Berita

Dirwan Mahmud/Net

Politik

Masalah Limbah Dianggap Main-main, PT SBS Ditutup Bupati Bengkulu Selatan

MINGGU, 08 OKTOBER 2017 | 22:43 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Bupati Kabupaten Bengkulu Selatan, Dirwan Mahmud memberikan penalti terhadap PT Sinar Bengkulu Selatan (SBS) dengan cara melakukan penutupan pabrik pengolahan kelapa sawit tersebut.

Dirwan menjelaskan bahwa rentang waktu yang diberikan kepada PT SBS untuk melakukan perbaikan terhadap pengolahan limbah pabrik telah habis, namun kesempatan tersebut tidak ditepati pihak pabrik CPO itu.

Teguran ancaman penutupan sementara merupakan peringatan yang diberikannya, tetapi Dirwan menilai PT SBS menganggap permasalahan limbah ini main-main.


Januari lalu pihaknya telah melayangkan surat teguran pertama terhadap PT SBS terkait rekomendasi yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup mengenai enam temuan yang dikumpulkan tim melalui verifikasi lapangan agar PT SBS mengirimkan laporan serta raport merah yang diberikan Kementerian.

"Setelah diberikan waktu untuk perbaikan PT SBS ini acuh sepertinya, hingga saat ini teguran dan laporan yang diminta tidak dipenuhinya hingga rentang waktu yang telah habis, apa yang dijanjikan kepada pemerintah terkait laporan tidak diakomodir maka akan saya tutup itu PT SBS," geram Dirwan seperti dikutip dari RMOLBengkulu.

Dirwan menjelaskan, akan melakukan pemanggilan pihak perusahaan untuk mempertegas penutupan pabrik pengolahan kelapa sawit (CPO) tersebut.

"Dalam waktu dekat ini akan saya panggil, sebenarnya minggu ini namun karena kesibukan saya makanya tertunda. Secara resmi saya yang akan langsung melakukan panggilan dan resmi saya tutup," tegas Ketua DPW Perindo Provinsi Bengkulu ini.

Teguran terkait pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh PT SBS merupakan teguran keras langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup bukan pemerintah daerah. Tugas dari pemerintah daerah yakni melakukan pengawasan terhadap kebenaran laporan itu, jika terbukti maka pemerintah daerah harus mengambil sikap dan keputusan.

Pemerintah daerah sendiri, telah menerima banyak laporan pencemaran lingkungan yang dilakukan pabrik tersebut, seperti matinya sejumlah biota sungai akibat limbah B3 yang dibuang oleh pabrik tanpa pengolahan, polusi udara dan suara hingga ganguan kesehatan yang dialami oleh masyarakat di sekitaran pabrik akibat dari bau busuk dari limbah pabrik.

Dirwan juga menjelaskan jika pemerintah daerah tidak diuntungkan dengan adanya PT SBS tersebut. Bahkan Dirwan menuding keberadaan pabrik kelapa sawit ini memberikan dampak buruk bagi lingkungan serta merusak sejumlah jalan yang ada.

Yang ada jika pemerintah daerah terus membiarkan aktivitas PT SBS dan tidak menindak tegas, dengan melakukan pengolahan pabrik yang tidak kunjung diperbaiki maka akan semakin besar kepala pihak perusahaan.

"Mana ada kontribusi perusahaan itu untuk pemerintah daerah, keuntungan mereka sendiri yang dipikirkannya tanpa berpikir keuntungan bagi masyarakat, itu jalan banyak rusak yang ada karena perusahaan PT SBS, saya penalti sudah pokoknya. Kalau tidak ditindak tegas perusahaan ini semakin besar kepala," kesal Dirwan.

Dirinya mengimbau kepada masyarakat yang ingin melakukan penjualan sawit untuk berpindah ke pabrik-pabrik sawit yang lainnya. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya