Berita

Foto/Net

X-Files

Polisi Australia Beberkan Catatan Kriminal Jessica

Nyetir Sambil Mabuk Hingga Coba Bunuh Diri
RABU, 28 SEPTEMBER 2016 | 08:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Torres saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin malam mengungkapkan, Kepolisian New South Wales memiliki 14 catatan kriminal atas nama Jessica. Mulai dari menyetir sambil mabuk, mengancam bekas pacar hingga melaku­kan percobaan bunuh diri.

Torres menuturkan, Jessica tertangkap menyetir sambil mabuk ketika polisi menggelar operasi. "Kami menguji na­pas Nona Wongso, ditemukan mengemudikan kendaraan bermotor dengan kisaran alkohol rentang menengah di dalam sistem tubuhnya," ujar Torres yang memberikan kesaksian didampingi penerjemah. Belakangan, Jessica kembali tertangkap me­nyetir sambil mabuk. Kali ini, kandungan alkohol di tubuhnya sangat tinggi.

Kemudian, bekas pacar Jessica Kumala Wongso saat di Australia, Patrick O'Connor pernahmelapor ke Kepolisian New South Wales pada November 2015 agar dijauhkan secara formal dari Jessica. Hal itu karena O'Connor menganggap kejiwaan Jessica tidak stabil dan dapat membahayakan keselamatannya.


"Tuan O'Connor memiliki kekhawatiran terhadap apa yang dilakukan Nona Wongso. Beliau meminta untuk mendapatkan perintah penjauhan dari Nona Wongso. Pada dasarnya, keta­kutan Tuan O'Connor bahwa hubungan mereka sudah berakhir atau sudah putus, dia (Jessica) memiliki permasalahan keseha­tan jiwa yang serius," kata Torres yang mengenakan jasa hitam ketika bersaksi di pengadilan.

Torres membeberkan, Jessica terus-menerus menghubungi O'Connor melalui SMSmau­pun telepon. Bahkan beberapa kali, Jessica mengancam bahwa akan menyakiti dirinya sendiri. Tak hanya terhadap O'Connor, Jessica juga kerap menghubungi dan coba mengancam teman-te­man serta keluarga O'Connor.

Menurut Torres, laporan adanya percobaan bunuh diri Jessica dengan karbon dioksida diterima pada Oktober 2015. Pelapor adalah bekas pacar Jessica, Patrick O'Connor yang menyebut ancaman percobaan bunuh diri disampaikan melalui pesan sing­kat (SMS).

"Polisi tiba di alamat Nona Wongso dan mencium bau kar­bon terbakar dari dalam apartemen," kata pria berkepala plontos dan bertubuh tinggi besar itu.

Dia mengatakan polisi menemukan pemanggang di kamar Jessica dan Jessica menutupi alarm asap dengan kantong plas­tik. O'Connor menduga Jessica ada dalam pengaruh alkohol atau obat-obatan tertentu. "Nona Wongso mengatakan dia depresi terkait pelanggaran tindak pi­dana mengemudi dengan kadar alkohol tinggi yang terjadi pada Agustus 2015," jelas Torres.

Polisi lalu membawa Jessica ke rumah sakit. Pulang dari ru­mah sakit, polisi kembali menerima laporan mengenai Jessica. "Patrick menerima pesan singkat dari Jessica yang mengatakan akan bunuh diri. Patrick juga mengatakan Jessica baru keluar dari Rumah Sakit Prince Hospital," kata Torres.

Polisi merespons laporan dan mendatangi apartemen Jessica. Polisi menemukan Jessica dalam kondisi mabuk. "Pada saat itu, Jessica mengakui dirinya mengonsumsi alkohol," sebut polisi senior di NSW Police Force itu.

Polisi menemukan satu botol whisky di kamar tidur dan tiga lembar surat di dapur. Surat pertama ditujukan untuk Patrick yang disebut bertanggung jawab atas kematiannya.

Surat kedua mengenai ucapan selamat tinggal yang ditujukan untuk keluarga dan rekan ker­janya. Surat ketiga ditujukan ke­pada keluarganya dan juga berisi uang. "Polisi yang menangani ini percaya bahwa surat-surat ini surat bunuh diri," kata Torres.

Rekan kerja Jessica di NSW Ambulance Australia, Kristie Louise Charter ikut memberikan kesaksian mengenai kepribadian Jessica di persidangan kasus ini.

Kesaksian itu termuat dalam dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Kristie yang dibacakan jaksa penuntut umum di persidangan.

"Jessica yang saya tahu se­lama saya kenal memiliki dua kepribadian yang berbeda. Kadang saya melihat Jessica seperti orang yang baik, murah senyum, namun tiba-tiba bisa langsung berubah menjadi pemarah kalau ada orang yang tidak mengikuti kemauannya," kata jaksa Melanie membacakan BAP Kristie.

Menurut Kristie, Jessica suka memanipulasi perhatian seseorang agar meraih simpati. Jessica disebutkan akan sangat marah atau bersikap dingin bila tak mendapat perhatian dari orang.

"Jessica orangnya licik dan suka berbohong dan mengada-ada untuk mendapat sesuatu yang diinginkan. Jessica seperti mengenakan topeng, kalau ada orang yang baru kenal Jessica tidak akan melihat adanya sikap menakutkan, kecuali orang-orang dekat atau ketika Jessica mendapat tekanan," ungkap Kristie.

Ketika diberi kesempatan menanggapi kesaksian Kristie yang dibacakan JPU, Jessice mengatakan keterangan rekan kerjanya itu bohong. "Bisa saya bilang 90 persen yang dibilang di BAP orang tersebut adalah bohong," kata Jessica.

Ia meminta keterangan Kristie dikesampingkan. "Saya tidak tahu apa yang dia dengar mengenai saya mengenai kasus ini. Keterangannya memberatkan saya terlalu parah. Itu semua bohong Yang Mulia. Terima kasih," pinta Jessica kepada majelis hakim.

Karakter Terdakwa

Pakar hukum pidana dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Chairul Huda berpenda­pat kesaksian yang disampaikan Torres di dalam persidangan bisa menjadi pertimbangan majelis hakim untuk memutuskan ter­dakwa Jessica. "Bisa saja untuk menjadi dasar penilaian karakter terdakwa," katanya.

Menurut dia, penilaian terhadap terdakwa bukan hanya dari perbuatannya tapi juga sikap batin serta karakter pelaku yang melakukan kesalahan itu. Kemudian, untuk menilai kesalahan diperlukan informasi yang bukan hanya menyangkut keadaan ke­jiwaan terdakwa ketika melaku­kan suatu perbuatan.

"Tetapi juga sebelumnya, sebelum melakukan kejahatan. Informasi semalam itu berharga bagi hakim untuk menilai keterangan terdakwa yang akan disampaikan pada sidang beri­kutnya," katanya. Rencananya, hari ini Jessica akan menjalani pemeriksaan sebagai terdakwa.

Wayan Mirna Salihin meregang nyawa setelah menenggak eskopi Vietnam di Kafe Olivier Grand Indonesia, yang dipesan Jessica. Jessica didakwa meracuni es kopi itu dengan sianida.

Kilas Balik
Jessica Sama Sekali Tidak Gelisah Diperiksa Polisi

Ahli psikologi klinis, Antonia Ratih Andjayani memberikan kesaksian mengenai kepribadian Jessica yang tenang menghadapi kasus kematian Wayan Mirna Salihin.

"Ketika Mirna minum, menghisap minumannya dengan sedotan dan mulai kipas-kipas kepanasan, yang kelihatan lang­sung panik adalah Hani, Jessica tenangsekali," kata Antonia saat bersaksi.

"Waktu dia berjalan untuk pesen minum air putih untuk menetralkan apapun yang dimi­num Mirna, gerakannya santai sekali, tidak ada kebergegasan," jelasnya.

Ratih menuturkan, saat Mirna kejang-kejang adalah situasi yang sangat genting. Posisi Jessica sebagai teman Mirna harusnya terlihat ada sedikit gestur khawatir.

"Sepanik apapun, setidak­berdaya apapun, apa iya, sebin­gung-bingungnya, akan ada gestur untuk membantu, gestur khawatir, untuk bisa bergerak secara sigap bukan reaksi yang tidak menolong," ujar Ratih.

Hal lainnya, menurut Ratih, Jessica tampak sibuk saat Mirna dan Hani belum datang. Ia juga tampak gelisah dengan menen­gok-nengok ke belakang. "Kalau hanya dari hasil observasi, kami bisa menyimpulkan dia gelisah," terang Ratih.

Jessica berpotensi memanipu­lasi gelas es kopi yang dipesan untuk Mirna. "Ada gerakan-ger­akan yang dilakukan. Meskipun tidak secara jelas diidentifikasi, gerakan terjadi. Setelah tenang, paper bag dirapikan," sebut Ratih yang menganalisa perilaku Jessica dari gambar rekaman CCTV.

Saat diperiksa penyidik Polda Metro Jaya, Jessica juga tampak tenang. Bahkan Jessica diperkirakan sudah memprediksi dan lebih dulu menganalisa pertanyaan penyidik.

"Yang bersangkutan merespons jawabandengan tegas, cepat. Yang bersangkutan mem­punyai daya analisa kritis," nilai Ratih.

Saat ditemui para psikolog, Jessica juga menampilkan sikap­nya yang santai dan tenang. Ratih menuturkan, dia dan rekan-rekan psikolog pernah memeriksa Jessica selama 6 jam.

"Dalam interaksi dengan saya, yang bersangkutan tampil dalam pribadi confident (percaya diriâ€"red) dan bukan hanya tenang saja juga tampak sekali tidak ada kegugupan," ucapnya.

Ratih menambahkan, seseorang yang berada di kantor poli­si pasti sangat gelisah. Dia me­nilai sikap Jessica yang tenangsaat diperiksa di kantor polisi tidak wajar. "Kemungkinan yang bersangkutan memang sudah tahu apa yang harus dia hadapi. Saya menemukan ada hal yang menarik di mana semua jawa­ban disampaikan dengan sangat tegas," tuturnya.  ***

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Posko Kesehatan PLBN Skouw Beroperasi Selama Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:03

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

Kapolri: 411 Jembatan Dibangun di Indonesia, Polda Riau Paling Banyak

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:47

Gibran Salat Id dan Halal Bihalal di Jakarta Bersama Prabowo

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:30

Bonus Atlet ASEAN Para Games Cair, Medali Emas Tembus Rp1 Miliar

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:05

Gibran Pantau Arus Mudik dari Command Center Jasa Marga

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:47

Pengusaha Kapal Minta SKB Lebih Fleksibel Atur Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:38

Pengiriman Pasukan RI ke Gaza Ditunda Imbas Perang Iran

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:25

Bias Layar: Serangan Aktivis KontraS Ancaman Demokrasi dan HAM

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:10

Istana Sebar Surat Edaran, Larang Menteri Open House Lebaran Mewah

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:06

Selengkapnya