Berita

Laode Ida/net

Politik

Anggota Ombudsman: Tidak Ada Yang Makar, Polisi Sudah Salah Tingkah

SENIN, 12 DESEMBER 2016 | 19:12 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Sebetulnya, tidak ada alasan kepolisian untuk menangkap para tokoh politik dan aktivis senior beberapa waktu lalu dengan tuduhan percobaan makar.

Hal itu ditegaskan oleh Anggota Ombudsman RI, Laode Ida, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (12/12).

"Sebetulnya , siapa yang makar? Tidak ada yang makar. Yang para aktivis itu lakukan adalah penyampaian aspirasi ke lembaga negara yang sah," tegas Laode.


Menurutnya, makar terjadi apabila ada kekuatan senjata, pembangkangan sipil terbuka dan kemudian mengarah pada perlawanan fisik.

Dalam KUHP, makar adalah dengan maksud untuk membunuh, atau merampas kemerdekaan, atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden memerintah. Pelakunya diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

"Saya tidak paham mengapa polisi langsung jadikan mereka (tokoh aktivis) sebagai pelaku makar. Mereka bersuara adalah hak konstitusional," terangnya.

Laode menyebut permintaan para aktivis senior itu agar MPR RI menggelar sidang istimewa untuk mengganti presiden dan wakil presiden adalah sah dan dilindungi konstitusi. Terwujud atau tidaknya aspirasi itu sangat bergantung pada MPR RI.

"Kalau mereka sampaikan aspirasi untuk sidang istimewa MPR untuk mengganti presiden, itu juga bukan makar. Yang tentukan itu bisa atau tidak kan bukan para aktivis, melainkan MPR. Kalau MPR setuju presiden diganti, ya konstitusional," lanjutnya.

Ia menduga kepolisian ingin mengalihkan perhatian publik untuk men-demoralisasi kekuatan gerakan rakyat. Tujuannya, membuat para aktivis atau kelompok pergerakan yang memiliki massa merasa takut untuk mengkritik pemerintah.

"Sekarang ini mau kembalikan gaya Orde Baru. Dulu pelakunya tentara, sekarang polisi. Polisi sudah salah tingkah," tegas Laode lagi. [ald]

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

UPDATE

Menteri Haji Usul BPIH 2027 Naik 10-15 Persen

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:22

Perpres Ojol 2026 Dikebut, Ini 3 Tarif yang Bakal Diatur Pemerintah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:12

Film Insidious: Out of the Further Resmi Tayang di Indonesia, Ini Sinopsisnya

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:01

Penyegaran AKD Golkar Strategis Perkuat Kinerja DPR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:54

Rupiah Menguat Rp17.840 Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:38

Trump Hentikan Latihan Militer AS-Korsel Lebih Cepat Demi Hubungan Baik dengan Korut

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:26

IGCE 2026 Momentum Indonesia Jadi Raksasa Geothermal Dunia

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:23

Polri-Kejagung Kompak Minta Hakim Tolak Praperadilan Febrie Adriansyah

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:21

Mantan Pelatih Pelatnas Panjat Tebing Jadi Tersangka Pelecehan Atlet

Rabu, 19 Agustus 2026 | 17:01

Gerak Cepat Pemerintah Harus Dirasakan Rakyat NTT

Rabu, 19 Agustus 2026 | 16:45

Selengkapnya