Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Gejala Kemerosotan Peradaban Politik

MINGGU, 19 AGUSTUS 2018 | 07:20 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

GEJALA kemerosotan peradaban makin terasa merongrong panggung politik
masa kini. Tradisi saling hujat, saling fitnah, saling kriminalisasi sebagai
ungkapan saling membenci makin merajalela mewarnai perilaku para
pemimpin.

Terkesan bahwa apa yang disebut sebagai kebenaran sudah anakronis dengan kenyataan yang terjadi pada sepak terjang mereka yang disebut sebagai kaum elit politik Indonesia abad XXI, sehingga tidak ada lagi

Terkesan bahwa apa yang disebut sebagai kebenaran sudah anakronis dengan kenyataan yang terjadi pada sepak terjang mereka yang disebut sebagai kaum elit politik Indonesia abad XXI, sehingga tidak ada lagi
yang merasa malu menghalalkan segala cara termasuk ingkar kebenaran
demi memperjuangkan kehendak dan kepentingan diri sendiri masing-masing jauh di atas kepentingan negara, bangsa apalagi rakyat Indonesia.

Para pemimpin lebih layak disebut penguasa sebab lebih sibuk memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan egosentrik belaka. Tidak ada lagi apa yang disebut sebagai rasa kemanusiaan, kasih sayang, welas asih apalagi pengorbanan. Yang ada cuma kebencian, kebencian dan kebencian.

KALIMAT BIJAK

Demi sedikit menghayati segenap kemelut angkara murka yang sedang
menghantui peradaban politik masa kini, saya mengajak siapa saja yang
berkenan diajak untuk sejenak menyimak serta merenungi kalimat bijak para tokoh peradaban umat manusia seperti misalnya Mahatma Gandhi yang sempat mewariskan wejangan "I am prepared to die, but there is no cause for which I am prepared to kill. I object to violence because when it appears to do good, the good is only temporary; the evil it does is" ; Atau Malcolm X yang sempat lantang menegaskan bahwa “I am for truth, no matter who tells it “.

KEBENARAN

Senator Ron Paul sinis menyatakan bahwa “ Truth is treason in the empire of lies“. Sementara pemikir politik , Henry Louis Mencken meratapi kemerosotan gejala peradaban politik Amerika Serikat “The men that American people admire most extravagantly are the most daring liars ; the men they detest most violently are those who try to tell them the truth“.

Hanya mohon dimaafkan memang terpaksa harus terus terang saya akui bahwa sebenarnya tidak jelas apakah kata-kata bijak para tokoh bijak itu akan membuat kita semua makin berpengharapan atau malah makin putus asa menghadapi kenyataan.

Sementara terkesan bahwa para kalimat bijak tokoh bijak sebijak apa pun
sekedar sama saja mubazir seperti gonggongan anjing terhadap khafilah tetap berlalu karena terbukti kehidupan umat manusia di planet bumi ini lestari tetap berlumuran kebencian dan kekerasan. [***]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya