Berita

Diskusi HMI di Ciputat/Net

Politik

HMI Tolak Politisasi Agama Untuk Incar Kekuasaan

RABU, 12 DESEMBER 2018 | 17:51 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Penggunaan politik identitas atau politik yang menggunakan sentimen suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) harus dihindari pada Pemilu 2019. Sebab cara itu dinilai memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Demikian disampaikan Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Abdul Aziz dalam diskusi 'Peran Mahasiswa Islam Dalam Menjaga Stabilitas NKRI Menjelang Pemilu 2019' yang digelar HMI Komisariat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Cabang Ciputat di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (12/12).

"Kami dengan tegas menolak pemakaian politik identitas, semata demi menjaga NKRI," Abdul Aziz.


Salah satu unsur politik identitas yang ditolak HMI ialah politisasi agama guna mencari kekuasaan, khususnya di pemilu. Selain demi terjaganya persatuan bangsa dan umat, upaya ini agar kesakralan agama bisa terjaga.

Guna mengaktualisasikan sikap tersebut, kajian dan diskusi dengan berbagai pihak dilakukan.

"Kita ada kajian diskusi dengan kelompok Cipayung yang membahas wawasan kebangsaan juga, menolak paham radikalisme. Semua demi menjaga NKRI," tutur Abdul Aziz.

Di tempat yang sama, pengamat politik Ray Rangkuti mengajak mahasiswa terutama HMI melawan politik identitas yang berlangsung di pemilu.

"Partispasi mahasiswa yang dibutuhkan saat ini salah satunya ialah menjadi penghambat politik identitas," kata dia.

Ray meminta mahasiswa turun langsung memberikan pemahaman ke masyarakat, agar mereka tak terpengaruh dengan praktik politik identitas yang dilakukan aktor-aktor politik.

"Kita sampaikan atau ajak 'mari lihat programnya'. Sebab republik ini bukan didirikan untuk bapak anda, tapi diwariskan kepada anak cucu kita nanti," jelas dia.

Sementara itu, Direktur Bina Ketertiban Masyarakat Korbinmas Baharkam Polri, Brigadir Jenderal Edi Setio Budi Santoso mengatakan, pihaknya mendeteksi adanya rencana kelompok radikal yang hendak menggagalkan pemilu dan ingin mengganti ideologi negara.

"Aktivitas radikalisme dan terorisme mereka tidak menghendaki adanya pemilu, mereka mencoba menggagalkan pemilu ini dengan beberapa cara dan pengaruhnya. Mahasiswa cukup rentan akan pengaruh ini," tutupnya. [ian]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya