Berita

Donald Trump/Reuters

Dunia

Analis: Pasca Tarik Diri Dari TPP, Trump Harus Dekati Jepang, Taiwan Dan Vietnam

SELASA, 24 JANUARI 2017 | 16:26 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi menarik Amerika Serikat dari kesepakatan dagang  Trans-Pacific Partnership (TPP).

Hal itu secara otomatis menjauhkan Amerika Serikat dari sekutu Asianya.

Trump mengatakan bahwa langkah itu adalah untuk meningkatkan manufaktur Amerika Serikat. Ia hanya akan melakukan penawaran dagang satu per satu dengan negara lain yang Amerika inginkan. Tapi secara tegas ia akan menghentikan perdagangan jika dalam 30 hari pertama adal salah satu pihak yang bertingkah.


"Kami akan menghentikan transaksi perdagangan konyol yang telah mengambil semua orang keluar dari negara kita dan mengambil perusahaan dari negara kita," kata Trump saat ia bertemu dengan para pemimpin serikat buruh di Gedung Putih Roosevelt Room.

Diketahui bahwa TPP didukung oleh Presiden Amerika Serikat sebelumnya, Barack Obama, namun tidak pernah disetujui oleh Kongres.

Obama telah membingkai TPP sebagai upaya untuk menulis aturan perdagangan Asia dan membangun kepemimpinan ekonomi Amerika Serikat di kawasan itu sebagai bagian dari "poros ke Asia."

Sikap perdagangan Trump mencerminkan perasaan yang berkembang di kalangan orang Amerika yang menilai bahwa penawaran perdagangan internasional telah menyakiti pasar kera Amerika Serikat.

Partai Republik telah lama memegang pandangan bahwa perdagangan bebas adalah suatu keharusan, namun suasana hati yang telah berubah.

"Ini akan sangat sulit untuk melawan perkelahian itu," kata Lanhee Chen, seorang rekan Hoover Institution yang menjadi penasihat kebijakan domestik untuk calon presiden dari Partai Republik tahun 2012 Mitt Romney.

"Trump mencerminkan tren yang telah jelas selama bertahun-tahun."

Sedangkan Harry Kazianis, direktur studi pertahanan di Pusat untuk Kepentingan Nasional think tank di Washington mengatakan Trump sekarang harus mencari cara alternatif untuk meyakinkan sekutu di Asia.

"Hal ini dapat mencakup perjanjian perdagangan bilateral. Jepang, Taiwan dan Vietnam harus didekati pertama karena mereka adalah kunci untuk setiap strategi baru Asia," jelasnya. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya