Berita

Foto:Net

Nusantara

PILGUB JABAR

Aksi Kaus Sudrajat-Syaikhu Berpotensi Raup Suara Swing Voters

SENIN, 21 MEI 2018 | 09:44 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Aksi yang dilakukan pasangan calon nomor urut 3 Sudrajat dan Ahmad Syaikhu (Asyik) di panggung debat publik Pilgub Jabar 2018 merupakan sikap yang wajar dalam konteks berdemokrasi.

Paslon Asyik pada sesi penutupan debat publik putaran kedua Pilgub Jabar 2018 di Kampus Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Senin lalu (14/5) menuai pro dan kontra. Kala itu, Sudrajat menyampaikan kalimat penutup yang diiringi aksi Syaikhu membawa kaus bertuliskan "2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden".

Aksi Asyik kemudian direspon Bawaslu dengan keputusan memberi rekomendasi kepada KPU Jabar untuk menjatuhkan sanksi kepada paslon yang diusung Partai Gerindra, PKS dan PAN itu.


Pengamat politik, hukum dan pemerintahan dari Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung Asep Warlan Yusuf berharap persoalan ini segera selesai dan menghasilkan keputusan yang dapat diterima semua pihak sehingga proses politik jelang Pilgub Jabar tidak sampai menimbulkan kegaduhan yang lebih "nyaring".

"Saya tidak bisa katakan apa yang mereka (Asyik) lakukan itu benar dan saya juga tak bisa katakan hal itu melanggar. Kalau mengacu pada aturan seperti yang dikatakan Bawaslu kalau debat Pilgub itu harus sesuai konteks, berarti memang kurang pas. Tapi kalau konteksnya adalah demokrasi, itu bagian dari aspirasi. Jadi kita tunggu saja seperti apa langkah KPU, mudah-mudahan (keputusannya) yang terbaik dan bijak," kata Asep dalam keterangan yang diterima redaksi, Senin (21/5).

Asep menilai, kaos yang dibawa Asyik tersebut tidak lebih dari pesan politik dari partai pengusung yang akan memunculkan berbagai penafsiran dan bahkan pro dan kontra. Salah satunya dapat ditafsirkan bahwa kaos tersebut merupakan pesan dari partai koalisi pengusung Asyik terkait target politik mereka pada tahun politik 2018 dan 2019.

"Pilkada dan Pilpres tentu sangat erat kaitannya. Pasti muncul pro dan kontra, ada yang mengatakan kurang pas karena ini katanya kan Pilgub, tapi ada juga yang menganggapnya wajar karena bagian dari demokrasi," imbuhnya.

"Salah satunya mungkin bisa ditafsirkan kalau itu merupakan pesan dari partai politik pengusung mengenai target-target mereka di 2018 ini dan 2019 nanti. Mereka (Asyik) ingin menyampaikan partai mereka memiliki target yang sama dengan di Pilpres," ungkap Asep menambahkan.

Asep hanya berharap, semua pihak bersikap dewasa dalam menyikapi persoalan kaus "2018 Asyik Menang, 2019 Ganti Presiden" dan tidak mengedepankan sisi emosi. Sebab dalam demokrasi, semua pihak harus selalu siap menghadapi perbedaan.

Lebih dari itu, Asep menilai aksi Asyik di panggung debat publik justru bisa memberikan keuntungan. Elektabilitas Asyik selama ini berada jauh di bawah paslon Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum.

Tapi aksi membentangkan kaos tersebut bukan tak mungkin membuat Asyik bakal mendapat lebih banyak dukungan, terutama dari masyarakat yang belum menentukan pilihannya atau swing voters dan selama ini menginginkan perubahan di pemerintahan pusat.

"Swing voters di Pilgub Jabar masih cukup tinggi. Di sini diperlukan peran aktif dan efektif dari mesin politik. Kalau lihat dari pengalaman di 2008 dan 2013, saya melihat PKS ini cukup efektif. Bukan tidak mungkin itu bakal terjadi lagi di Pilgub sekarang walaupun secara elektabilitas berdasarkan beberapa survei (Asyik) masih ada di bawah paslon lain," demikian Asep. [rus]

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya