Berita

Politik

Celaka Orang Bodoh

RABU, 21 JUNI 2017 | 23:17 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

"INI transaksi pembelian saham kelas Jin Ifrid yang tidak dapat dipahami bangsa hantu belau"

Demikian pepatah lama yang sering dikemukakan oleh orang tua kita dengan maksud agar kita terus belajar dari lingkungan, sekolah dan pengalaman, agar tidak berbuat kebodohan atau dibodoh bodohi sama orang.

Apa yang terjadi baru baru ini dalam proses pembelian saham Newmont Nusa Tenggara (divestasi) oleh swasta Indonesia mengusik ketenangan dan rasionalitas kita. Apa sesungguhnya yang terjadi. Apakah elite indonesia ini bodoh atau elite Indonesia dibodoh bodohi sama orang atau memang masa bodoh amat?


Mari kita melihat cerita ini dari awal.
Perusahaan Newmont adalah perusahaan pertambangan asing dari Amerika Serikat. Pada tahun 1996 melakukan investasi senilai 1,9 miliar dolar dalam rangka mengeruk emas, tembaga dan perak di Kabupaten Sumbawa, NTB. Perusahaan ini resmi produksi tahun 2000. Setelah 20 tahun mengeruk emas, perak dan tembaga di Batu Hijau Sumbawa hingga habis, nilai valuasi aset Newmont malah naik menjadi 3,5-4 miliar dolar. Aneh ya..ekonomi?

Skandal besar di mulai tahun 2010 perusahaan terkena kewajiban melakukan divestasi saham sebesar 51 persen yang harus dilepas dengan harga pasar. Akan tetapi saham ini jatuh ke tangan Abu Rizal Bakrie (24 persen include saham pemda NTB 6 persen) dengan dana yang dipinjamkan bakrie dengan bunga komersial. Bakrie sendiri meminjam dari Singapura untuk membeli saham newmont.

Harga hasil tambang jatuh pada penghujung 2014, perusahaan tambang newmont mulai menghadapi musim paceklik. Perusahaan menanggung utang besar. Newmont, Bakrie dalam keadaan sekarat. Kredit pertambangan mencapai rekor paling buruk di bank bank nasional. NPL perbankan pertambangan 6 persen broo.. sis....NPL tersebut dua kali lebih besar dari standar keamanan yang ditetapkan dalam Basel III.

Cerita skandal keuangan berlanjut.
Tiga bank nasional yakni PT. Bank Mandiri, PT. Bank BNI, PT bank BRI, mengambil pinjaman dari China senilai 3 miliar dolar. Ini adalah pinjaman yang besar dalam situasi memburuknya kondisi keuangan bank bank BUMN tersebut.

Lebih mengejutkan lagi tiba tiba ketiga bank tersebut memberikan kredit kepada perusahaan swasta Medco milik Arifin Panigoro untuk membeli saham Newmont dan saham Bumi Resources milik Aburizal Bakrie. Ini adalah tindakan nekat bank BUMN di tengah memburuknya harga komoditas tambang yang menjadi ancaman abruknya kredit sektor perbankkan.

Arifin Panigoro sendiri konon adalah kolega Bakrie dalam bisnis tambang. Jadi ini beli saham kawan dengan dana bank BMMN yang dipinjam dari luar negeri. "Ini sebetulnya adalah permainan tingkat jin ifrid yang tidak terjangkau oleh bangsa hantu belau." Luar biasa kelakuan Bank BUMN di era pemerintahan Jokowi ini.

Bagaimana Newmont, tentu saja untung. Mengapa? Newmont mendapatkan pembelian dengan harga paling layak sehingga newmont yang tengah terpuruk bisa membayar utang utangnya dan membagi deviden. Lebih untung lagi Newmont berhasil kabur dari Sumbawa dengan meninggalkan lubang bekas tambang dengan diameter 3 kilometer dan kedalaman 200 meter di bawah permukaan laut, meninggalkan kota hantu. [***]

Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)


Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

Momen Haru, Teddy Kenang Perjalanan Gubernur Pramono di Kantor Setkab

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:16

Fondasi Membangun Ekosistem Informasi yang Sehat di Era Digital

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14

Jangan Sampai Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Gejolak Pasar

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:07

Kuasa Hukum Nadiem Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik dan Intimidasi Saksi ke KY

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:04

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KDKMP Diklaim Bisa Tambah Pendapatan Petani hingga Rp263 Triliun

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59

Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:51

Chad Ikuti Jejak Burkina Faso, Mali, dan Niger Keluar dari ICC

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:49

Hasto Ogah Tanggapi Kaesang Maju Nyaleg di Jateng

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:36

Selengkapnya