Berita

RMOL

Nusantara

Gumarang Jadi Pionir Grup Musik Di Indonesia

SABTU, 25 FEBRUARI 2017 | 19:27 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Seni musik daerah merupakan kekayaan budaya yang perlu dikembangkan. Keberagaman tradisi dan budaya Nusantara menjadi penguat rasa persatuan nasional. Perbedaan menjadi kekuatan, bukan ancaman. Karena itu pemahaman terhadap keragaman seni menjadi titik masuk untuk dialog budaya Indonesia.

Orkes musik Gumarang yang berakar dari budaya Minangkabau merupakan contoh diterimanya berbagai kebhinekaan seni itu. Gumarang yang banyak mendendangkan lagu Minang bisa diterima publik dari berbagai etnis berbeda.

Demikian disampaikan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dalam peluncuran buku hasil karyanya yang berjudul Orkes Gumarang: Kisah Syaiful Nawas di Aie Angek Cottage, Sumatera Barat (Sabtu, 25/2).


Acara dihadiri dua mantan personil orkes Gumarang Anas Joesoef (81 tahun) dan Syaiful Nawas (85 tahun). Hadir juga beberapa bupati, pimpinan dan anggota DPRD Sumbar, seniman dan budayawan, penggemar musik serta duta buku Najwa Shihab.

Buku Orkes Gumarang mencatat sejarah musik di masa 1950 dan 1960. Gumarang mulanya dipimpin oleh Anwar Anif lalu Alidir dan terakhir Asbon Madjid. Penyanyi utamanya yang terkenal adalah Nurseha dengan lagu fenomenal berjudul Ayam Den Lapeh. Selain Nurseha, vokalis Gumarang adalah Anas Joesoef dan Syaiful Nawas. Anas Joesoef kemudian melanjutkan studi vokal dan karir di Jerman selama 52 tahun pada 1960. Baru kembali ke Indonesia tahun 2013. Syaiful Nawas kemudian mendirikan Syaiful Nawas Combo dan menjadi penulis serta wartawan. Dia termasuk wartawan pertama yang masuk ke Timor Timur pada 1976 ketika proses integrasi.

Orkes Gumarang  yang lahir pada 1954 dalam perjalanannya mampu memberi bukti bahwa musik daerah bisa diterima menjadi musik nasional dan bahkan internasional. Piringan hitam Gumarang pada masa itu termasuk yang laris di pasaran. Lagu-lagunya diputar di RRI dan sering tampil di TVRI.

"Orkes Gumarang boleh dibilang merupakan cikal bakal grup musik atau band di Indonesia," kata Fadli.

Buku yang ditulis Fadli Zon tersebut menjadi tambahan khazanah sejarah musik Indonesia, khususnya yang mengangkat sebuah kelompok musik daerah. Di masa jayanya, Gumarang bisa fenomenal dan dominan sebagai musik yang mewarnai Nusantara. Gumarang juga ikut bermain film bersama Usmar Ismail dan mengisi musik di sejumlah film. Gumarang sering tampil di berbagai kota antara lain pentas di Medan, Tanjung Pinang, Palembang, Bandung, Surabaya, dan Bali. Juga dihadapan Presiden Soekarno, Bung Hatta, Lee Kwan Yew dan banyak lagi.

"Memang pada masa itu pemerintah Presiden Soekarno sangat mendukung kemajuan musik Nusantara ketimbang musik barat yang dianggap musik ngak ngik ngok," ujar Fadli.

Menurut Fadli, kesulitannya menulis buku Gumarang karena data sulit diperoleh. Penulisannya sudah dimulai sejak 2010, tapi banyak interupsi karena kegiatan akhirnya baru bisa tuntas sekarang. Selain wawancara dengan Syaiful Nawas, buku juga menggali dokumen liputan media pada kurun 1950 hingga 1960. Lalu wawancara dengan Anas Joesoef, Awaluddin Djamin, Elly Kasim, Idris Sardi, Remy Silado dan Taufiq Ismail. Awaluddin Djamin yang pernah menjabat kepala Polri adalah orang memberi gagasan nama Gumarang ketika anak-anak muda kreatif dan berbakat kumpul berniat mendirikan grup musik di akhir 1953 silam.

"Saya ucapkan terima kasih kepada Fadli Zon yang sudah menuliskan dan menerbitkan perjalanan Orkes Gumarang. Buku ini bisa memberi inspirasi buat anak muda Minang dan pecinta musik Indonesia," ujar Syaiful Nawas.  

Syaiful pun menceritakan sepenggal perjalanan Orkes Gumarang. Di mana, dia tetap bersemangat dan bergairah menyanyi walau di usia senja. Sedangkan Anas Joesoef berbagi pengalaman ketika berkarir di Jerman sebagai penyanyi opera selama puluhan tahun. Dia memperistri Ingrid Michele yang juga merupakan penyanyi di Jerman.

Syaiful yang juga pencipta lagu sempat menyanyikan lagu-lagu kreasinya. Antara lain Sansaro yang berkolaborasi dengan Bing Slamet. Anas Joesoef yang tahun 1959 menjadi juara satu nasional seriosa membawakan lagu karyanya berjudul Sayang Tak Sudah. Tinggal dua orang tokoh itu yang tersisa dari personil Orkes Gumarang.

Selain peluncuran buku, Fadli Zon juga menyerahkan patung Tan Malaka kepada Datuk Hengki Tan Malaka hasil perupa ISI Yogyakarta yang terbuat dari perunggu sebagai peringatan wafatnya Tan Malaka, Februari 1949. [wah]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya