Hingga tiga pekan lalu, sebagian besar pelanggan yang datang ke Abu Osama, seorang dokter di Mosul Irak sebagian besar adalah militan ISIS yang membawa istri-istri dan anak-anak mereka untuk pengobatan dan perawatan.
Namun sekarang, sebagian besar pelangganya adalah pasukan keamanan Irak yang baru saja berhasil mengambil alih kembali wilayah Gogjali, Mosul yang sebelumnya berada di bawah kendali ISIS.
Abu Osama dan ribuan warga Mosul lainnya saat ini memulai kembali kehidupan baru setelah berhasil bebas dari pendudukan ISIS. Sebelumnya, mereka hidup dalam keterbatasan karena ISIS mengepung dan mereka terperangkap di dalamnya dengan sedikit akses ke luar.
"Apakah ISIS ataupun militer, pintu saya terbuka untuk setiap orang," kata Abu Osama.
"Bila musuh terburuk saya datang ke sini, saya juga harus menanganinya," tambahnya.
Pria 40 tahun itu tetap menjalankan apotek miliknnya kendati Mosul jatuh ke tangan ISIS. Pada saat itu, gaji yang ia terima sebagai karyawan Kementerian Kesehatan Irak dipotong oleh pemerintah. Hal itu dilakukan karena pemerintah berusaha untuk mematahkan dana untuk militan, yang menggelapkan gaji publik pekerja sektor di daerah yang mereka kuasai.
Para militan ingin Abu Osama bekerja untuk mereka di rumah sakit, tapi dia menolak karena itu. Pasalnya, dengan bergabung ke rumah sakit aka ia harus berjanji setia kepada ISIS. Padahal ia pribadi tidak setuju dengan ideologi garis keras mereka.
Menurut ideologi itu, penggambaran makhluk hidup tidak Islami karena dapat menyebabkan penyembahan berhala. Ia sempat dihardik para militan karena menampilkan poster dengan gambar bayi di dinding farmasi.
Menurut Abu Osama, semua obat-obatan yang ada di apotek miliknya berasal dari Suriah. Pedagang Suriah mengimpor obat-obatan China dan India murah melalui Turki. Kelompok ISIS kemudian membayarnya dan membawanya ke Mosul.
Saat obat-obatan tersebut datang ke rak-rak apoteknya, harganya menjadi tiga kali lipat lebih tinggi sehingga banyak orang yang tidak mampu membelinya, sehingga ia menjualnya secara kredit.
Namun karena wanita diwajibkan oleh ISIS untuk menutupi wajah mereka sepenuhnya, Abu Osama tidak bisa memastikan siapa saja yang berutang kepadanya apa.
Penduduk lokal lainnya mengatakan bahwa bila seorang pria terpisah dari istrinya di keramaian pasar, maka ia akan kesulitan menemukan istrinya karena semua wanita di pasar tersebut mengenakan pakaian yang sepenuhnya tertutup.
Ketika pasukan Irak mengambil wilayah Gogjali, dua orang militan meninggalkan dua istri mereka dan melarikan diri. Militer Irak mengidentifikasi wanita-wanita tersebut merupakan warga Rusia.
"Mereka luar biasa cantik," kata seorang militer Irak yang melakukan pengamanan.
Sementara itu warga lokal lainnya yang membuka toko grosir, Ammar, mengaku bahwa militan ISIS merupakan pelanggan terbaik mereka. Karena mereka memiliki lebih banyak uang daripada yang lainnya.
"Mereka mengobrol dengan kami dan mengatakan kami harus berjihad," ujarnya.
Semua barang yang dijual berasal dari Suriah, kata Ammar. Namun sekrang ada pemblokiran rute sehingga pasokan terganggu.
Sekrang mereka dan ribuan warga Gogjali lainnya bisa memulai kembali kehidupan baru mereka tanpa aturan ISIS yang tak masuk akal serta tanpa harus dihantui suara bom dan serangan. Demikian seperti dimuat
Reuters.
[mel]