Berita

Dunia

Penghinaan Pancasila, Alasan Militer Tangguhkan Kerjasama Dengan Australia

RABU, 04 JANUARI 2017 | 18:47 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Indonesia memutuskan untuk menangguhkan kerjasama militer dengan Australia karena adanya materi pelatihan yang dianggap tidak sopan dan menghina Indonesia.

Menurut keterangan Juru Bicara Militer Indonesia, Wuryanto (Rabu, 4/1) penangguhan kerjasama mencakup latihan militer, program pendidikan dan pertukaran.

Ia menekankan bahwa penangguhan dilakukan karena masalah teknis dan ada pasang-surut dalam setiap kerjasama antara kedua belah pihak. Namun demikian ia tidak merinci lebih lanjut soal alasan itu.


Sementara itu, menteri Pertahanan Marise Payne mengatakan Australia telah diberitahu soal penangguhan itu. Lebih lanjut sejumlah interaksi juga ditunda sampai masalah ini diselesaikan.

"Australia berkomitmen untuk membangun hubungan Pertahanan yang kuat dengan Indonesia, termasuk melalui kerjasama dalam pelatihan," kata Senator Payne.

ABC News mengabarkan bahwa keputusan ini muncul setelah instruktur dengan kelompok Pasukan Khusus Indonesia (Kopassus) dihina oleh bahan dipamerkan di Air Service Khusus yang basis Perth.

Media Australia itu juga mengkonfirmasi bahwa istruktur merasa materi merendahkan prinsip landasan bangsa dan negara Indonesia, yakni Pancasila.

Kepala ADF Marsekal Mark Binskin telah mengirimkan pesan kepada Jenderal Gatot Nurmantyo, tentang materi yang menyinggung pada 23 November tahun lalu.

Sebuah sumber diplomatik akrab dengan korespondensi mengatakan surat kepala Pertahanan meyakinkan militer Indonesia bahwa materi ofensif yang ditampilkan di Perth tidak mencerminkan pandangan ADF.

Kepala Tentara Australia Letnan Jenderal Angus Campbell juga menulis untuk mitranya dari Indonesia pada 24 November untuk meyakinkannya bahwa Australia tidak mendukung materi.

Sementara itu Senator Payne menekankan soal komitmen Australia untuk menjalin hubungan baik dengan Indonesia.

Belum jelas berapa lama penangguhan akan dilakukan. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya