Berita

Dunia

Penjelasan Mark Zukerberg Soal Masalah Sebidang Tanah Di Hawaii

KAMIS, 26 JANUARI 2017 | 17:57 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

. CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan bahwa dirinya mempertimbangkan kembali serangkaian tuntutan hukum terhadap warga Hawai untuk memaksa mereka menjual sebidang tanah di Kauai.

Zuckerberg diketahui telah memulai tuntutan hukum "berjudul tenang" terhadap beberapa ratus warga Hawaii yang memiliki saham di sebidang tanah di Kauai itu.

Penduduk setempa sangat mengkritik langkah tersebut dan seorang anggota parlemen negara mengusulkan RUU yang akan memaksa Zukerberg untuk mediasi.


Zukerberg merespon hal itu dengan menyebut bahwa niatnya telah disalahpahami.

"Berdasarkan umpan balik dari masyarakat setempat, kami mempertimbangkan kembali proses gelar tenang dan mendiskusikan bagaimana untuk bergerak maju. Kami ingin memastikan bahwa kami mengikuti proses yang melindungi kepentingan pemilik properti, menghormati tradisi asli Hawaii, dan mempertahankan lingkungan, "katanya dalam sebuah pernyataan.

Dalam postingan di Facebook aa menyebut bahwa saat ini banyak cerita menyesatkan soal tanah di Hawaii.

Ia menjelaskan bahwa ia da istrinya, Priscilla membeli sebidang tanah di Hawaii tahun 2014 lalu dan ditujukkan untuk dibangun rumah sambil membantu melestarikan satwa liar dan keindahan alam.

"Tanah tersebut terdiri dari beberapa properti. Dalam setiap kasus, kami bekerja dengan pemilik mayoritas dari setiap properti dan mencapai kesepakatan yang mereka pikir itu adil," kata Zukerberg.

"Seperti kebanyakan transaksi, pemilik mayoritas memiliki hak untuk menjual tanah mereka jika mereka ingin, tapi kami harus memastikan pemilik parsial kecil dibayar untuk mereka secara adil juga," sambungnya.

Namun Hawaii merupakan wilayah yang rumit. Dengan aturan hukum yang mulai berlaku tahun 1880an, masyarakat pribumi memiliki hak untuk memiliki tanah dari keturunan.

"Tidak ada catatan yang jelas dan dalam banyak kasus, keturunan yang memiliki 1/4 persen atau 1 persen dari properti bahkan tidak tahu mereka berhak atas sesuatu," sambungnya.

Karena itulah ia juga mencari pemilik parsial dari tanah sehingga bisa dibayar secara adil. Untuk sebagian besar dari orang-orang ini, mereka sekarang akan menerima uang untuk sesuatu yang mereka bahkan tidak pernah tahu mereka punya. Tidak ada yang akan dipaksa dari tanah.

"Kami bekerja dengan seorang profesor studi Hawaii asli dan anggota lama dari komunitas ini, yang berpartisipasi dalam proses gelar tenang ini dengan kami. Hal ini penting untuk kita bahwa kita menghormati sejarah dan tradisi Hawaii," tegasnya. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya