Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 yang akan menjabat pada Januari mendatang membawa tanda tanya besar soal situasi di Semenanjung Korea.
Pasalnya, dalam ketegangan politik antara kedua negara satu rumpun itu Amerika Serikat ikut ambil bagian dengan menempatkan ribuan pasukan serta persenjataan di Korea Selatan. Kedua negara pun kerap melakukan latihan militer gabungan demi menjaga diri dari ancaman Korea Utara.
Sedangkan Donald Trump selama kampanye lalu tidak secara jelas menjabarkan rencana kebijakan luar negerinya. Pada suatu kesempatan ia pernah mengatakan bahwa Korea Selatan harus membayar lebih untuk pasukan Amerika Serikat agar bertahan di negeri ginseng.
Trump juga pernah mengatakan akan terbuka untuk memungkinkan Jepang dan Korea Selatan untuk membangun persenjataan nuklir mereka sendiri untuk perlindungan mereka terhadap Korea Utara dan China.
Namun masih belum jelas apakah itu berarti Trump akan membawa Amerika Serikat tidak terlalu jauh terlibat dalam konflik Korea Utara dan Selatan atau justru sebaliknya.
"Mencoba untuk memprediksi kebijakan Presiden Trump terhadap Asia, atau wilayah global untuk hal ini, adalah sulit atau mustahil," kata Bruce Klingner, peneliti senior dari Asia Timur di Heritage Foundation seperti dimuat Business Insider.
"Kami berada di wilayah yang belum dipetakan karena Trump belum mengartikulasikan kebijakan Asia dan juga belum memiliki penasihat Asia," tambah Klingner.
Sementara itu menurut mantan direktur dan asosiasi direktur Departemen Luar Negeri Korea Program Korea di Stanford University, David Straub mengatakan bahwa selama kampanye, Trump tidak banyak bicara soal Korea Utara.
"Dia tidak mengatakan banyak tentang Korea Utara selama kampanye, dan apa yang dia katakan adalah koheren," kata Straub.
Akan tetapi pernyataan Trump yang menyebut bahwa ia akan mengadakan pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bisa menjadi sedikit tanda.
"Jelas bahwa ia tak mengetahui tentang wilayah dan masalah di sana. Dan hal itu akan membawanya dan pemerintahanya lamban," sambungnya.
Ia menambahkan bahwa Trump harusnya fokus pada ancaman Korea Utara daripada mengeluh soal berapa banyak yang dibayarkan aliansi Korea Selatan dan Jepang atas pasukan Amerika Serikat di sana.
"Faktanya adalah bahwa mereka sudah membayar banyak biaya dan bahwa itu akan memakan biaya lebih untuk memindahkan mereka ke Amerika Serikat. Belum lagi fakta bahwa stabilitas strategis di Asia Timur Laut sangat banyak muatan kepentingan Amerika Serikat serta sekutu," tanadasnya.
[mel]