Berita

Rachland Nashidik/Net

Politik

Wasekjen Demokrat: Sekjen PDIP Populis Gadungan Yang Kekanak-kanakan

JUMAT, 05 JANUARI 2018 | 13:38 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto disebut sebegai populis gadungan yang kekanak-kanakan. Hasto lewat pernyataan-pernyataan reaksionernya, sedang membawa PDIP ke dalam petualangan yang mempermalukan diri sendiri.

Demikian ditegaskan Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Rachland Nashidik menanggapi omongan Hasto yang mengaku PDIP sering menerima intervensi bahkan dari penguasa. Tapi kata Hasto,partainya tidak pernah mengeluh berbeda dengan 'partai sebelah'.

Hasto juga mengaku sebelum menjadi partai berkuasa seperti sekarang, PDP pernah ditekan, diintimidasi, diintervensi dan dipecahbelah pada masa Orde Baru. Namun PDIP tidak pernah mengeluh.


Atas pernyataan itu, menurut Rachland, Hasto tidak membantah dugaan partainya bertanggung-jawab dalam opresi dan kriminalisasi yang bertubi-tubi terhadap Demokrat, kali ini dalam persiapan Pilkada di Kalimantan Timur. Hasto tanpa rasa malu, justru seperti mengamini praktek-praktek kotor yang lagi-lagi melibatkan polisi tersebut.

Jelas dia, Hasto benar, partainya pernah mengalami opresi di masa lalu yang berujung pada skandal perampasan kantor PDIP, 27 Juli 1996. Tapi upaya Hasto menggunakan sejarah opresi yang dialami PDIP di masa lalu untuk membenarkan  opresi pada partai lain di masa kini adalah sesat dan keji.

"Hasto membuat kita teringat pada ideologi zionisme, yang menggunakan penderitaan bangsa Yahudi di masa lalu untuk membenarkan dan meminta dunia memaklumi opresi Israel terhadap bangsa Palestina," ujar Rachland dalam keterangan tertulis, Jumat (5/1).

"Hasto sendiri mungkin perlu lebih dulu menjelaskan dimana ia berada saat skandal 27 Juli terjadi. Apakah ia berada bersama para aktivis partai, mahasiswa dan warga yang bahu membahu melawan serangan; ataukah asyik mengurusi karirnya sendiri di PT Rekayasa Industri?" lanjutnya.

Rachland mengungkapkan, menyebut PDIP menghadapi skandal 27 Juli dengan cara "menyatu dengan rakyat" adalah klaim kosong tidak berdasar. Diterangkannya, ketika itu adalah aktivis mahasiswa dan warga yang aktif mendekati elit PDIP, daripada sebaliknya. Elit PDIP saat itu lebih dekat dengan para Jenderal ABRI daripada dengan rakyat.

Lanjut dia, klaim itu juga menyakiti memori para korban karena semasa Megawati Soekarnoputri menjabat Presiden, Mega justru menolak mengusut skandal itu demi membuat hukum tegak dan melayani tuntutan keadilan bagi para korban yang sebagian sampai hari ini tak diketahui nasibnya.

"Alih-alih mengusut, Mega justru mengangkat Jenderal yang diperintah Soeharto untuk mengomandani skandal 27 Juli menjadi Gubernur DKI Jakarta," ujar Rachland.

Dengan demikian, tegas Rachland, Hasto adalah jurubicara yang buruk bagi politik Indonesia.

"Dan juga bagi PDIP, partai yang sebenarnya perlu lebih keras membuktikan komitmennya pada kebebasan demokratik dan penegakkan hukum, mengingat semasa Megawati Presiden, terjadi pembunuhan pada Munir dan Theys Eluay," tutupnya. [rus]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Kodam XII/Tanjungpura Geser Pasukan Atasi Karhutla ke Selatan Kalbar

Sabtu, 19 September 2026 | 05:09

Ketika Politik Uang Dianggap Wajar

Sabtu, 19 September 2026 | 04:45

Profesor Webster University: Pimpinan Negara Barat Harus Contoh Prabowonomics

Sabtu, 19 September 2026 | 04:16

Ekosistem Pengolahan Ikan Skala Mikro dan Kecil Terus Diperkuat

Sabtu, 19 September 2026 | 03:45

Fapet IPB University Hasilkan Inovasi Songsong Komersialisasi Ayam Lokal

Sabtu, 19 September 2026 | 03:13

Kejati Sumut Didesak Usut Tuntas Kasus Lahan Tol Medan-Binjai

Sabtu, 19 September 2026 | 02:45

Ketika Polemik Ijazah Berubah jadi Komoditas Politik

Sabtu, 19 September 2026 | 02:17

Tim Hukum UIN Jakarta Datangi Kejati Banten Usut Korupsi Eks Rektor

Sabtu, 19 September 2026 | 01:50

Humanika Harus Bantu Presiden Bawa Keluar RI dari Middle Income Trap

Sabtu, 19 September 2026 | 01:26

Konstruksi Waktu Dugaan TPPU dan Pemerasan Kasus Febrie Tidak Sinkron

Sabtu, 19 September 2026 | 01:02

Selengkapnya