Berita

Foto: Repro

Politik

Rizal Ramli Dan Mahathir, Kawan Seiring Pro Kedaulatan

Neolib Subur Akibat Amnesia Sejarah Elit Penguasa
SELASA, 19 JUNI 2018 | 03:19 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

DI DALAM ilmu psikologi selain ada istilah Amnesia ternyata ada pula istilah Mnemophobia, yaitu sebutan untuk orang yang takut akan sejarah masa lalu.

Bagi penderita Mnemophobia semua jenis ingatan, yang buruk maupun yang baik, adalah menakutkan.

Orang Korea masih merekam dengan baik perlakuan Jepang terhadap mereka di masa lalu. Rekaman ingatan akan masa lalu tersebut dipakai untuk membangun motivasi lebih maju, yaitu tekad untuk mengalahkan Jepang di segala bidang.


Orang China merekam perilaku agresor bangsa dari Negeri Matahari Terbit itu menjadi materi buku sejarah berkaitan dengan pembataian keji Jepang di Nanking dalam Perang Tiongkok-Jepang.

Dengan itu (dengan sejarah yang kelam itu) China memotivasi diri untuk menjadi raksasa dunia berkompetisi dengan Jepang.

Mahathir Mohamad membawa Malaysia menjauh dari jalan sesat perekonomian yang menetek kepada IMF dan World Bank. Mahathir sadar Malaysia yang mendapat hadiah kemerdekaan dari kolonialis-imperialis Inggris tidak boleh jatuh untuk kedua kali ke dalam lobang yang sama, sehingga ia menentang dua badan perekonomian dunia yang merupakan kakitangan perekonomian neoliberal itu.

Neoliberalisme sendiri sebagaimana sudah sering diingatkan oleh tokoh nasional dan calon presiden, Dr Rizal Ramli, esensinya adalah pintu masuk neo-kolonialisme dan neo-imperialisme. Pintu masuk bagi penjajahan baru di bidang ekonomi yang ditandai dengan merajainya asing dan aseng yang menginjak-injak daulat ekonomi kerakyatan, seperti yang sedang melanda NKRI saat ini.

Di masa lalu pemimpin Boedi Oetomo menyebut neoliberalisme sebagai Een Plant Van Vreemden Bodem, atau Tanaman Dari Negeri Asing, yang tidak sesuai dengan iklim perekonomian Indonesia.

Pemimpin Sarekat Islam, Tjokroaminoto mencap neoliberalisme sebagai Het Zondig, faham murtad!

Mohammad Husni Thamrin menyebutnya faham penjahat dan perusak penghidupan rakyat. Sedang Sukarno mencelanya sebagai Ibu Semua Bencana.

Soal praktek neoliberalisme yang kini kian subur juga punya korelasi dengan sifat para elit kekuasaan kita hari ini yang kian terjangkit oleh Mnemophobia sekaligus Amnesia. Takut kepada ingatan sejarah, lupa permanen kepada peristiwa-peristiwa sejarah.

Kita hari ini semakin mudah melupakan peristiwa-peristiwa yang pernah menyakiti bangsa ini di masa lalu seperti praktek-praktek penindasan ekonomi terhadap rakyat berupa Kulturstelsel (Tanam Paksa), Kuli Kontrak, Romusha, Kerja Rodi, dan sebagainya, yang kini menjelma lagi ke dalam berbagai bentuk baru berupa kebijakan-kebijakan ekonomi neoliberalisme.

Mengingat peristiwa penindasan ekonomi yang menyakitkan rakyat di masa lalu bukanlah untuk menyuburkan dendam kesumat, melainkan harus menjadi modal untuk mengoreksi supaya tidak terulang lagi, mengapa dulu kita kalah dan sekarang kembali kalah; mengapa kita tidak berdaya.

Kalau kita tidak pernah mau belajar dari kesalahan dan dari kekalahan di masa lalu justru kita tidak akan pernah berubah. Itulah sebabnya praktek-praktek neoliberalisme semakin subur. Bahkan menteri-menteri bidang ekonomi pro neoliberal kini masih terus diawetkan di kabinet, tidak peduli rakyat menjerit-jerit mengalami berbagai tekanan dan himpitan ekonomi dalam kehidupan keseharian. [***]


Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya