Berita

willem-jokowi

Asing Sampai Ikut Atasi Asap, Bukti Willem Tak Becus Pimpin BNPB

SABTU, 10 OKTOBER 2015 | 19:07 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Anggota Komisi VIII DPR Chatibul Umam Wiranu menilai kabut asap yang meresahkan masyarakat di Kalimantan dan Sumatera semestinya sudah bisa diatasi. Apalagi, anggaran yang dipergunakan untuk memadamkan kebakaran hutan sudah terlalu banyak.

"Sejauh ini, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sudah menghabiskan lebih dari 500 M untuk pemadaman titik api. Hasilnya nihil. Uang sebanyak itu sekarang berubah jadi abu, namun kebakaran masih terjadi dan asap semakin mengganggu," ujar Chatibul Umam Wiranu dalam keterangannya malam ini (Sabtu, 10/10).

Menurutnya, asap tersebut belum juga bisa diatasi karena Willem Rampangilei, Kepala BNPB yang dilantik Presiden Joko Widodo pada 7 September bulan lalu, tidak cakap memimpin lembaga tersebut.


BNPB sebagai leading sector dalam mengatasi asap  juga sangat memalukan. Sebab, negara-negara lain terpaksa dilibatkan untuk memberikan bantuan memadamkan kebakaran hutan.  Dia menjelaskan kalaupun nanti titik-titik api sudah mati dan asap telah hilang, dipastikan itu bukan prestasi Kepala BNPB. Tetapi, itu adalah karena bantuan asing dan juga karena hujan yang sudah mulai turun.

"Kita tidak menyalahkan bantuan asing. Namun, melibatkan pihak asing, itu sama saja dengan membuka jalan bagi pihak luar untuk mengetahui secara detail daerah teritorial Indonesia. Padahal, daerah teritorial Indonesia adalah wilayah eksklusif yang harus dilindungi," tegasnya.

Selain itu, bekas deputi di Kantor Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani tersebut juga dinilai kurang kooperatif dengan komisi VIII, mitra BNPB di DPR.
 
Pada Senin (12/10) komisi VIII memanggil kepala BNPB. Tetapi dengan dalih sedang memantau pemadaman api yang tidak padam-padam itu, Willem Rampangilei meminta dijadwal ulang.

Padahal, jelas Chatibul pihaknya ingin mendengarkan penjelasan apa yang telah dilakukannya dalam memadamkan titik-titik api yang ada. Karena komisi VIII juga sangat resah dengan kondisi saat ini.

"Dengan sikap seperti ini, kita khawatir terhadap masa depan BNPB. Kalau pemerintahan yang lalu, itu sangat kooleratif. Kita selalu mendapatkan penjelasan yang meyakinkan," pungkasnya. [zul]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya