Berita

Foto/Net

X-Files

Kejagung Usut Korupsi Pertamina Patra Niaga

Panggil 19 Saksi
RABU, 31 AGUSTUS 2016 | 09:52 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kejaksaan Agung mengusut kasus dugaan korupsi di Pertamina Patra Niaga. Anak usaha Pertamina itu diduga menilep uang pembayaran jasa transportasi dan handling pengiriman bahan bakar minyak(BBM) kurun 2010-2014.
 
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Muhammad Rum mengungkapkan, tim penyidik sudah memeriksa 19 orang saksi perkara dugaan korupsi ini. Pekan lalu, tim pe­nyidik memanggil lima pejabat Pertamina Patra Niaga untuk menjalani pemeriksaan di ge­dung bundar.

Mereka yakni Teuku Harmansyah SB Ali (Legal Corporatian Manager), BLNoor Mandiri (Legal Coordinator), Indra Wahyu Maniadi (General Manager Key Officer 2010-2014), Yoyok (General Manager Area Kalimantan Timur 2012-2014), dan Prasetyo Budi Wicaksono (Sales Manager Area Kalimantan Timur 2009-2014).


"Penyidik masih mendalami keterangan saksi-saksi tersebut," kata Rum di Kejaksaan Agung kemarin.

Rum mengatakan, para peja­bat Pertamina Patra Niaga itu dicecar soal proses penyusunan kontrak kerja sama jasa transpor­tasi serta dan handling pengiri­man BBM untuk PT Total E & PIndonesia (TEPI).

"Penyidik juga mencecar pengaturan BBM untuk PT TEPI dan supply point ke delivery point pada Juli 2010 hingga Desember 2014," sebutnya.

Tak hanya itu, tim penyidik juga mengorek pelaksanan trans­portasi dan handling BBM yang dilakukan PT Hanalien dan PT Ratu Energy Indonesia (PT REI), hingga pembayarannya kepada PT REI.

Kasus ini berawal ketika Pertamina Patra Niaga meneken kontrak kerja sama jasa transportasi dan handling pengiriman BBM untuk wilayah Kalimantan BBM dengan PT TEPI.

Pertamina Patra Niaga kemu­dian menggandeng PT Hanalien dan PT REI untuk menyediakan jasa pengirimanBBM guna keperluan di wilayah eksplorasi PT TEPI.

Untuk membayar jasa rekanan PT REI, Pertamina Patra Niaga mengajukan anggaran Rp 72,15 miliar ke Pertamina. Dana tersebut akhirnya cair. Namun dana Rp 72,15 miliar itu tidak dibayarkan kepada PT REI. "PT Patra Niaga diduga melakukan pembayaran fiktif kepada PT REI untuk jasa transportasi dan handling BBM," jelas Rum.

Akibatnya, negara diduga dirugikan miliaran rupiah. Rum mengatakan penyidik gedungbundar telah berkoordinasi dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk menghitung keru­gian negara dalam perkara ini.

PT Pertamina Patra Niaga adalah anak perusahan dari PT Pertamina. Menurut situs www.pertaminapatraniaga.com, pe­rusahaan ini berkantor pusat di Gedung Wisma Tugu II Lantai 2 Jalan HR Rasuna Said Kavling C 7-9 Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan.

Perusahaan ini awalnya ber­nama PT Elnusa Harapan ketika didaftarkan di notaris pada 1997. Kemudian pada 2004 diubah menjadi PT Patra Niaga.

Patra Niaga bergerak di bidang usaha sektor hilir industri minyak dan gas (migas). Perusahaan ini menawarkan jasa perdagangan BBM, penanganan BBM, manajemen armada trans­portasi pengiriman BBM, mana­jemen depot BBM, silinder LPG hingga pemeliharaan operasi.

Pada 2011, PT Pertamina (Persero) mulai menyelaraskan semua logo anak perusahaannya. Logo dan nama PT Patra Niaga diubah menjadi Pertamina Patra Niaga.

Tahun ini, Pertamina Patra Niaga menargerkan perolehan laba bersih sebesar 175 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 2 triliun. Tahun lalu, perusahaan ini hanya meraup laba bersih sebesar 67 juta dolar Amerika atau sekitar Rp 925 miliar.

Kilas Balik
Polisi Tetapkan Dua Tersangka Kasus Pertamina Foundation

Kepolisian juga mengusut kasus dugaan korupsi di tu­buh BUMN migas, Pertamina. Badan Reserse Kriminal Mabes Polri menyidik dugaan koru­psi penyaluran dana CSR untuk program penanaman 100 juta pohon. Program itu dikerjakan Pertamina Foundation.

Dalam perkara ini, peny­idik sudah menetapkan bekas Direktur Pertamina Foundation, Nina Nurlina sebagai tersangka. Februari lalu, penyidik kembali menetapkan tersangka.

"Sementara masih dua ter­sangka, itu (Nina Nurlina, bekas Direktur Pertamina Foundation), dan Akbar," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigadir Jenderal Bambang Waskito di Markas Besar Polri, Jakarta, 19 Februari 2016.

Bambang tidak merinci siapa Akbar yang baru saja ditetapkan sebagai tersangka itu. Bambang hanya mengatakan, Akbar sudah lama dijerat penyidik dalam kasus tersebut.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Tindak Pidana Pencucian Uang Komisaris Besar Golkar Pangarso menuturkan tersangka yang dimaksud berini­sial WA. "Dia stafnya tersangka NN (Nina)."

Menurut Golkar, WA sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak 2015 lalu. Hanya saja Polri tidak mengumumkannya. "Kami tidak pernah mengumumkan ter­sangka. Tahu-tahu dipanggil saja sebagai tersangka saja. Itu pun tidak pernah kami umumkan, kami berbeda," kata Golkar.

Dalam kasus ini, Nina sudah lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka. Perempuan yang juga dikenal sebagai salah satu calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini diduga seba­gai inisiator program bermasalah tersebut.

Dalam pelaksanaannya, ditemukan pemalsuan tanda tan­gan petani, tanda tangan kepala desa, lurah dan stempel kelura­han. Selain itu, pohon yang di­laporkan telah ditanam ternyata tidak seluruhnya ditemukan alias fiktif.

Nina beberapa kali kali dipang­gil ke Bareskrim untuk menjalani pemeriksaan. Penyidik juga me­minta keterangan bekas Direktur PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan, sebagai saksi.

"Dia diperiksa karena dana CSR itu kan dari Pertamina, kami ingin tahu bagaimana," kata Golkar.Keterangan yang diberikan Karen kemudian dikon­frontasi dengan pengakuan Nina Nurlina.

Bambang mengatakan, Nina juga bisa dijerat melakukan tindak pidana pencucian uang. "Unsur pencucian uang itu dapat kami kejar jika pidana pokoknya, yakni korupsi, sudah tuntas. Nah, saat ini kami fokus ke melengkapi berkas perkara soal unsur korupsinya terlebih dahulu," katanya.

Pertamina mengelontorkan dana ratusan miliar ke Pertamina Foundation untuk program pena­naman 100 juta pohon di seluruh Indonesia. Pelaksanaan program ini melibatkan relawan.

Penyidik menemukan bukti dugaan korupsi dalam pelak­saaan program. Sebagian dana program yang ditilep. Modusnya dengan memalsukan tanda tangan relawan agar dana bisa dicairkan. Kemudian dalam laporan pro­gram kemudian ditulis penana­man pohon sudah dilaksanakan.

Diperkirakan, kerugian negaraperkara ini mencapai Rp 226,3 miliar. Namun jumlah pasti­nya masih Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). ***

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

UPDATE

Prabowo Tetap Hadiri Peluncuran Buku Bahlil Meski Sedang Flu

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:26

KPK Panggil Pengelola Wisma Atlet Buntut Kasus Korupsi Bea Cukai

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:23

Sudaryono Diyakini Mampu Benahi Tata Kelola Program MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:20

Jangan Cepat Puas, Pengangguran Turun tapi Kualitas Pekerjaan Masih jadi PR

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:14

KPK Panggil Petinggi PAN Rejang Lebong di Pengembangan Kasus Bengkulu

Jumat, 07 Agustus 2026 | 16:04

Belum Ada Rencana Reshuffle, Istana Utamakan Isi Jabatan yang Kosong

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:54

BPK: Opini WTP Bukan Tujuan Akhir, Tata Kelola Harus Terus Diperkuat

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:42

Spoiler One Piece Chapter 1190: Duel Gaban vs Imu Memanas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:22

Istana Benarkan Destry Damayanti Masuk Bursa Gubernur BI

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:17

Daftar Harga Pertamax Terbaru di SPBU Pertamina Seluruh Indonesia

Jumat, 07 Agustus 2026 | 15:03

Selengkapnya