Berita

Foto/Net

Politik

Suara Anies Vs Ahok Serempetan Di Tikungan

Debat Final Hambar
KAMIS, 13 APRIL 2017 | 08:58 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ibarat masakan, debat final Pilgub DKI Jakarta semalam seperti kurang garam alias hambar. Tak terlihat, gereget pertarungan argumentasi antara Ahok-Djarot dengan Anies-Sandi. Di sisi lain, ada kejutan di survei terakhir siapa yang akan jadi juara Pilgub DKI. Suara Anies sudah serempetan mengejar suara Ahok di tikungan terakhir.

Final debat yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta, semalam secara teknis terlihat matang. Program dibuat variatif dengan menyertakan pertanyaan masyarakat yang disampaikan empat komunitas profesi Ibukota. Apalagi, debat kali ini kembali dimoderatori Ira Koesno.

Namun hal ini tak diimbangi dengan penampilan para kandidat. Dari awal, baik Ahok maupun Anies tak berusaha "menjual" programnya dengan meyakinkan. Contohnya saat keduanya mendapat pertanyaan soal hubungan dengan DPRD.


Mendapat kesempatan menjawab pertama, Ahok justru bercerita tentang pengalamannya saat pernah 'tegang' dengan DPRD DKI di tahun 2015. Kala itu, hubungan eksekutif dan legislatif memanas lantaran Ahok sempat menyebut ada dana siluman. Salah satunya, untuk pengadaan perangkat uninterruptible power supply (UPS). "Jangan suudzon ke semua anggota dewan, ada yang baik, hanya ada oknum tertentu," ucap Ahok.

Di sisi lain, Anies mengatakan bahwa poin pentingnya adalah memperjuangkan aspirasi warga dan mengutamakan transparansi. Dia juga berjanji akan merangkul DPRD. "Bagaimana pemimpin bisa merangkul, kami akan mendekati DPRD dengan hormat, tidak melanggar prinsip, sampaikan pada publik tanpa merendahkan siapapun," ucap Anies.

Kondisi ini tak berubah saat memasuki sesi tanya jawab dengan pertanyaan dari masyarakat. Padahal, pertanyaan yang diajukan cukup menohok, terutama untuk pertahana. Pak Karto, perwakilan komunitas rusun dan toilet untuk semua, mengeluhkan tinggal di Rusun Jatinegara yang ia dapat dari kompensasi normalisasi Kali Ciliwung. Di rusun itu, sering bocor.

Ahok yang biasanya gampang marah, justru adem. Ahok mengaku bahwa ada rusun-rusun yang kualitasnya kurang baik. "Itu dibangun oleh kontraktor maling jadi berakibat seperti itu," ucapnya. Dia pun lantas meminta maaf. "Ada kesalahan desain masa lalu, saya mohon maaf," tambahnya.

Keademan kandidat juga terlihat di balik layar. Saat jeda iklan, Djarot sempat menyambangi meja Anies-Sandi yang sedang mengobrol. Ketiganya pun nimbrung. Tidak ada ketegangan yang terlihat dari mereka.

Bahkan, ketika head to head antara dua cawagub: Djarot versus Sandi, justru lebih adem lagi. Keduanya mengawali debat dengan berpelukan dan saling melempar senyum. Bahkan, ketika Sandi tidak paham atas pertanyaan Djarot, soal perumusan KUA PPAS yang merupakan tugas seorang wagub. politisi PDIP itu justru tidak menjatuhkan Sandi. "KUA PPAS itu apa ya?" tanya Sandiaga. Djarot pun menjelaskan, KUA PPAS merupakan singkatan dari Kebijakan Umum Anggaran dan Prioriotas Plafon Anggaran Sementara.

Perdebatan mulai agak memanas saat Ahok head to head dengan Anies. Anies yang mendapat kesempatan bertanya memaparkan data pendidikan di Jakarta dan menanyakan solusi akses pendidikan ke Ahok.

Ahok mengatakan saat ini angka partisipasi kasar terkait pendidikan meningkat. Dia mengatakan saat ini banyak anak yang tak bisa dipaksa untuk sekolah. Sebab itu dia menjanjikan ada perekrutan PHL. Ahok menegaskan anak yang tidak sekolah tidak dibiarkan begitu saja.

Anies mengkritik jawaban Ahok yang dianggap hanya menggunakan pemerintah sebagai alat. Bedanya, Anies mengajak civil society dan perusahaan. "KJP Plus juga untuk anak putus sekolah sehingga bisa dimanfaatkan untuk kursus. Kita juga menggerakkan swasta," kata Anies.

Giliran Ahok bertanya tiba. Ahok mengungkap beberapa pernyataan Anies sebelumnya soal reklamasi. Kedua kandidat ini berbeda pendapat soal reklamasi. Anies menolak kebijakan ini.

"Kalau reklamasi ditolak, yang terlanjur dibangun mau diapakan? Bagaimana cara menghadapi putusan Keppres Pak Harto? Bagaimana membatalkan reklamasi yang akan menyerap 11,2 juta tenaga kerja?" tanya Ahok. Anies kembali menunjukkan perbedaannya dengan Ahok. "Ini soal keberpihakan," jawabnya.

Anies mengatakan Keppres di era Pak Harto menyebutkan bahwa kewenangan reklamasi ada di tangan gubernur. "Saat saya gubernur akan memanfaatkan reklamasi untuk rakyat banyak," ujarnya. Ahok langsung membalas. "Saya kira jangan bohong," katanya ke Anies.

Ahok pun memaparkan berbagai peruntukan reklamasi yang ditujukan untuk warga. Jawaban Ahok itu dibalas lagi oleh Anies. "Memang jangan bohong dalam kampanye, warga Bukit Duri tahu persis," kata Anies. Ahok balas menjelaskan soal kondisi di Bukit Duri. "Jangan mengacaukan seperti itu," ucap Ahok.

Sekalipun sempat tegang, keduanya menutup debat dengan bersalaman dan saling tersenyum. Pun ketika debat berakhir, para kandidat kompak menyampaikan kata maaf. Anies mengatakan semua hal yang diucapkan saat Pilkada adalah sejarah. "Bila ada keliru, kami mohon maaf," imbuhnya. "Dahulu bambu runcing, sekarang pakai paku tusuk sebelah kanan untuk perubahan," tutupnya.

Lalu giliran Ahok menyampaikan pernyataan penutup. Dia tidak hanya meminta maaf pada Anies-Sandi tapi juga ke Agus-Sylvi. "Tidak ada kesengajaan. Ini kebetulan saja kami bicara lebih banyak. Sekali lagi mohon maaf kepada orang Jakarta," tutupnya.

Menanggapi ini, kebanyakan netizen kecewa dengan perdebatan yang terkesan hambar. "liat debat pilkada DKI sekarang perasaan gak seru .. hambar," cuit @Burhanudin1994

Pengamat politik dari Charta Politica, Yunarto Wijaya juga berpendapat serupa. "Debat pamungkasnya anti klimaks banget... kebanting dibanding debat di @MataNajwa," cuit @yunartowijaya. "Debat yang hambar. Sudah punya pilihan kok. *kaleee #DebatFinalPilkadaJKT", timpal @noor_aflah.

Beberapa jam sebelum debat digelar, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei Pilgub DKI. Hasilnya, elektabilitas kedua cagub cawagub itu hanya terpaut satu persen. Anies-Sandi unggul tipis di angka 47,6 persen adapun Ahok-Djarot hanya mendapat 46,9 persen. Adapun responden yang mengaku belum tahu sekitar 5,2 persen.

SMRC menilai, debat terakhir yang digelar tadi malam bisa menentukan hasil akhir Pilgub DKI. Soalnya, penilaian sebesar 87 persen warga DKI positif menganggap penting diadakannya debat kandidat calon gubernur untuk menilai program kerja masing-masing calon.

Peneliti SMRC Deni Irvani menilai selisih tipis ini sebenarnya tak terlalu signifikan secara statistik. Namun begitu, tren dukungan pada masing-masing calon berbeda. Dalam sebulan terakhir, dukungan kepada Ahok-Djarot naik 3,1 persen, sementara Anies-Sandi turun 2,8 persen. Citra kedua calon juga dibandingkan. Hasilnya, citra Ahok lebih tinggi daripada Anies dalam hal mampu memimpin, perhatian kepada rakyat, tegas-berwibawa, serta bersih dari korupsi. Anies unggul dalam citra ramah-santun serta enak dipandang. Kedua calon seimbang dalam citra pintar atau berwawasan luas.

Survei SMRC ini dilakukan terhadap 800 responden yang dipilih berdasarkan metodologi stratified systematic random sampling. Jumlah responden yang dapat diwawancarai secara valid (response rate) adalah 446 responden (55,8 persen). Dari hasil survei diketahui, alasan utama responden yang memilih Ahok-Djarot karena terbukti kinerjanya sebanyak 41 persen. Sedang alasan utama responden yang memilih pasangan Anies-Sandiaga karena agamanya sama dengan responden sebesar 32,4 persen.

Selain itu, ada pertanyaan dalam survei ini menyangkut ucapan Ahok tentang Al Maidah yang membuatnya menjadi tersangka penistaan agama. Sebesar 47 persen responden menilai Ahok menista agama dan isu penghinaan agama ini berpengaruh negatif pada elektabilitas Ahok. Namum, jumlah responden yang menilai Ahok menista agama dari waktu ke waktu trennya menurun.

Selain itu, mayoritas responden sebesar 82 persen menyatakan pernah mendengar permintaan maaf Ahok dan 63 persen di antaranya menilai permintaan maaf Ahok tulus sehingga harus dimaafkan. Dari hasil kesimpulan survei ini, faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan warga DKI mencakup debat, evaluasi kinerja petahana, kualitas personal dan isu Ahok menista agama. ***

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

KPK Amankan "Surat Tekanan" dari Rumah Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Kamis, 16 April 2026 | 18:15

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kasus Penyiraman Andrie Yunus Masuk Sidang Terbuka Akhir April

Kamis, 16 April 2026 | 18:09

Emil Dardak Prihatin Tiga Kepala Daerah Jatim Kena OTT KPK

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Pimpinan Ombudsman: Kasus Hery Susanto Terjadi Sebelum Menjabat

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Erick Thohir Bawa Kemenpora Tembus Top 5 Kementerian Kinerja Terbaik

Kamis, 16 April 2026 | 17:40

Puspen TNI Pastikan Sidang Kasus Andrie Yunus Terbuka

Kamis, 16 April 2026 | 17:37

BNPB Catat 23 Bencana dalam Dua Hari

Kamis, 16 April 2026 | 17:28

Fokus pada Inovasi dan Kesejahteraan, Bupati Mimika Raih KWP Award 2026

Kamis, 16 April 2026 | 17:22

Sudewo Ngaku Kangen Warga Pati

Kamis, 16 April 2026 | 17:17

Selengkapnya