Berita

SMSI/Net

Politik

Seruan Pengurus Pusat SMSI Hadapi Hoax Di 2018

MINGGU, 31 DESEMBER 2017 | 20:24 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Acapkali kabar bohong (hoax) dan ujaran kebencian mampu menerobos masuk ke ruang redaksi media, khususnya media massa berbasis internet. Sehingga menciptakan kebingungan dan mempertajam pertikaian yang terjadi di tengah masyarakat.

"Tidak berlebihan bila ada anggapan yang mengatakan bahwa tak sedikit energi sosial bangsa Indonesia habis untuk menanggapi kabar bohong dan ujaran kebencian sepanjang 2017," ujar Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Teguh Santosa dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Minggu (31/12).

Dia menjabarkan bahwa ada dua hal yang umumnya menyebabkan ruang redaksi kebobolan dan ikut mendiseminasi kabar bohong dan ujaran kebencian. Pertama, pemahaman terhadap kode etik jurnalistik dan kemampuan menghasilkan karya jurnalistik yang rendah.


"Kedua, ketidakmampuan pengelola redaksi menarik garis tegas dan menjaga jarak dengan kepentingan-kepentingan lain di luar kepentingan publik yang seharusnya menjiwai produk pers," urai pengajar FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Namun demikian, Teguh menilai pengalaman memprihatinkan di sepanjang tahun 2017 itu patut dijadikan pelajaran berharga sebagai bekal dalam memasuki 2018 dan tahun-tahun berikutnya.

Atas alasan itu juga, dalam menyambut tahun 2018, Pengurus Pusat SMSI mengeluarkan sejumlah seruan untuk anggotanya yang tersebar di setiap provinsi di seluruh Indonesia.

"Pertama, mendorong perusahaan media siber yang menjadi anggota SMSI untuk terus meningkatkan pemahaman dan penghormatan terhadap kode etik jurnalistik serta kemampuan wartawan dalam memproduksi karya pers," ujarnya.

Kedua, SMSI mendorong perusahaan media siber yang menjadi anggotanya untuk terus menerus mengkampanyekan Pedoman Pemberitaan Media Siber yang dikeluarkan Dewan Pers.

Terakhir, SMSI Mengingatkan pemilik dan pengelola media siber anggotanya bahwa tahun 2018 dan 2019 adalah tahun yang dipenuhi agenda politik lokal dan nasional.

"Masyarakat pers memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk ikut menciptakan proses politik yang demokratis, konstruktif dan produktif bagi bangsa dan negara," tutup Teguh. [ian]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

KPK Amankan "Surat Tekanan" dari Rumah Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Kamis, 16 April 2026 | 18:15

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kasus Penyiraman Andrie Yunus Masuk Sidang Terbuka Akhir April

Kamis, 16 April 2026 | 18:09

Emil Dardak Prihatin Tiga Kepala Daerah Jatim Kena OTT KPK

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Pimpinan Ombudsman: Kasus Hery Susanto Terjadi Sebelum Menjabat

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Erick Thohir Bawa Kemenpora Tembus Top 5 Kementerian Kinerja Terbaik

Kamis, 16 April 2026 | 17:40

Puspen TNI Pastikan Sidang Kasus Andrie Yunus Terbuka

Kamis, 16 April 2026 | 17:37

BNPB Catat 23 Bencana dalam Dua Hari

Kamis, 16 April 2026 | 17:28

Fokus pada Inovasi dan Kesejahteraan, Bupati Mimika Raih KWP Award 2026

Kamis, 16 April 2026 | 17:22

Sudewo Ngaku Kangen Warga Pati

Kamis, 16 April 2026 | 17:17

Selengkapnya