Berita

Dunia

China Tak Lagi Jadi Kreditur Asing Terbesar AS

SELASA, 27 DESEMBER 2016 | 19:09 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

China kini tak lagi menjadi kreditur luar negeri terbesar Amerika Serikat. Predikat itu kini disematkan kepada tetangganya, Jepang.

Menurut data dari Departemen Keuangan Amerika Serikat, kepemilikan utang Amerika Serikat kepada China jatuh ke angka 1,12 triliun dolar AS pada akhir Oktober kemarin. Angka itu merupakan tingkat terendah selama lebih dari enam tahun terakhir.

Sedangkan kepemilikan utang Amerika Serikat kepada Jepang mencpai angka 1,13 triliun dolar AS.


Dikabarkan CNN baru-baru ini, angka kepemilikan hutang kedua negara tersebut memang diturunkan sebulan terakhir. Namun China menjadi negara yang angka kepemilikan utang Amerika Serikat-nya ditekan lebih rendah, yakni yurun 41,4 miliar dolar AS. Sedangkan Jepang hanya 4,5 miliar dolar AS.

Untuk diketahui bahwa kesediaan China untuk meminjamkan sejumlah besar dana kepada pemerintah Amerika Serikat telah menarik banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak September 2008, Departemen Keuangan Amerika Serikat telah menetapkan bahwa China merupakan kreditur asing terbesar Amerika Serikat dengan pengecualian dari satu bulan di awal tahun 2015.

Situasi tersebut membuat keprihatinan di masyarakat Amerika Serikt tentang pengaruh Beijing terhadap perekonomian negeri Paman Sam.

Situsi itulah yang dikritisi oleh Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump semasa kampanye. Ia menyebut bahwa dirinya akan mengambil sikap yang lebih konfrontatif terhadap China terkait dengan perdagangan.

Ia bahkan mengancam untuk menerapkan tarif sebanyak 45 persen dari produk-produk China,

Pemberian utang China kepada Amerika Serikat itu juga merupakan bagian dari strategi ekonomi China di mana negeri tirai bambu itu bertujuan untuk membuat mata uangnya, yuan, agar tidak terlalu kuat, bahkan ketika ekonomi tumbuh pesat.

Hal itu akan membuat ekspor China lebih kompetitif dan juga membantu mempertahankan suku bunga du Amerika Serikat lebih rendah.

Namun seiring dengan perlambatan ekonomi China dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah besar uang telah mengalir ke luar negeri dan menempatkan tekanan pada yuan. Di tambah lagi dengan lonjakan dolar pasca kemenangan Trump semakin memperkuat tekanan pada yuan.

Akibatnya, China menjual beberapa persediaan yang sangat besar dari cdangan devisa, sebagian besar utang pemerintah AS untuk membeli yuan.

China hendak menghindari terulangnya jatuhnya mata uang secara tiba-tiba yang membuat panik pasar dan pernah terjadi pada Agustus 2015 dan Januari 2016. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya