Berita

Kepala Badan Penanggulangan Bencana DPP GMNI, Abdur Rauf Wattimury. (Foto: Istimewa)

Politik

GMNI Desak Presiden Prabowo Evaluasi Menhan Sjafrie, Ini Sebabnya

MINGGU, 06 SEPTEMBER 2026 | 23:52 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) melayangkan kritik keras terhadap Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin atas pernyataannya terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 

DPP GMNI secara tegas mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera melakukan evaluasi total hingga mempertimbangkan opsi pencopotan (reshuffle) Menhan dari posisinya.

Kritik tajam ini disampaikan oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana DPP GMNI, Abdur Rauf Wattimury. Ia menilai respons Menhan yang menyebut penyelesaian Karhutla "tergantung masyarakat Indonesia" adalah bentuk pernyataan yang sangat tidak bertanggung jawab, nir-empati, dan mencerminkan sikap cuci tangan dari kewajiban dasar negara.


"Kami mengecam keras pernyataan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Menggantungkan penyelesaian bencana ekologis seperti Karhutla kepada masyarakat adalah sikap acuh tak acuh yang memperlihatkan kelalaian fatal. Negara dibekali anggaran, instrumen hukum, serta kekuatan armada, tetapi saat krisis terjadi, Menhan justru melempar beban tanggung jawab ke pundak rakyat," tegas Abdur Rauf dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu malam, 6 September 2026.

Menurut dia, posisi Menteri Pertahanan memegang peranan vital dalam sistem ketahanan nasional—yang mencakup perlindungan ruang hidup masyarakat dari ancaman bencana ekologis secara sistematis. Pola komunikasi dan cara pandang Menhan yang memindahkan beban kewajiban ke publik dianggap dapat merusak kewibawaan pemerintah serta meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap komitmen penanganan Karhutla.

"Pernyataan tersebut membuktikan minimnya kepekaan dan efektivitas kepemimpinan dalam merespons krisis. Jika seorang pejabat tinggi negara tidak lagi mampu menunjukkan komitmen kepemimpinan yang solutif, maka tidak ada alasan bagi Presiden untuk membiarkannya bertahan di jajaran kabinet," lanjutnya.

Atas dasar tersebut, Badan Penanggulangan Bencana DPP GMNI menyampaikan tiga poin tuntutan tegas yakni pertama Mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi secara menyeluruh dan mencopot Sjafrie Sjamsoeddin dari jabatan Menteri Pertahanan apabila tidak menunjukkan itikad pembenahan serta kinerja konkret dalam penanganan bencana, 

Lalu yang kedua meminta pemerintah berfokus pada penegakan hukum tegas dan transparan terhadap aktor-aktor korporasi besar yang menjadi dalang utama perusakan lingkungan dan Karhutla, alih-alih menyalahkan masyarakat.

Terakhir, DPP GMNI Mendorong konsolidasi kepemimpinan kabinet yang peka krisis, transparan, serta mengutamakan keselamatan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup yang sehat bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Kabinet Kerja Presiden Prabowo membutuhkan sosok pejabat yang siap memikul tanggung jawab dan menghadirkan solusi nyata di lapangan, bukan pejabat yang buang badan saat rakyat sedang mengecap dampak kabut asap dan kerusakan lingkungan," pungkas Abdur Rauf.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebelumnya menyatakan target karhutla bisa padam bergantung pada masyarakat Indonesia. Sebab, penanganan karhutla membutuhkan gotong royong semua pihak.
Mulanya, Sjafrie menjelaskan anggaran Kemhan terdiri atas dua target, yakni target program dan target dinamis. Menurutnya, karhutla dan bencana alam masuk dalam target dinamis.

Target program sudah dialokasikan, tapi target dinamis seperti kebakaran hutan, gempa bumi, ini juga akan kita memperoleh bantuan dari negara kepada anggaran pertahanan untuk kita akselerasi bantuan yang bisa kita berikan dalam mengatasi bencana gempa bumi dan bencana kebakaran hutan ini," kata Sjafrie usai rapat bersama Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin, 31 Agustus 2026. 

Sjafrie kemudian menyebut karhutla bisa padam bergantung pada masyarakat Indonesia dan gotong royong semua pihak.

"Target kebakaran hutan itu tergantung rakyat Indonesia. Jadi kita harus bergotong royong mengatasi ini semuanya, ya. Tadi saya sudah kasih tahu, itu pengusaha-pengusaha yang punya alat berat, alutsista, helikopter water bombing, berbantuan kepada BNPB, ya," tandasnya.
 

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Dede Indra: Polri Serius Perangi Narkoba!

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:26

Grup Salim Guyur Rp2,25 Triliun untuk Buyback Saham, Ini Efeknya bagi LSIP, INDF, dan ICBP

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:13

Fokus Penuhi Kebutuhan Domestik, RI Mulai Rem Ekspor Gas ke Singapura

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:35

98 Resolution Network Soroti Tata Kelola SDA dan Ekonomi Kerakyatan di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:07

TRUK dan PNSE Rajai Daftar Saham Top Gainers Sepekan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:46

Harga iPhone Duo di Indonesia, Mulai Rp 45 Juta hingga Rp 75 Juta

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:30

Tanpa Suara, BYD Atto 1 Seruduk Mobil dan Lindas Pengemudi Ojol

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:26

5 Gunung di Pulau Jawa Dilanda Karhutla Pekan Ini

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:23

Cara Cek Sebaran Asap Karhutla lewat Website BMKG dan NASA

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:02

Mengenal Virus Shamonda yang Ditemukan pada Pasien Meninggal di Prancis

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 11:59

Selengkapnya