bohong (hoaks). Sebab, banyak dari masyarakat yang kerap mengalami stres ketika mendengar sebuah kabar yang terjadi, di mana informasi tersebut belum tentu benar.

"Dengan penyebaran hoaks, depresi bisa meningkat. Maka kita harus cegah bersama penyebaran hoaks," tandasnya.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya