Berita

Seminar KBRI Oslo dan Oslo Metropolitan University

Dunia

Peran NU Dan Muhamadiyah Berantas Radikalisme Menggaung Di Eropa

KAMIS, 20 JUNI 2019 | 18:31 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Peran Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah dalam memberantas ekstrimisme dan radikalisme menggaung di Eropa. Dalam sebuah seminar yang bertajuk The Role of Civil Society in Facing Radicalism in Indonesian Society, wakil dari dua organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menjelaskan upaya yang telah dilakukan dalam memberantas radikalisme di Indonesia.

Seminar yang diselenggarakan atas kerja sama antara KBRI Oslo dan Oslo Metropolitan University berlangsung pada 19 Juni 2019. Dari NU paparan disampaikan oleh Ketua PBNU, KH. Dr. Marsudi Syuhud sementara dari Muhammadiyah paparan disampaikan oleh Sekjen PP Muhammadiyah Dr. Abdul Mu'ti. Selain dua tokoh ini, juga hadir Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid dan Profesor Elisabeth Eide dari Oslo Metropolitan University yang bergabung dalam panel pembicara di sesi tanya jawab.

Dubes RI untuk Norwegia merangkap Islandia, Todung Mulya Lubis saat membuka seminar menyampaikan bahwa NU dan Muhammadiyah merupakan dua organisasi yang memiliki pengaruh besar di Indonesia.


"Saat ini jumlah anggota NU sekitar 60 juta dan Muhammadiyah sekitar 40 juta. Kalau ditotal berarti jumlahnya sekitar 38,46 persen dari total penduduk Indonesia. Dengan prosentase yang cukup besar tersebut, peran kedua organisasi ini memiliki arti penting sebagai kekuatan untuk menjaga keutuhan NKRI," ujar Dubes Mulya Lubis dalam keterangan tertulis KBRI Oslo, Kamis (20/6).

Lebih lanjut Mulya Lubis menambahkan bahwa kekuatan sebuah negara sangat dipengaruhi oleh kekuatan masyarakat sipilnya. Kalau masyarakat sipilnya kuat maka otomatis akan kuat pula negaranya. Untuk itu NU dan Muhammadiyah punya andil besar untuk menjaga masyarakat sipil Indonesia yang toleran dan berkemajuan.

Pada seminar ini, KH. Marsudi menjelaskan tentang konsep Islam Nusantara yang merefleksikan bentuk Islam moderat. Konsep Islam Nusantara yang mempromosikan nilai-nilai dasar Islam seperti "jalan tengah (tawasuth)", berkeseimbangan (tawazun)" dan toleransi (tasamuh) merupakan norma yang ditumbuhkembangkan untuk memelihara perdamaian dan persatuan bangsa Indonesia di tengah kemajemukan yang sangat kompleks.

Di sisi lain, Dr. Mu’ti menjelaskan bahwa meskipun menggunakan pendekatan yang berbeda, Muhammadiyah juga mengenalkan konsep muslim yang moderat, damai dan makmur. Menurutnya setiap muslim memiliki tangung jawab terhadap pribadinya, masyarakatnya dan negaranya.

"Sebagai individu, setiap muslim bebas menjalankan amal ibadah sesuai ajaran yang diyakininya. Namun harus diingat bahwa kebebasannya itu juga dibatasi dengan tanggung jawabnya sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Dia harus tunduk pada norma sosial masyarakat serta hukum positif yang diatur oleh negara," jelas Dr. Mu’ti.

Sementara Yenny Wahid, pada sesi tanya jawab menyinggung peran NU dan Muhamadiyah dalam mengkonter fenomena hoax dan fakenews yang marak di sosial media.

Menurutnya, tantangan besar organisasi masyarakat Indonesia saat ini adalah bagaimana memainkan peran lebih besar di sosial media. Dalam hal ini, NU dan Muhammadiyah dituntut bisa membuat kontra narasi dan kontra identitas untuk menangkal berbagai hoax dan pemberitaan keliru di media sosial.

"Anak muda sekarang kan semangatnya pengen jadi 'hero'. Untuk menjadi hero mereka cenderung mencari 'enemy'. Tugas kita adalah mendorong mereka untuk menemukan identitas yang tepat, sehingga mereka bisa menentukan dengan benar siapa yang patut dijadikan musuh dan siapa hero sesungguhnya," tuturnya.

Yenny juga menyebutkan bahwa kelompok radikal padahal jumlahnya tidak banyak tapi heboh, dan bisa menguasai media (noisy minority). Sementara mayoritas muslim Indonesia saat ini lebih cenderung tenang dan diam (silent majority) menjalankan rutinitas sehari-hari. Sehingga pengaruh kelompok mayoritas ini di media sosial belum terlalu besar.

"Sudah saatnya kita berfikir untuk mentransformasi silent majority untuk bisa menjadi noisy majority," pungkas putri almarhum Gus Dur ini.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya