Berita

Joko Widodo/Net

Politik

Bahaya Cawapres 'Piala Citra'

KAMIS, 22 FEBRUARI 2018 | 12:33 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

SALAH satu teknik untuk membangun pencitraan adalah dengan merekayasa opini bahwa diri kita dibully atau dizalimi. Lantaran ada kepercayaan masyarakat kita menyukai hal-hal yang melodramatik & melankolik.

SBY naik jadi presiden karena dibangun opini dizalimi karena tidak diajak dalam rapat-rapat kabinet Megawati dan mendiang Taufik Kiemas waktu itu menyebutnya jenderal yang seperti anak kecil.
Anies Baswedan gubernur Jakarta yang berambisi jadi calon presiden dan diperkirakan bakal jadi kompetitor Jokowi di Pilpres tahun depan disebut-sebut sedang gencar melakukan berbagai tekhnik pencitraan.

Kejadian dihalang-halanginya Anies yang ingin mendampingi presiden memberikan trophi di ajang Piala Presiden beberapa hari yang lalu terbaca oleh publik sebagai bagian dari tekhnik pencitraan seakan-akan Anies dibully atau dizalimi.

Kejadian dihalang-halanginya Anies yang ingin mendampingi presiden memberikan trophi di ajang Piala Presiden beberapa hari yang lalu terbaca oleh publik sebagai bagian dari tekhnik pencitraan seakan-akan Anies dibully atau dizalimi.

Pola rekayasa opini seolah dibully atau seolah dizalimi sekarang sudah menjadi emotion play untuk menarik (mengelabui) publik yang ironisnya  soal-soal bully dan soal-soal dizalimi (pencitraan) seperti ini malah jadi bahan ulasan kalangan terdidik yang terlibat menjadi partisan. Tidak mengoreksi atau mengkritisi meski padahal secara esensi politik pencitraan adalah indikator kemunduran dimana pemimpin yang benar-benar handal, memiliki visi, integritas, kompetensi, reputasi, dan prestasi akan sulit didapatkan.

Nama-nama yang belakangan ini mengajukan diri untuk menjadi cawapresnya Jokowi di Pemilu Presiden tahun depan juga melakukan pola rekayasa opini yang sama.

Muhaimin Iskandar yang belakangan rajin mengkampanyekan diri kepingin jadi cawapresnya Jokowi malah telah mengundang tanda tanya besar lantaran dirinya mengklaim sebagai sosok yang mewakili umat, pada fakta lain porsi suara partai yang dipimpinnya ternyata sangat kecil.

Stigma lain yang melekat pada Cak Imin adalah perebut takhta PKB dari tangan Gus Dur, pendiri PKB dan yang merupakan pamannya sendiri, yang dia gulingkan begitu saja  tanpa diberikan tempat sedikitpun hingga kini  berkaitan dengan jasa-jasa besar Gus Dur.

Adapun Rommy (Romahurmuziy) sang Ketum PPP yang meski kelihatan tak segencar Cak Imin menggelindingkan diri kepingin jadi cawapresnya Jokowi oleh banyak kalangan dianggap belum layak, salah satunya Rommy dianggap tak becus menyelesaikan konflik internal di partainya sendiri yang diperebutkan oleh Djan Faridz.

Ada yang bilang lebih baik Rommy belajar jadi menteri lebih dulu supaya punya cukup pengalaman terlibat dalam pengelolaan negara.

Nama-nama yang mengajukan diri ingin menjadi cawapresnya Jokowi di Pemilu Presiden tahun depan esensinya adalah ingin mendapatkan privilege belaka, mereka berlomba untuk itu, sebab pada dasarnya mereka tidak memiliki modal yang cukup yang berkaitan dengan visi, integritas, kompetensi, prestasi, reputasi, dan keberpihakan yang jelas terhadap rakyat.

Ibaratnya mereka layak mendapat ‘’piala citra’’ yaitu piala pencitraan, karena sesungguhnya mereka sekarang sedang berlomba dalam hal membangun pencitraan dengan berbagai tekhnik dan variasi mereka masing-masing untuk mengelabui rakyat. Karena pencitraan bukan substansi karena itu sangat berbahaya.[***]


Penulis merupakan wartawan senior
iniorangbiasa@yahoo.com


 

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

UPDATE

Realisasi Pendapatan Perparkiran di Jakarta Memble

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:21

Keluarga Sutrimo Tak Lagi Pasrah soal Penyebab Kematian Karumga Febrie

Senin, 10 Agustus 2026 | 04:18

Rp4,1 Triliun BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II segera Cair

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:36

Penjarahan dan Keruntuhan Kota Roma, 410 M

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:16

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

Pancasila Dasar Negara Kita

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:43

Rudy Tanoe Bantah Mangkir Panggilan KPK

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:16

Waspada Banjir Rob Rendam Kawasan Pesisir Jateng

Senin, 10 Agustus 2026 | 02:00

Dibuka Sayembara Rp100 Juta untuk Ijazah SMA Gibran

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:28

Zikir Kebangsaan di Istiqlal

Senin, 10 Agustus 2026 | 01:08

Selengkapnya