Berita

Publika

Bangkrutnya Nasionalisme

MINGGU, 21 JULI 2019 | 00:13 WIB

AWALNYA yang membuat merosot hingga bangkrutnya nasionalisme adalah aspek kedaerahan, sektarianisme atau globalisasi. Tapi kini adalah pragmatisme dan urusan bisnis.

Pemimpin negara menjadi faktor penting dari dekadensi ini. Kebijakan kenegaraan yang sangat pragmatis dan berorientasi semata bisnis membangkrutkan rasa nasionalisme. Investasi dan utang luar negeri adalah faktor determinan.

Industri strategis tidak menjadi perhatian utama karena dinilai tidak menguntungkan dan sepertinya dibiarkan mati perlahan digantikan oleh industri baru berupa investasi asing yang mampu memproduksi hasil dengan harga pasar yang lebih murah. Contohnya adalah industri baja Krakatau Steel yang menghadapi beban berat bersaing dengan industri baja baru investasi China di Morowali, Batu Licin atau Kendal. PT DI lebih dulu megap-megap begitu juga dengan PT INTI dan PT Barata.


Industri semen BUMN kini terancam bangkrut. Kebijakan impor sangat memukul sehingga melemahkan daya saing semen nasional. Semen China harganya lebih rendah dari semen kita dan akibat dari "predatory pricing" seperti ini produk semen lokal menjadi menumpuk tidak laku di pasaran. Sungguh memprihatinkan.

Alasan pasar bebas dan kebijakan impor jor-joran barang produksi mematikan industri lokal dalam negeri. Sepuluh perusahaan semen asing baru yang berdiri di Indonesia memperberat daya saing dua BUMN PT Semen Indonesia  dan PT Baturaja. Kini saja swasta dan asing menguasai 56 persen pasar semen di Indonesia.

PT Pos terancam bangkrut. Karyawan menjerit karena gaji belepotan dalam pembayaran. Industri telekomunikasi 79 persen asing dan swasta dan BUMN perbankan nasional (gabungan Mandiri, BNI, BRI dan BTN) hanya 37 persen.   BUMN infrastruktur menghadapi dilema. Jalan Tol semestinya jadi kebanggaan nasional dan bukti pemerintah mampu melakukan pelayanan publik kenyataanya  harus dijual jual. Pembelinya asing dan swasta. Hilang lagi aset nasional.
Pemerintahan yang  pedagang memang selalu berorientasi mencari untung jangka pendek. Bukan kesejahteraan jangka panjang dan merata. Keuntungan pun didapat bukan oleh rakyat banyak akan tetapi pengusaha dan pejabat tertentu.  Rakyat tetap berat membayar pajak ini dan itu yang selalu naik setiap waktu. Belum lagi harga barang pokok yang semakin mencekik.   

Semestinya pemerintah sadar akan ancaman kebangkrutan nasionalisme ini. Bukan semakin tenggelam dalam permainan pragmatisme atau korporatisme. Kolusi dan  komisi yang selalu dikejar. Tak ada gunanya lembaga lembaga pembinaan dan pengembangan ideologi yang berharga mahal, jika kebijakan pemerintah masih berorientasi dan membabi buta di aras investasi dan memburu rente utang luar negeri.

Nasionalisme dibangkitkan bukan dengan klenik dan jampi jampi akan tetapi diawali dengan penataan diri atau kelompok yang diberi amanat kekuasaan. Paradigma mesti diubah dari "jual jual jual" menjadi "punya punya punya" dari "pakai pakai pakai" menjadi "buat buat buat".

Bangun kebanggaan produk sendiri. Kurangi impor dan seleksi investasi. Batasi ke sana ke sini cuma cari utang. Bukanlah suatu prestasi dari kerja dengan banyak utang. Bangkrut itu namanya.

Nasionalisme kini telah menjadi komoditas murahan dan bahan ejekan. Pemerintah mesti bertanggungjawab.

M Rizal Fadillah

Pemerhati Politik

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Polri Didesak Usut Donatur Penyebar Hoaks Kerusuhan Agustus

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:47

Zelensky Klaim 50 Ribu Tentara Korut Sedang Dalam Perjalanan ke Rusia

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:24

Ekonomi Indonesia Mustahil Saingi Vietnam jika Abaikan Sektor Luar Negeri

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:23

Rezim Hubungan Industrial Maritim Indonesia Belum Terintegrasi

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:14

KPK Kuliti Ahmad Dedi Usut Dugaan Pengaturan Jalur Merah-Hijau Impor Blueray

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:51

Iran Waspadai Pakta Pertahanan Mekkah Bentukan Turki, Saudi, dan Pakistan

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:29

Kejari Tanjung Perak Bantah Isu Pemerasan 6 Eks Pejabat Pelindo dan APBS

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:36

Penguatan Kopdes Merah Putih Kunci Kemandirian Ekonomi Papua

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:08

Turki Tegaskan Pakta Pertahanan Mekkah Dibentuk Bukan untuk Hadapi Iran

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:53

Usai Putusan MK, Siaga 98 Dorong Penataan BGN Lewat Perpres Baru

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:36

Selengkapnya