Berita

Krisna Murti/Dok

Nusantara

Sebuku Grup Kecam Penghadangan Yusril Di Bandara Kotabatu

SENIN, 09 JULI 2018 | 09:57 WIB | LAPORAN:

Sebuku Grup sangat menyayangkan peristiwa penghadangan terhadap Yusril Ihza Mahendra oleh ratusan massa di pintu masuk areal Bandara Gusti Syamsir Alam, Kotabaru, Banjarmasin, Jumat (6/7) lalu.

"Tentunya sangat disayangkan, apalagi bandara fasilitas publik sehingga harus memberikan kenyamanan kepada siapa saja. Dan kehadiran Bang Yusril hanya untuk ceramah dan tidak terkait agenda lain," tutur Krisna Murti, kuasa hukum Sebuku Grup.

Lebih disayangkan, lanjut Krisna seruan tokoh agama kondang Arifin Ilham yang berada di lokasi tidak digubris. Sehingga ia menilai kehadiran pihak keamanan dari kepolisian dan TNI tidak tegas dalam menangani aksi massa.


"Pak Ustad Arifin sudah mengajak berdoa dan sholawat tetap saja tidak dihiraukan," jelas Krisna dalam keterangannya.

Padahal, jelas dia, saat itu personel keamanan lebih banyak dari massa. "Namun seakan-akan dibiarkan begitu saja, sehingga terjadi aksi dorong mendorong dan terjadi kebrutalan," sambung pengacara Sanusi kasus reklamasi ini.

Menurutnya, bilamana kejadian tersebut dibiarkan kelak menjadi momok ketakutan bagi setiap warga negara.

"Jadi saya meminta Kapolri dan Panglima TNI untuk lebih menekankan kepada anak buahnya bagaimana memberikan kenyamanan kepada setiap warga negara. Dalam hal ini yang harus bertanggung jawab Kapolda, Kapolres, Kodam. Dan mereka seharusnya jauh-jauh hari sudah mengatahui adanya pergerakan massa, dan itu harus bisa dicegah," tegasnya.

Direktur Sebuku Grup Jendral Purnawiran TNI Soenarko pun senada menyayangkan perilaku aparat kepolisian yang tidak profesional di lapangan.

"Saat itu polisi jumlahnya banyak, baik yang memakai seragam dan preman. Belum lagi alat bantu kendaraan water canon, dan juga anggota TNI hadir," ulasnya.

Ia menduga ada skenario menggerakkan massa untuk turun ke jalan. "Kalau oknum-oknum begini bercokol di kepolisian dan nanti jadi petinggi Polri, yang rugi seluruh bangsa Indonesia ini,” tegasnya.

Sebelumnya, aksi saling dorong terjadi antara massa dan polisi terjadi di gerbang Bandara Gusti Sjamsir Alam Kotabaru. Mereka menolak kedatangan Yusril karena dinilai pro pengusaha tambang. Massa mulai memadati bandara sejak sebelum azan Jumat.

Massa yang berkerumun meminta setiap kaca mobil yang melintas agar dibuka. Mereka ingin memastikan keberadaan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu. Setengah jam berlalu, Yusril tak juga tampak. Massa terus berteriak. Barulah sekitar pukul 14.00 terlihat Yusril keluar bandara dengan pengawalan ketat polisi.

Yusril lantas meminta mikrofon dan menawarkan warga untuk dialog terbuka. Namun, warga meneriakkan kata 'tidak'.

Peristiwa tersebut berlangsung sekitar 20 menit, hingga tiba-tiba muncul sosok ulama kondang, ustad Arifin Ilham. Di hadapan massa, ustad Arifin mengatakan, dia datang ke Kalsel untuk mengisi ceramah agama di Masjid Raya Khusnul Khatimah. Berbeda agenda dari Yusril. Kendati begitu, Ustad Arifin meminta warga mengizinkan Yusril masuk ke Pulau Laut dan menyelesaikan urusannya.

Namun, permintaan Ustad Arifin itu ditolak massa, lantas meminta jalan dan melangkah maju. Kapolres, Dandim, serta polisi membuat benteng ketat. Yusril berjalan di belakang ustad Arifin. Terjadi aksi dorong-dorongan di sana. Meski akhirnya rombongan Yusril dapat masuk ke dalam bus polisi. Mereka kemudian bergerak ke arah kota.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Utama Politeknik Kotabaru Ibnu Faozi menyampaikan, ide menghadang Yusril di bandara itu spontan murni aspirasi warga.

"Dorong-dorongan itu bentuk kekecewaan saja. Dari dulu, sejak tahun 2000 kami sudah menolak tambang di Pulau Laut. Yang terjadi di bandara hanya bentuk kekecewaan," pungkasnya. [wid]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya