Berita

Ilustrasi/Daily Mail

Dunia

Berbagi Foto Bugil Di Kalangan Anak Muda Jadi Tren Tersendiri

KAMIS, 03 NOVEMBER 2016 | 15:46 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Berbagi foto bugil di zaman saat ini bukan lagi merupakan hal yang tabu. Sebaliknya, sebagian anak muda saat ini menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang lucu dan menyenangkan.

Begitu bunyi penelitian terbaru berjudul Risk Taking Online (SPIRTO).

Peneliti menemukan bahwa anak-anak muda berusia 12 hingga 18 tahun ke atas kerap berbagi foto bugil mereka melalui ponsel mereka dan sosial media.


Hal itu merupakan bagian dari eksplorasi seksualitas mereka dan mereka melakukan hal tersebut dengan mitra yang mereka percayai.

Namun demikian ada juga alasan lain mengapa mereka berbagi foto bugil, yakni paksaan dan ancaman. Seringkali hal itu datang dari orang asing yang mereka temui secara online.

"Pengalaman anak-anak muda bervariasi dari adanya paksaan di mana mereka dipaksa menghasilkan gambar dengan menggunakan ancaman agresif. Di ujung lain spektrum di mana gambar diproduksi karena unsur romantisme dan hubungan peduli," kata Dr Ethel Quayle dari University of Edinburgh.

SPIRTO menemukan bahwa 73 persen anak muda yang berbagai foto bugil melakukan hal itu karena adanya permintaan, baik dari rekan mereka ataupun dari orang asing.

Beberapa di antara anak muda tersebut merasa tingkat tekanan dalam hubungan konsensual untuk menyenangkan pasangan mereka.

Mereka mengaku diminta untuk mengirim foto sebagai bukti mencintai pasangan mereka dan merasa sulit untuk mengatakan tidak.

Sebagian besar dari anak muda yang menjadi responden mengatakan mereka mengirim foto karena itu menyenangkan, menarik dan cara yang baik untuk bertemu orang-orang baru. Mereka juga menggunakan foto bugil mereka untuk mendapatkan perhatian dan pujian tentang penampilan mereka.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa berbagi foto bugil ternyata tidak berarti bahwa anak-anak muda mulai menginginkan hubungan seksual. Tapi itu adalah cara mereka berekspresi.

Namun demikian di sisi lain ada resiko berbahaya dari tren yang tengah ramai di kalangan anak muda tersebut, yakni eksploitasi seksual dan bahaya lainnya. Karena itu, para peneliti memperingatkan orang tua dan pengajar untuk membantu mengontrol perilaku anak mereka atau anak didik mereka. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya