Berita

Natalius Pigai/Net

Politik

Jokowi Ambigu Antara Pemisahan Negara-Agama Dan Revolusi Mental!

RABU, 12 APRIL 2017 | 15:29 WIB | LAPORAN:

Ketika nilai-nilai universalitas seperti nilai ketuhanan disetujui sebagai butir pertama Pancasila maka tidak bisa disangkal bahwa negara ini dijiwai oleh nilai-nilai spiritualitas agama yang dianut.

Sila pertama Pancasila "Ketuhanan yang maha esa" tidak pernah menegaskan agama tertentu. Namun adanya pengakuan bahwa bangsa ini berpijak pada agama sebagai landas pijak pengelolaan pemerintahan.

"Memang kita tidak mengakui negara agama untuk menerapkan secara formal dogma masing-masing agama dalam pemerintahan dan politik karena kita bukan negara agama (teokrasi), kita juga bukan negara sekuler yang memisahkan secara tegas antara urusan langit (ketuhanan) dan urusan bumi (sekulerisme) tetapi negeri kita berada di antara negara teokrasi dan negara sekuler. Itulah fakta di negeri ini," tegas komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Natalius Pigai dalam keterangannya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (12/4).


Lebih lanjut Pigai menjelaskan, sebagian besar rakyat Indonesia telah didoktrin beragama dan berketuhanan baik agama lokal yang tumbuh dan berkembang (agama kosmik) maupun agama omport (soteriologi meta kosmik: Islam, Kristen, Hindu, Budha). Karena itu rakyat sangat sulit memisahkan agama dalam pengelolaan negara.

Oleh karena itu, pernyataan Presiden Jokowi yang meminta pemisahan negara dan agama justru dinilainya sebagai sebuah pengingkaran terhadap Pancasila. Ini sikap yang sangat berbahaya dari kepala negara RI.

"Seharusnya DPR RI meminta penjelasan dan keterangan Presiden atas sikap tersebut untuk menggali apakah negeri ini mau diubah menjadi negara sekuler atau komunis?" ujar Pigai.

Dengan sikap Jokowi itu, lanjut Pigai, semakin jelas untuk berkesimpulan bahwa Revolusi Mental stagnan.

Kegagalan revolusi mental, menurut dia, juga bisa dicermati dari pernyataan Menko perekonomian Darmin Nasution yang justru mempertanyakan pengertiannya. Ini berarti ada yang salah dalam implementasi atau justru pemerintah tidak mencerminkan nilai-nilai perilaku yang baik dalam tata kelola pemerintahan yakni; korupsi, kolusi dan nepotisme, khususnya dalam pengelolaan sumber daya ekonomi nasional.

"Kita harus waspadai jangan sampai negeri ini semakin terjerumus dalam Sekulerisme atau bahkan komunisme dengan mengesampingkan sila pertama Pancasila sebagai norma dasar (ground norm) bangsa Indonesia," tutup Pigai.[wid]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

KPK Amankan "Surat Tekanan" dari Rumah Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Kamis, 16 April 2026 | 18:15

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kasus Penyiraman Andrie Yunus Masuk Sidang Terbuka Akhir April

Kamis, 16 April 2026 | 18:09

Emil Dardak Prihatin Tiga Kepala Daerah Jatim Kena OTT KPK

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Pimpinan Ombudsman: Kasus Hery Susanto Terjadi Sebelum Menjabat

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Erick Thohir Bawa Kemenpora Tembus Top 5 Kementerian Kinerja Terbaik

Kamis, 16 April 2026 | 17:40

Puspen TNI Pastikan Sidang Kasus Andrie Yunus Terbuka

Kamis, 16 April 2026 | 17:37

BNPB Catat 23 Bencana dalam Dua Hari

Kamis, 16 April 2026 | 17:28

Fokus pada Inovasi dan Kesejahteraan, Bupati Mimika Raih KWP Award 2026

Kamis, 16 April 2026 | 17:22

Sudewo Ngaku Kangen Warga Pati

Kamis, 16 April 2026 | 17:17

Selengkapnya