Berita

Jokowi/Net

Politik

Kata Jokowi, Medsos Di Indonesia Lebih Kejam Ketimbang Iran

SENIN, 09 OKTOBER 2017 | 09:55 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Media massa telah mengalami transformasi yang pesat di era digital.

Masyarakat kini dengan mudah bisa mengakses segala informasi melalui smartphone yang dimiliki. Hasilnya, saat ini batas-batas kebenaran sebuah informasi menjadi samar.

Bagitu kata Presiden Joko Widodo saat memberikan arahan mengenai cara menyikapi transformasi media di Gedung Graha Pena, Surabaya, Minggu (8/10) malam.


Jokowi kemudian membandingkan pengaruh perkembangan informasi hoax yang dirasakan negara-negara lain. Dalam sebuah pertemuan, Jokowi mengaku sempat ditanya oleh Presiden Iran Hassan Rouhani tentang bagaimana keterbukaan media di Indonesia, apakah sama bahayanya seperti di negeri Para Mullah itu.

"Saya jawab, lebih kejam di Indonesia. Beliau kaget," ucapnya diiringi tawa para tamu undangan.

Selain itu, ada juga pemimpin negara lain seperti Malaysia dan Singapura yang mengalami keluhan serupa.

Menurutnya, saat ini pemerintah hanya bisa mengendalikan media mainstream. Tapi untuk informasi hoax di media sosial, pemerintah kewalahan.

"Tapi ini mau tidak mau harus kita hadapi, perubahan-perubahan ini semua harus dihadapi bersama," pungkasnya. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya