Berita

Jokowi di lokasi bekas Karhutla/Net

Politik

Koalisi Masyarakat Sipil Kirim Surat Terbuka Untuk Jokowi Desak Selesaikan Kebakaran Hutan

SENIN, 16 SEPTEMBER 2019 | 15:30 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Peran Presiden Joko Widodo dalam mengatasi peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sangat diperlukan agar tidak semakin bertambah korban yang terkena dampaknya.

Dewan Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Khalisah Khalid mengatakan, pihaknya bersama koalisi masyarakat sipil dari berbagai elemen masyarakat akan mengirimkan surat terbuka kepada Jokowi.

Koalisi masyarakat sipil terdiri dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Greenpeace Indonesia, Gerakan Ibukota,Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), KontraS, HuMa, PSHK, RMI, Solidaritas Perempuan, dan YLBHI.


"Kami berinisiatif mengirimkan surat terbuka ke presiden dan tentu saja sebagai pimpinan pemerintahan dan ini terkait dengan beberapa kementerian yang secara khusus menangani Karhutla," ucap Khalisah Khalid kepada wartawan di Kantor WALHI, Jalan Tegal Parang Utara, Jakarta Selatan, Senin (16/9).

Karena, sepanjang 2019 hingga 7 September setidaknya tercatat 19 ribu lebih titik api. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 15 September 2019 terdapat 2.862 titik api dengan total luas lahan yang terbakar 328.724 hektare.

"Kondisi ini makin diperparah karena kebakaran terjadi di lahan gambut, konsensi perkebunan monokultur skala besar yakni sawit dan hutan tanaman industri," katanya.

"Kami menilai bahwa kabut asap yang berasal dari karhutla bukan hanya kejahatan biasa. Tetapi sebuah kejahatan ekosida dan kejahatan lintas batas dengan unsur-unsur yang terpenuhi yakni dampak yang meluas, jangka panjang dan tingkat keparahan yang tinggi termasuk unsur means rea," tegasnya.

Koalisi masyarakat sipil membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden RI Joko Widodo untuk mendesak penyelesaian kebakaran hutan secara komprehensif. 

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya