Berita

Foto/Net

X-Files

Empat Tersangka Kasus Cessie Victoria Mangkir

Dua Kali Dipanggil Penyidik Gedung Bundar
SENIN, 17 OKTOBER 2016 | 09:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Empat tersangka kasus dugaan korupsi penjualan hak tagih (cessie) debitur PT Adyaesta Ciptatama kepada PT PT Victoria Securities Internasional Corporation (VSIC) selalu mangkir diperiksa. Penyidik gedung bundar Kejaksaan Agung melacak keberadaan para tersangka untuk dijemput paksa.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Muhammad Rum ketika dikonfirmasi, mem­benarkan para tersangka itu mangkir. "Para tersangka tidak datang untuk menjalani pemer­iksaan," katanya.

Empat tersangka dalam kasus cessie Victoria ini adalah Syafruddin Temenggung (bekas Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional/BPPN), Haryanto Tanudjaja (bekas analis kredit BPPN), Suzana Tanojo (komisaris PT Victoria Sekuritas Indonesia/VSI) dan Lita Rossela, Direktur VSI.


Penyidik sudah dua kali me­layangkan surat panggilan ke­pada tersangka. Namun keempat tersangka tak ada yang menun­jukkan batang hidungnya.

Hanya Syafruddin yang me­nyampaikan pemberitahuan tak bisa menjalani pemeriksaan. Syafruddin dijadwalkan diper­iksa sebagai tersangka pada Jumat, 14 Oktober 2016. "Dia menerangkan sakit," kata Rum.

Penyidik tak percaya begitu saja dengan keterangan Syafruddin. Bersama tim medis ke­jaksaan, penyidik akan memerik­sa kondisi kesehatan Syafruddin. Jika dianggap kondisinya layak, Syafruddin bakal diperiksa.

Sementara terhadap tiga ter­sangka lainnya yang mangkir tanpa alasan, penyidik akan kem­bali mengirim surat panggilan pemeriksaan. "Kita layangkan surat panggilan ketiga. diperlu­kan jaksa bisa melakukan upaya (jemput) paksa," tegasnya.

Para tersangka tengah dilacak keberadaanya. Mereka sudah dikenakan status cekal. "Intinya, keberadaan tersangka sedang ditelusuri. Upaya itu dilak­sanakan untuk menghadirkan tersangka dalam proses pemer­iksaan lanjutan," kata Rum.

Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Syafruddin, Lita dan Suzanna pernah diperiksa penyidik gedung bundar. Sementara Harjanto tak pernah memenuhi panggilan penyidik.

Penyidik kejaksaan pernah menjemput paksa Direktur VSI, Lis Lilia Djamin karena telah tiga kali mangkir diperiksa. Pada 25 Agustus 2015, Lis Lilia Djamin dijemput di kediamannya.

Penyidik kemudian membawa Lis Lilia Djamin ke gedung bun­dar dan diperiksa hingga malam. Usai diperiksa, Lis Lilia dilepas.

Untuk diketahui, kasus cessie Victoria ini dinaikkan ke tingkat penyidikan pada 7 April 2015. Surat permintaan cekal baru diajukan kepada Ditjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM empat bulan kemudian.

Mereka yang diminta untuk dicegah ke luar negeri adalah Lis Lilia Djamin, Boediarto Boentaran, Suzanna Tanojo, dan Aldo Jusuf Tjahaja. Setahun melaku­kan penyidikan, kejaksaan akh­irnya menetapkan Syafruddin, Suzanna, Lita dan Harjanto sebagai tersangka.

Kantornya Digeledah, Suzanna Dan Lita Kabur Dari Pintu Belakang

Kejagung pernah menggeledahkantor Victoria Sekuritas Indonesia (VSI) dan menyita sejumlah barang bukti dari tempat itu. Penggeledahan dilakukan pada 12 Agustus 2015 setelah Satgassus Kejagung mendapatpersetujuan dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Awalnya, penyidik mendatan­gi alamat kantor VSI di Gedung Panin Bank, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Saat mendatangi alamat tersebut, diperoleh informasi kantor VSI telah pindah ke gedung Panin Tower lantai 8 Senayan City, Jakarta Pusat.

Satgassus dibantu tenaga fo­rensik IT, tim intelijen, dan personel kepolisian lalu bergerak ke alamat tersebut. Pukul 16.00 WIB, tim melakukan penggele­dahan di tiga ruang yakni ruang kerja Aldo Yusuf Tjahaja selaku komisaris PT VSI, ruang kerja Suzanna Tanojo dan ruang kerja Lita Rossela.

Saat tim menggeledah ruangan Aldo, diam-diam Suzanna Tanojo dan Lita Rosela kabur lewat pin­tu belakang. Handphone, laptop, uang hingga sweater ditinggal di ruangan.

Dari hasil penggeledahan di tiga ruang tersebut disita doku­men berupa akta pendirian PT Victoria Securities International Corporation (VSIC) beserta perubahannya yang terakhir bernama PT VSI, scan Surat Panggilan semua saksi dari PT VSI antara lain Suzanna Tanojo dan Lita Rossela yang beralamat Jalan Sudirman komplek Gelora Senayan. Disita pula sepucuk senjata api merek Walther be­serta peluru karet.

Penggeledahan dilanjutkan Kamis, 13 Agustus 2015, mulai pukul 13.00 WIB sampai 23.00 WIB. Ditemukan dan disita antara lain; satu lembar fotokopi surat No: 662/Bks.ut/L.A/1997 tanggal10 November 1997 perihal pemecahan sertifikat PT Adyaesta Cipta Utama dari Bank Tabungan Negara (Persero) yang ditujukan ke­pada Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Karawang.

Kemudian, fotokopi dokumen Surat Pernyataan Penyerahan Sertifikat dari PT Adyaesta Cipta Utama dan Fotokopi dokumen Surat No: 400/N/XI/1997 tanggal 19 November 1997 dari Notaris Ida Suryana, notaris di Karawang, yang ditujukan ke­pada PTBTN cabang Bekasi.

Satu bundel asli dan fotoko­pi dokumen dalam bussiness file, business day PT Victoria Sekuritas periode 24 Maret 2006. Empat lembar asli dokumen yang bertuliskan "debitur: PT Jestrindo Surya Cemerlang".

Satu bundel asli dokumen yang bertuliskan Laporan Hasil Peninjauan Tanah PT Sentra Loka Adyabuana. Satu lembar fotokopi Surat Perintah Kerja No: 024/PT.SA/IX/2014 tang­gal 1 September 2014 dari PT Sentraloka Adyabuana yang ditu­jukan kepada Suzanna Tanojo.

Penggeledahan pada Jumat, 14 Agustus 2015, penyidik menemu­kan dan menyita dokumen daftar aset kredit yang akan dilelang oleh BPPN tahun 2002-2003, hak tagih/cessie yang dibeli oleh VSIC hasil lelang oleh BPPN, beberapa cap stempel dan stempel tanda tangan dari perusahaan, baik perusahaan berbadan hukum asing maupun berbadan hukum Indonesia, dokumen surat menyurat VSIC yang dibuat dan ditandatangani Lita Rossela dan Ong Jee Moh selaku Direktur. ***

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

UPDATE

Prabowo Tetap Hadiri Peluncuran Buku Bahlil Meski Sedang Flu

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:26

KPK Panggil Pengelola Wisma Atlet Buntut Kasus Korupsi Bea Cukai

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:23

Sudaryono Diyakini Mampu Benahi Tata Kelola Program MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:20

Jangan Cepat Puas, Pengangguran Turun tapi Kualitas Pekerjaan Masih jadi PR

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:14

KPK Panggil Petinggi PAN Rejang Lebong di Pengembangan Kasus Bengkulu

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:04

Belum Ada Rencana Reshuffle, Istana Utamakan Isi Jabatan yang Kosong

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:54

BPK: Opini WTP Bukan Tujuan Akhir, Tata Kelola Harus Terus Diperkuat

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:42

Spoiler One Piece Chapter 1190: Duel Gaban vs Imu Memanas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:22

Istana Benarkan Destry Damayanti Masuk Bursa Gubernur BI

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:17

Daftar Harga Pertamax Terbaru di SPBU Pertamina Seluruh Indonesia

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:03

Selengkapnya