Berita

Foto/RMOL

Mempelajari Pancasila dari Keteladanan Para Pemimpin Pendiri Bangsa

SABTU, 20 JANUARI 2018 | 06:25 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid membuka Sosialisasi Empat Pilar MPR di Gelora Ballroom Hotel Madani, Medan Sumatera Utara, pada Jum’at (19/1).

Dalam sambutan pembuka Hidayat mengatakan kegiatan ini merupakan bagian penting yang bisa mengoreksi beragam pengaruh negatif di kehidupan berbangsa dan bernegara.

Seperti pengaruh radikalisme, terorisme, atheis, komunis, separatis, dan fenomena LGBT yang bertentangan dengan Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Terlebih kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR ini dilaksanakan bersama dengan rapat koordinasi Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia.


Menurtnya hal tersebut merupakan salah satu metode sosialisasi yang menarik dan yang pertama kali dilaksanakan pada awal tahun ini.

"Ini merupakan salah satu metode sosialisasi, yaitu sosialisasi sekaligus rakor. Itu artinya bahwa Sosialisasi Empat Pilar MPR, yakni Pancasila, UUD NRI 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, bisa bersama-sama dilakukan di semua kegiatan masyarakat. Jadi, ini satu kondisi yang penting untuk dikembangkan," kata Hidayat.

"Sosialisasi ini sangat penting supaya anak-anak bangsa memahami Indonesia," imbuhnya.  
 
Hidayat menambahkan pada kenyataanya MPR tidak mungkin sendiri dalam melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI lantaran jumlah anggota MPR yang terbatas.

Walaupun anggota MPR adalah anggota DPR dan DPD. Namun kedua lembaga itu juga memiliki agenda sendiri.

Oleh karena itu MPR tidak henti-hentinya menyampaikan pentingnya sosialisasi Pancasila kepada Pemerintah. Bersyukur dalam masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo, kegiatan ini disambut dengan baik dengan dikeluarkanya Kepres serta dibentuknya Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKPIP) oleh Presiden Joko Widodo.

"Respon baik pemerintah itu bisa semakin mengokohkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ujar Hidayat.

Lebih lanjut Hidayat Nur Wahid menyampaikan tatanan kehidupan bangsa Indonesia dibangun atas dasar negara Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Di sisi lain Hidayat mengungkapkan masih ada upaya untuk mendikotomi Islam dan ke-Indonesia-an. Menurutnya ke-Indonesia-an adalah juga ke-Islam-an. Ini bisa dilihat dari bukti keterlibatan umat Islam dalam perjalanan sejarah Indonesia, seperti K.H. Wahid Hasyim, K.H. Kahar Muzakar, Moh Natsir, Ki Bagus Hadikusumo.

"Indonesia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pemikiran, para tokoh, pemimpin Islam. Mereka menyepakati tentang sila-sila pada Pancasila serta ke-Indonesia-an kita. Inilah yang perlu disampaikan kepada generasi zaman now. Karena generasi zaman now seringkali tidak paham," jelas Hidayat.

"Saya tidak setuju dengan pendikotomian itu. Dikotomi itu mungkin karena phobia terhadap Islam dan umat Islam. Seolah-olah anti Pancasila, anti-NKRI," tambahnya lagi.

Dengan pemahaman ini, Hidayat berharap, ke depan agar tidak ada lagi pemikiran mendikotomikan ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an. Hidayat meminta jangan ada upaya mengadu-domba antara umat Islam dan negara.

Negara juga jangan mau diprovokasi untuk memusuhi umat Islam, dan sebaliknya umat Islam jangan memusuhi negara.
 
"Adu domba itu hanya menguntungkan mereka yang anti negara, yaitu kelompok LGBT, liberalis, separatis, komunis. Sosialisasi ini menghadirkan bahwa antara ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an sesungguhnya menyatu," ujarnya.
 
Sosialisasi Empat Pilar MPR ini ditujukan kepada semua elemen masyarakat termasuk penyelenggara negara, TNI, Polri, mahasiswa.

"Jadi jangan hanya rakyatnya saja yang diminta melaksanakan Pancasila, pemerintahnya juga harus melaksanakan Pancasila," ucapnya.
 
Di akhir sambutanya, Hidayat Nur Wahid mengatakan, tantangan para generasi zaman now sangat komplek. Untuk itu diharapkan dalam menjaga kebhinnekaan ini para guru terutama yang tergabung  di JSIT dapat menggunakan cara-cara yang pernah di lakukan oleh para para founding fathers dan mothers yakni, Pancasila.

"Kita harus mempelajari Pancasila dari keteladanan para pemimpin pendiri bangsa ini," ujar Hidayat. [nes]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

UPDATE

Manifesto PRD 1996: Ketika Sekelompok Anak Muda Membuat Penguasa Susah Tidur

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:27

Kanada Minta Warganya Waspadai Wabah Cyclospora sebelum Bepergian ke AS

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:16

BRI Peduli Buka Jalan UMKM Mebel Sukoharjo Tembus Pasar Global

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:10

Ganti Kapolri dan Jaksa Agung Diusulkan Barengan

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:06

Kemnaker Jamin 134 Pegawai PT Amos Terima Pesangon Rp12,7 Miliar

Kamis, 23 Juli 2026 | 16:03

Purbaya Ungkap Alasan RI Tawarkan Pajak 0 Persen Selama 50 Tahun di PFII

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:47

KPK Sita Toyota Alphard Diduga Hadiah Proyek Bupati Lalu Ahmad Zaini

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:30

Risiko Perang Terbuka AS-Iran Meningkat Gegara Rebutan Selat Hormuz

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:23

KPK Bantah Kabar Penangkapan Gatot Heroe Hernanda

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:17

Fahira Ungkap Lima Tantangan Anak Indonesia dan Solusinya

Kamis, 23 Juli 2026 | 15:12

Selengkapnya