Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Otoritarianisme Versus Demokrasi, Bukan Suni Versus Syiah

MINGGU, 06 JANUARI 2019 | 20:35 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

SETELAH mengambil keputusan menarik pasukannya dari Suriah, Presiden Amerika Donald Trump mengirim Menlunya Mike Pompeo ke Timur Tengah. Tur Pompeo akan berlangsung mulai 8 sampai 15 Januari 2019.

Menurut keterangan Departemen Luar Negri AS, ia akan mengunjungi Yordania, Mesir, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi. Dengan agenda utama adalah membangun kembali persatuan Dewan Kerjasama Teluk (GCC).

Selain itu, bagaimana menyelesaikan konflik di Yaman, serta bagaimana membantu Saudi Arabia menyelesaikan kasus Jamal Khashoggi yang membuatnya terpojok dalam masyarakat internasional.


Jika melihat waktu yang dipilihnya dan negara yang menjadi tujuannya, maka dapat dipastikan kunjungan Pompeo kali ini tidak akan membuahkan hasil yang penting dan tidak akan mengubah keadaan. Mengapa ?

Pertama, isolasi atau embargo terhadap Qatar oleh Saudi Arabia, Mesir, UAE, dan Bahrain yang sudah berlangsung lebih dari setahun ternyata tidak mampu mengubah sikap Qatar. Sementara tuntutan yang begitu banyak dan tidak masuk akal tidak sedikitpun memberi ruang negosiasi dan kompromi.

Kedua, masalah Yaman yang sudah berlangsung lebih dari 4 tahun, kini proses negosiasinya berlangsung di Swedia di bawah inisiatif PBB. Jadi Amerika tidak memiki peran signifikan.

Ketiga, kasus Khassoghi yang memperuncing hubungan Saudi Arabia versus Turki, walau Khassogi yang mengasingkan diri di AS dan belerja untuk media AS, ternyata sikap Amerika justru membela Saudi Arabia. Dan sampai saat ini, tekanan internasional terhadap Kerajaan Saudi Arabia belum juga mereda.

Kalau begitu, kenapa kunjungan panjang yang jelas-jelas tidak akan memberikan hasil nyata ini tetap dilakukan ? Pertama, Amerika yang akan menarik pasukannya dari Suriah tidak ingin dimanfaatkan oleh Pemerintah Assad dan sekutu-sekutunya untuk mengubah peta militer yang akan mempengaruhi situasi politik yang akan merugikan Israel dan Saudi Arabia.

Kedua, Amerika tidak ingin Iran mengambil keuntungan militer maupun politik secara maksimal, apalagi Hizbullah yang semakin perkasa baik secara militer maupun politik di Lebanon ikut dan bahu-membahu dengan tentara Iran dalam membela Assad.

Sementara Israel merasa terus dihantui oleh Hizbullah dari Lebanon yang memiliki perbatasan langsung dengan Yahudi ini. Ketiga, Saudi Arabia yang kini menjadi sekutu Amerika terpenting setelah Israel di Timur Tengah, walaupun kokoh menghadapi tekanan internasional akibat pembunuhan Khassoghi, akan tetapi mulai goyah menghadapi gejolak politik yang berasal dari dalam negeri, khususnya yang atang dari keluarga kerajaan.

Amerika Serikat tidak ingin muncul perubahan mendadak, apalagi di luar skenario Amerika yang tentu akan mengganggu kepentingannya bukan hanya di Saudi Arabia, akan tetapi di Timur Tengah secara keseluruhan.

Bila disederhanakan, maka situasi politik di Timur Tengah yang sangat kompleks ini, dapat diurai dengan melihat dari dua sisi saja. Pertama, Amerika dan Israel selalu bekerjasama bahkan bahu-membahu untuk mengamankan kepentingannya, dengan cara mempertahankan hegemoninya yang dinikmati selama ini baik secara politik maupun militer.

Kedua, negara-negara Arab yang mayoritas masih dipimpin rezim otoritarian, akan melakukan apa saja bahkan kalau perlu mengorbankan apa saja demi mempertahankan kekuasaannya.

Walaupun harus diakui, narasi pertarungan Sunni versus Syiah cukup dominan dalam menggerakkan berbagai kekuatan politik dan militer, akan tetapi harus disadari masalah agama lebih sebagai alat politik, kalau tidak ingin menyebutnya sebagai korban dalam perebutan kekuasaan politik kawasan.

Iran diuntungkan, karena ia mempraktikkan demokrasi walau belum sempurna, sehingga ia berada dalam barisan yang sama dengan kelompok-kelompok pro-demokrasi yang ditindas.

Yang menarik, walau Amerika di banyak tempat selalu mengkampanyekan demokrasi dan HAM, di Timur Tengah khususnya di bawah Donald Trump justru berpihak pada rezim-rezim otoritarian yang sering melanggengkan HAM. [***]

Pengamat Politik Islam dan Demokrasi.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Kini Posko Pengungsian Korban Gempa NTT Tersedia Internet Gratis

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:45

HUT ke-81 RI Momen Memperkuat Kebersamaan dan Gotong Royong

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:28

Merdeka Bernegara, Jalan Panjang Berbangsa

Selasa, 18 Agustus 2026 | 01:00

32 Kendaraan Hias Semarakkan Karnaval Bersatu Harmoni Nusantara di Monas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:50

Langkah Cepat Polri Tangani Korban Gempa NTT Tuai Apresiasi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:30

Polda Malut Terima 16 Senjata Api Ilegal dari Warga

Selasa, 18 Agustus 2026 | 00:05

Saatnya Indonesia Berdaulat dalam Sektor Pangan dan Energi

Senin, 17 Agustus 2026 | 23:45

Upaya Menjaga Kedaulatan Pilihan Pengurus NU

Senin, 17 Agustus 2026 | 23:22

BCA dan Pegadaian Luncurkan Layanan Tabungan Emas di myBCA

Senin, 17 Agustus 2026 | 22:51

Listrik dan Telekomunikasi di Flores Hampir Pulih 100 Persen

Senin, 17 Agustus 2026 | 22:50

Selengkapnya