Berita

Amran HI Mustary/Net

X-Files

Kepala BPJN IX Dijebloskan Ke Rutan Polres Jakarta Pusat

Kasus Gratifikasi Proyek Jalan Di Maluku
RABU, 24 AGUSTUS 2016 | 09:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

KPK kembali memeriksa Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX, Amran HI Mustary sebagai tersangka kasus gratifikasi proyek jalan di Maluku-Maluku Utara. Usai diperiksa, Amran dijebloskan ke tahanan.
 
"Ditahan selama 20 hari ke depan di Rutan Polres Jakarta Pusat," kata Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati.

Amran ditetapkan sebagai ter­sangka kasus gratifikasi sejak 27 April 2016. Ia diduga menerima uang miliaran rupiah dari sejum­lah pengusaha yang ingin meng­garap proyek di BPJN IX.


Dalam surat dakwaan Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama, Abdul Khoir, Amran dis­ebutkan beberapa kali meminta uang. Awalnya, Khoir diperke­nalkan dengan Amran oleh Hong Arta John Alfred, Direktur PT Sharleen Raya di hotel dekat Atrium Senen, Jakarta Pusat pada 12 Juli 2015.

Pada pertemuan itu, Amran meminta uang Rp 8 miliar ke­pada Khoir dan Alfred guna membayar keperluan suksesinya menjadi Kepala BPJN IX. Bekas Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Maluku Utara itu lantas menjanjikan akan memberikan proyek pada Khoir dan John Alfred pada tahun 2016.

Keduanya lalu urunan. Esok harinya uang Rp 8 miliar untuk Amran diserahkan lewat peran­tara Herry. Namun Herry hanya menyerahkan Rp 7 miliar kepada Amran. Lantaran ada uang yang diambil Herry, Amran kembali meminta uang sebesar Rp 2 mil­iar pada Khoir.

Pada akhir bulan Juli 2015, Khoir mendapat informasi dari Amran bahwa akan ada proyek dari program aspirasi DPR di BPJN IX. Amran lantas meminta fee sebesar Rp 3 miliar kepada Khoir untuk mengupayakan agar proyek program aspirasi DPR bisa digarap perusahaan Khoir.

Untuk memenuhi permintaan itu, Khoir urunan dengan Henock Setiawan alias Rino, Charles Fransz alias Carlos, Alfred serta Aseng hingga terkumpul yang Rp 2,6 miliar. Uang dalam bentuk dolar Amerika itu untuk Amran diserah­kan lewat Imran S Djumadil, bekas anggota DPRD Maluku Utara.

Ketika bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Khoir men­gungkapkan alasan Amran me­minta uang Rp 8 miliar kepada dirinya. "Pak Amran bilang dia perlu dana untuk keperluan suk­sesi beliau sebagai Kepala Balai sama THR untuk pimpinan­nya," ujarnya dalam persidangan Kamis, 12 Mei 2016.

Khoir mengaku terpaksa me­menuhi permintaan Amran, lantaran takut dipersulit menda­patkan proyek di BPJN IX.

Pada awal Desember 2015, menurut Khoir, Amran kem­bali meminta uang sebesar Rp15 miliar kepada dirinya, So Kok Seng alias Aseng (Komisaris PT Cahaya Mas Perkasa) dan John Alfred. Masing-masing diminta Rp 5 miliar.

"Saya sampaikan, kita tidak punya duit. Tapi Amran telepon-telepon saya terus. Kemudian dia tanya, adanya berapa?" tutur Khoir.

Tidak berhenti di situ pada 21 Desember 2015, Amran kembali mendatangi Khoir dan meminta uang sebesar Rp 2 miliar untuk THR Natal.

Atas perbuatannya, Amran dis­angka melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana di­ubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 junto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat 1 KUHP.

Perkara Andi Taufan Tiro

Kemarin, KPK mulai memang­gil saksi untuk perkara anggota Komisi V DPR Andi Taufan Tiro. Kepala Kelompok Kerja Wilayah I BPJN IX Maluku Utara, Navy Anugerah dimintai keterangan mengenai proyek jatah Andi.

Andi ditetapkan sebagai ter­sangka kasus suap proyek jalan di BPJN IX pada 27 April lalu, ber­samaan dengan Amran. Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu diduga menerima suap agar proyeknya dikerjakan Khoir.

Kasus serupa yang menjerat anggota Komisi V Damayanti Wisnu Putranti (Fraksi PDIP) dan Budi Supriyanto (Fraksi Golkar). ***

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Posko Kesehatan PLBN Skouw Beroperasi Selama Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:03

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

Kapolri: 411 Jembatan Dibangun di Indonesia, Polda Riau Paling Banyak

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:47

Gibran Salat Id dan Halal Bihalal di Jakarta Bersama Prabowo

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:30

Bonus Atlet ASEAN Para Games Cair, Medali Emas Tembus Rp1 Miliar

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:05

Gibran Pantau Arus Mudik dari Command Center Jasa Marga

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:47

Pengusaha Kapal Minta SKB Lebih Fleksibel Atur Arus Mudik

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:38

Pengiriman Pasukan RI ke Gaza Ditunda Imbas Perang Iran

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:25

Bias Layar: Serangan Aktivis KontraS Ancaman Demokrasi dan HAM

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:10

Istana Sebar Surat Edaran, Larang Menteri Open House Lebaran Mewah

Selasa, 17 Maret 2026 | 16:06

Selengkapnya