Kemenangan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat menjadi kejutan tersendiri bagi Asia, terutama China.
"Asia telah mengharapkan kemenangan Hillary," kata John Delury, seorang ahli dalam hubungan AS-China dari Yonsei University di Seoul.
Kemenangan Trump juga secara radikal telah mengubah lanskap geopolitik di Asia, di mana Obama telah berusaha mengimbangi pengaruh regional China dengan strategi "poros" nya.
Karena itu lah, Asia terutama China masih menunggu langkah apa yang akan diambil oleh Trump dalam menjalankan kebijakannya.
"Trump adalah tanda tanya besar. Reaksi pertama adalah sama sekali tidak mengetahui siapa yang kita hadapi. Siapa pria ini? Bagaimana dia akan melakukan kebijakan luar negeri? Dan siapa yang akan dia berikan tanggung jawab?" tambahnya.
Delury sendiri mengatakan bahwa banyak pakar China percaya bahwa pemimpin Partai komunis China akan beraksi relatif lebih santai dalam berurusan dengan Gedung Putih di bawah Trump.
"Saya tidak berpikir bahwa mereka (China) akan khawatir dengan Presiden Trump," kata Bonnie Glaser, direktur China Power Project at the Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington.
"Trump bisa menjadi seorang yang diajak bernegosiasi, karena latar belakanganya sebagai pengusaha membuat dirinya menjadi sosok yang transaksional yang mungkin dapat memotong penawaran pada beberapa masalah. Saya pikir mereka akan mencoba untuk melakukan hal itu," tambahnya.
Glaser juga menambahkan bahwa China harusnya tidak khawtir dengan Trump, kendati dalam beberapa kampanyenya kerap menyebut China sebagai "pemerkosa" ekonomi Amerika Serikat. Pasalnya, Trump belum pernah mengatakan sikapnya terkait sejumlah isu krusial di Asia.
"Di Laut Cina Selatan ia telah mengatakan sangat sedikit. Pada keamanan cyber, saya belum mendengar apa-apa. Korea Utara, siapa tahu? "Kata Glaser.
"Pada banyak isu-isu ini dia masih diam," tambahnya seperti dimuat
The Guardian.
[mel]