Berita

Ilustrasi/The Guardian

Dunia

Samsung Dan Panasonic Dituduh Atas Pelanggaran Tenaga Kerja Di Rantai Pasokan Malaysia

SENIN, 21 NOVEMBER 2016 | 14:46 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Dua brand elektronik ternama dunia yakni Samsung dan Panasonic saat ini tengah menjadi sorotan akibat tuduhan soal penanganan pekerja dalam rantai pasokan mereka di Malaysia.

Dalam sebuah investigasi yang diluncurkan The Guardian beberapa waktu lalu, terungkap bahwa ada sejumlah pekerja Nepal yang merada ditipu dan dieksploitasi dalam melaksanakan pekerjaan mereka untuk Samsung dan Panasonic.

Dalam investigasi itu, ada 30 orang pekerja asal Nepal yang diwawancarai. Mereka membuat produk untuk Samsung dan Panasonic di pabrik Malaysia.


Diketahui bahwa mereka yang bekerja untuk Samsung ada yang dipekerjakan langsung oleh perusahaan. Namun mayoritas disewa melalui perusahaan pemasok tenaga kerja.

Sedangkan mereka yang bekerja merakit dan membuat suku cadang untuk Panasonic dipekerjakan oleh perusahaan subkontrak.

Mereka mengaku ditipu. Karena mereka dijanjikan akan diberi gaji besar dengan bekerja di pabrik di Malaysia.

Namun mereka justru mengaku bahwa paspor mereka disita. Mereka diberitahu bahwa mereka harus membayar denda besar jika mereka ingin kembali ke Nepal sebelum akhir kontrak.

Mereka juga mengklaim dipaksa bekerja hingga 14 jam sehari tanpa istirahata yang cukup dan dengan waktu ke toilet yang dibatasi.

Kerja paksa tersebut, menurut para pekerja Nepal, harus melakukan lakukan sebagai bagian dari upapa untuk menyelesaikan biaya perekrutan.

Mereka mengatakan mereka merasa "ditipu" dan terjebak dalam pekerjaan pabrik untuk merakit komponen bagi barang-barang elektronik rumah tangga yang dijual di pasar global.

"Hatiku sakit," kata seorang pemuda yang bekerja di pabrik pembuatan oven dan microwave Samsung.

"Saya tidak diberi pekerjaan yang dijanjikan. Saya melakukan pekerjaan yang sulit. Saya tidak mendapatkan gaji yang dijanjikan," kata pekerja lainnya.

Padahal, Panasonic dan Samsung melarang pemasok mereka untuk menyita paspor dan meminta biaya perekrutan. Namun kenyataanya, aksi tersebut masih terjadi.

Baik Samsung dan Panasonic telah mengatakan mereka membuka investigasi ke dalam perilaku pemasok mereka setelah hal tersebut terungkap. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya